PPI Optimis Capai Omzet Rp4 Triliun

NERACA

Jakarta - PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) menargetkan omzet penjualannya mencapai Rp4 triliun pada akhir tahun 2012. Pasalnya sejak 7 tahun lalu, performa kinerja perusahaan plat merah ini terus membaik. Dengan nilai transaksi sebesar itu, Direktur Utama PT PPI Heinrych Napitupulu, berharap perseroan akan mengantungi laba bersih antara Rp50 sampai Rp60 miliar tahun ini.

”Laba bersih ditarget sekitar Rp50-60 miliar pada akhir tahun. Tapi tahun 2005, penjualan kami cuma sekitar Rp600 miliar. Itu dalam posisi rugi. Kemudian dengan kerja keras, kinerja kita tiap tahun naik terus,” ujarnya usai membuka pasar murah dalam rangka haru ulang tahun PT PPI ke-9 di kantornya, Sabtu (23/6).

Sementara, selama semester I tahun 2012, PPI sudah mengkantongi laba sebesar Rp20 miliar dengan total penjualan Rp1,6 triliun. Heinrych mengakui perlu kerja keras untuk mencapai target tahun ini. Menurut dia, pengaruh nilai tukar rupiah terhadap dolar akan mempengaruhi laba yang akan ditargetkan. “Nilai tukar lemah, maka bisa mengerus kita punya laba, tapi bagaimana pun juga kita berusaha mencapai paling tidak menyentuh Rp40 miliar,” terangnya.

Heinrych mengatakan, yang harus dilakukan ke depan adalah memfokuskan komoditi yang diperdagangkan, di samping mencoba mengembangkan komoditi tambahan baru yang dapat dijual melalui online. ”Sebenarnya kalau kita lihat komposisi portfolio PPI ada 6 divisi. Yakni agro, pupuk, pestisida, konsumer prodak, bahan kimia dan bahan bangunan. Kalau dibagi dari sistim portfolio, omzet ini tidak jauh beda, antara diatas 15% hingga 20% semua. Dan semua berkembang dengan cukup baik,” paparnya.

Sementara, apabila dilihat dari komposisi laba, untuk kontribusi pupuk subsidi sekitar 1,8%. Heinrych menjelaskan karena pupuk subsidi memang diatur oleh pemerintah dangan harga eceran teringgi, sehingga kontribusinya tidak terlalu besar. Sedangkan untuk bahan bangunan, seperti semen setiap tahunnya PPI melakukan penjualan hampir 700.000 ton. “Marginnya (untung) memberikan kontribusi 5-6%, masih relatif rendah dibanding dengan yang lain,” lanjutnya.

Dia mengungkapkan, komoditi yang memberikan kontribusi laba cukup baik adalah dari bahan-bahan kimia yang diatas 10-15%. “Kalau ditotal rata-rata semua labanya sekitar 2%. Namun untuk distribusi transaksi net margin (laba bersih) kita dengan angka segitu sudah cukup baik. Yang jelas, bahwa pertumbuhan dari pada modal dan pertumbuhan bisnis itu, lebih cepat dari pada pertumbuhan permodalan. Jadi kita harus menyikapi untuk memanfaatkan sehingga take over kita jadi baik,” ujarnya.

BERITA TERKAIT

APLN Optimis Borneo Bay City Diserap Pasar - Geliat Infrastruktur di Kaltim

NERACA Jakarta – Selain ekspansi bisnis di luar pulau Jawa, seperti ke Batam, PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) juga…

WTON dan WEGE Raih Kontrak Rp 20,22 Triliun

NERACA Jakarta – Di paruh pertama 2018, dua anak usaha PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mencatatkan total kontrak yang akan…

SMF Salurkan Pembiayaan KPR Rp4,3 Triliun

      NERACA   Jakarta - PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF telah menyalurkan pinjaman kepada penyalur kredit…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Niaga Domestik - Pemerintah Siapkan Intervensi Pasar Jika Harga Telur Bertahan

NERACA Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) berupaya untuk menurunkan harga daging ayam ras dan telur secara bertahap dalam waktu…

China Tanda Tangani Pembelian Kelapa Sawit Indonesia

NERACA Jakarta – Beberapa pengusaha China menandatangani kontrak pembelian kelapa sawit dan produk turunannya dari Indonesia senilai 726 juta dolar…

Gencar Pembangunan, Potensi Bisnis Desain dan Interior Kian Mentereng

NERACA Jakarta - Gencarnya  pembangunan sektor properti baik perumahan, apartemen, ruko, hingga gedung perkantoran dan lainnya memicu demand terhadap kebutuhan…