Perbaiki Kualitas Film Nasional Sebelum Mengundang Bioskop Asing

NERACA

Jakarta – Kualitas film produksi dalam negeri masih harus ditingkatkan sebelum Indonesia membuka kesempatan bagi investor asing untuk membangun gedung bioskop di negeri ini. Hal itu ditegaskan oleh Anggota komisi X DPR, Tubagus Deddy Suwandi Gumelar dan Akbar Zulfakar yang dihubungi terpisah, pekan lalu. Keduanya menilai, masuknya bioskop asing saat ini hanya memberikan dampak negatif bagi pembentukan karakter budaya bangsa.

Deddy Gumelar, mantan pelawak yang akrab disapa Miing Bagito itu menilai, sebelum investor asing masuk terlalu jauh ke bisnis bioskop di tanah air, sebaiknya kondisi perfilman di Indonesia terlebih dulu didorong agar menghasilkan film yang bermutu.

Menurut Deddy, pemerintah sebaiknya dapat memberikan insentif bagi tumbuhnya industri film nasional, atau membangun studio film agar tidak perlu pergi ke luar negeri. "Saat ini, regulasi kurang mendukung, ditambah infrastruktur yang minim. Dalam kondisi demikian, kok justru memberikan peluang bagi bioskop asing untuk masuk. Ini bisa menghancurkan inustri perfilman di Indonesia," ungkapnya.

Dedy menambahkan, meskipun sudah tumbuh, namun industri perfilman di Indonesia belum menjadi raja di negeri sendiri. Menurut dia, sineas-sineas berbakat dalam negeri hendaknya juga dapat membangun kemitraan dengan pemerintah. "Jangan alergi dengan pemerintah dalam meningkatkan perfilman di Indonesia. Selain itu, semua pihak harus mendorong regulasi yang kondusif bagi industri perfilman," tuturnya.

DPR sebenarnya telah mendorong pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk memberikan subsidi bagi sineas-sineas dalam negeri yang ingin membuat film bertemakan nasionalisme, sejarah dan perjuangan. "Namun, sampai saat ini saya belum pernah dengar ada yang menggunakan dana tersebut," ujar Deddy.

Jika kondisi perfilman Indonesia tidak beranjak dari kondisi terpuruk seperti saat ini, maka Deddy mengkhawatirkan masuknya investor asing yang berniat membangun bioskop di Indonesia menjadi ancaman serius bagi Indonesia. Tidak saja bakal melibas film-film nasional, masuknya bioskop asing juga bakal mengancam kedaulatan budaya bangsa. Hal itu, menurut Deddy, karena bioskop tidak sekedar menjadi sarana hiburan belaka, melainkan dapat mempengaruhi karakater budaya bangsa dari dampak film yang diputar di bioskop-bioskop asing nantinya.

Pernyataan senada disampaikan, Akbar Zulfakar, Anggota Komisi X DPR RI, menyatakan rencana masuknya bioskop asing jangan sekedar dilihat dari keuntungan ekonomis saja, melainkan juga perlu dipertimbangkan dampaknya terhadap karakter bangsa. "Jangan sampai Presiden yang gencar menyuarakan untuk mengokohkan karakter bangsa malah terbantahkan sendiri oleh kebijakan Menterinya," tuturnya yang juga Ketua Umum Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI).

Dia menambahkan, bioskop yang masuk dalam Daftar Negatif Investasi (DNI) harus lah menjadi pertimbangan mendasar untuk tidak memberikan ruang bagi investor asing saat ini. "Kalau memang sudah jelas regulasinya, saya pikir rencana itu sebaiknya ditolak saja," papar Akbar.

Intervensi Kebudayaan

Deddy menilai investasi bioskop yang dilakukan oleh investor asing merupakan sebuah intervensi kebudayaan. Menurut dia, investasi itu berbeda dengan investasi di bidang industri otomotif dan telekomunikasi yang jelas-jelas memberikan nilai tambah. "Kalau sampai mereka diberi izin, artinya pemerintah tidak punya komitmen untuk menjaga budaya bangsa," tegas anggota dewan yang kerap disapa Miing itu.

Andai saja bioskop Lotte Group diberi ijin membangun seratus layar--seperti yang digembar gemborkan selama ini, menurut Deddy, mereka bakal mendatangkan film-film produksi asli Korea untuk diputar di Indonesia. “Apakah ada yang dapat mengontrol dampaknya?” ujarnya.

Deddy merujuk pada gencarnya serbuan budaya K-Pop, utamanya asal Korea Selatan, saat ini saja sudah mempengaruhi anak muda Indonesia. "Siapa yang dapat menjamin dengan hadirnya bioskop asing itu tidak ada dampak buruk bagi generasi bangsa ini? Pemerintah haruslah memiliki visi kebudayaan yang jelas," imbuhnya.

Dedy menyarankan agar pemerintah bersikap selektif dalam menghadapi serbuan investor asing, khususnya yang berkaitan dengan gegar budaya. "Jangan sampai faktor ekonomi yang menjadi prioritas, perlu dilihat juga faktor dampak buruk yang bakal terjadi," ungkapnya.

Sementara itu, Akbar mengungkapkan, jika memang akhirnya rencana Lotte Group terealisir, apa benar akan laku di dalam negeri?. "Saya liat sekarang banyak anak-anak yang lebih suka mengunduhnya melalui internet, mereka juga perlu berpikir soal prospek bisnisnya," tukas Akbar.

BERITA TERKAIT

MD Picture Bikin Perusahaan Patungan - Bidik Pasar Film Korea dan Cina

NERACA Jakarta – Perluas market share dan genjot produksi film lebih besar lagi, PT Multi Dimensia (MD) Picture bakal mencari…

Rp7,1 Triliun Dana Asing Masuk Ke Pasar Keuangan

  NERACA Jakarta - Modal asing yang masuk ke pasar keuangan terutama melalui Surat Berharga Negara mencapai Rp7,1 triliun dalam…

Jokowi Minta Perbaiki Pola Penyerapan Anggaran

      NERACA   Bogor - Presiden Joko Widodo meminta para menteri dan ketua lembaga memperbaiki pola penyerapan anggaran…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Strategi Niaga - Pemerintah Perlu Lobi Amerika Terkait Ancaman Pencabutan GSP

NERACA Jakarta – Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai, pemerintah perlu melobi pemerintah Amerika Serikat terkait potensi pencabutan fasilitas…

BPPSDMP Kementan Terus Ikhtiar Cetak Wirausaha Pertanian

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) mengambil langkah strategis dengan penyediaan sumber daya…

Terkait Industri Otomotif - Presiden Perlu Pimpin Langsung Peralihan ke Kendaraan Listrik

NERACA Jakarta – Pengamat ekonomi Faisal Basri berpendapat, Presiden Joko Widodo perlu memimpin langsung program peralihan kendaraan konvensional berbahan bakar…