Ada Wacana Revisi Kepemilikan Asing di Asuransi

NERACA

Jakarta –Pemerintah didesak segera merevisi kebijakan terkait ketentuan yang membolehkan kepemilikan saham asuransi oleh asing sebesar 80% dari modal minimum Rp 100 miliar. Alasanya penetrasi asing akan semakin kuat di setiap sektor lembaga keuangan maupun non keuangan nasional.

Menurut praktisi asuransi, Herris B Simandjuntak, regulator harus segera merevisi kebijakan terkait ketentuan modal minimum asuransi agar penetrasi asing dapat diminimalisir. “Tapi menurut saya tetap saja, regulator harus cari cara supaya semua jangan dikuasai asing”, tandasnya ketika ditemui Neraca seusai penganugrahan asuransi di Jakarta, Jumat (22/6).

Namun begitu, kata Komisaris Recapital Invesment Group, ketentuan 80% saham boleh dimilki asing adalah dilematis. Tapi hal ini tidak menutup kemungkinan ada investor lokal yang berminat dan mampu. “Memang ini dilematis. Artinya kalau kita bertahan semuanya harus nasional, problemnya juga pemegang saham tidak mampu memenuhi. Tapi kalau kita bisa kenapa harus ada orang lain,” tegasnya.

Hal lain yang memberatkan, lanjut Herris, yakni ketentuan minimum RBC sebesar 125% masih sulit dipenuhi asuransi nasional. “Kecukupan 125% ini masih banyak perusahaan asuransi nasional yang belum bisa memenuhinya,” terangnya.

Menurut Herris, kepemilikan asing 80% harusnya hanya untuk diawal dan selanjutnya harus ada ketentuan nasional bisa buyback dan memperbesar porsi hingga 100%. “Bagus kalau nanti untuk awalnya modal nasional kecil tapi ada kesempatan untuk menambah porsi setelah berjalan. Ini perlu didukung”, tekannya.

Data 2011 menyebutkan, lima top asuransi Jiwa yang telah dikuasai asing, yakni Prudential Life Assurance dengan aset Rp 30,9 triliun, AIA Financial dengan aset Rp 22,72 triliun, AJB Bumiputera 1912 dengan aset Rp 20 triliun, Manulife Indonesia dengan aset Rp 17,683,679 dan Alianz Life dengan aset Rp 11,711,661.

Minat Investor Lokal Minim Lembaga asuransi, lanjut Herris merupakan lini usaha yang haus permodalan, karenanya bagaimana membangun asuransi jika permodalan saja tidak mencukupi. “Asuransi butuh untuk ekspansi, untuk operasional untuk bertahan, untuk maju. Gimana mau maju kalau tidak ada modal. Sementara yang punya modal ini asing”, cetusnya.

Herris menambahkan lima perusahaan asuransi jiwa telah dikuasai asing sementara nasional hanya bisa bertahan deretan lima teratas untuk asuransi umum. **maya

BERITA TERKAIT

Premi Asuransi Budidaya Udang Mencapai Rp1,48 miliar

  NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat program asuransi usaha budi daya udang (AUBU) diikuti oleh 2.004 pembudidaya di…

Pengamat: Penenggelaman Kapal Asing Sesuai UU Perikanan

Pengamat: Penenggelaman Kapal Asing Sesuai UU Perikanan NERACA Jakarta - Pengamat hukum Universitas Bung Karno Azmi Syahputra menyatakan langkah penenggelaman…

CIMB Group Naikkan Kepemilikan Saham Principal

      NERACA   Jakarta - CIMB Group Holdings Berhad (CIMB Group) menyampaikan pengumuman bahwa pihaknya telah menandatangani perjanjian…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

“Bubble” Bitcoin Berbahaya Bagi Stabilitas

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) kembali mengingatkan larangan keras untuk bertransaksi dengan mata uang krypto, salah…

BTN Syariah Luncurkan Aplikasi Fintech Khusus Santri

      NERACA   Bogor - Unit Usaha Syariah (UUS) PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. terus menggelar kemitraan…

Laba Bank Jatim Tumbuh 12,7%

      NERACA   Jakarta - PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) mencatatkan kinerja yang positif. Bank…