Waspadai Cadangan Bahan Bakar Fosil yang Kian Menipis

Oleh Agus S. Soerono

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Para ahli geologi memperkirakan cadangan bahan bakar dari fosil seperti migas dan batubara kian menipis. Mereka yang pesimistis memperkirakan bahan bakar fosil itu hanya cukup dipakai untuk 44 tahun ke depan. Setelah menyimak berbagai pendapat para ahli itu maka sudah sepatutnya kita mulai lebih menganekaragamklan dan menggunakan bahan bakar selain migas dan batubara. Di luar migas dan batubara masih banyak sumber daya alam yang bisa dipergunakan dan jumlahnya sangat berlimpah seperti tenaga surya, panas bumi, angin, air, samudera, coal bed methane (CBM), bioethanol dan lainnya yang belum termanfaatkan secara optimal.

Selagi kita berada dalam bulan Juni yang dikenal sebagai bulan lingkungan, maka sudah sepatutnya penggunaan energi alternatif yang bisa terbarukan tersebut lebih diintensifkan. Sebab kalau tidak dimulai sekarang, dikhawatirkan kita akan tertinggal dalam penggunaannya.

Dalam penggunaan tenaga surya misalnya, pemerintah dinilai masih belum bersungguh-sungguh hendak memanfaatkannya secara optimal. Padahal negeri yang berada di sabuk khatulistiwa ini, mempunyai sumber daya panas surya yang berlimpah.

Kita tinggal menggerakkan dan memasang sel panel surya di gedung-gedung yang ada di kota besar untuk menangkap tenaga matahari itu guna dimanfaatkan bagi gedung perkantoran itu. Dari penggunaan panel surya itu, tentu banyak sekali bahan bakar fosil dan devisa yang bisa dihemat.

Yang perlu dilakukan oleh pemerintah sebagai inisiator adalah memberikan insentif bagi dimanfaatkannya panel surya itu. Kalau merujuk pengalaman negara maju, mereka bahkan memanfaatkan ladang panel surya yang luasnya puluhan hingga ratusan hektare untuk menangkap energi listrik dari tenaga panas surya itu. Kenapa Indonesia yang mempunyai panas mentari yang tak terhingga potensinya itu, tidak memanfaatkannya?

Pemerintah bisa mendorong dengan memberikan insentif pajak untuk memproduksi panel surya secara murah dan massal, menyerap energi yang berlebih dari pemilik gedung ke jaringan listrik PLN dan sebagainya.

Dari sisi sumber daya air, pemerintah dapat memperbanyak penggunaan tenaga pembangkit double dam yang bisa menghemat penggunaan air. Air yang sudah dipergunakan untuk memutar turbin pembangkit, diangkat ke waduk kedua yang ada di atas waduk pertama. Begitu pula penggunaan bioethanol dari bahan jarak pagar, yang seolah menjadi isu politis yang bersifat sporadis saja dan tak kunjung terealisasi. Hal itu harus segera dipersiapkan dan dilaksanakan sekarang, agar kita tidak tertinggal dalam penggunaan energi terbarukan itu. Atau kita tidak akan pernah sempat menggunakannya sama sekali, kalau terus ditunda-tunda.

BERITA TERKAIT

Destinasi Wisata yang Fotogenik di Indonesia

Tahun lalu, sebanyak 13,7 juta turis mancanegara telah berkunjung ke Indonesia. Tahun ini, Kementerian Pariwisata  berencana untuk meningkatkan jumlahnya menjadi…

YLK Sumsel Imbau Masyarakat Waspadai Kosmetika Ilegal

YLK Sumsel Imbau Masyarakat Waspadai Kosmetika Ilegal NERACA Palembang - Yayasan Lembaga Konsumen Sumatera Selatan mengimbau masyarakat setempat untuk mewaspadai…

Waspadai Bitcoin Sarana Pencucian Uang

Jakarta-Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mewaspadai perkembangan Bitcoin dan Fintech di Indonesia. Pasalnya, muncul dugaan jika mata uang…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Benang Kusut Impor Beras

Musim panen beras diperkirakan pada Februari-Maret 2018. Dengan kata lain di waktu tersebut pasokan beras bakal meningkat. Namun jika ditambah…

Produksi dan Konsumsi Beras Nasional: - Pemerintah Dituding Tidak Miliki Data

Harga beras terus meroket di pasaran. Badan Pusat Statisk (BPS) mencatat sampai dengan minggu ke-2 Januari ini, kenaikan harga beras…

Swasembada Beras, Sebatas Janji Manis

Wakil Ketua DPP Partai Gerindra Arief Poyuono mengatakan bahwa swasembada beras terbukti hanya janji manis Presiden Joko Widodo. Sudah hampir…