Saham Bakrie and Brother Terancam Ditinggal Investor - Resah Opsi Bayar Utang Belum Jelas

Neraca

Jakarta – Rencana PT Bakrie and Brother Tbk (BNBR) mengeluarkan tiga opsi tutupi utang yang jatuh tempo senilai US$ 437 juta dengan berutang atau gali lobang tutup lobang, mulai diresahkan para kreditur perseroan. Pasalnya, selain opsi pembayaran utang yang belum jelas juga saham Bumi Plc sebagai jaminan terus turun.

Menurut analsis Indosurya Asset Management Reza Priyambada, keresahan dan ketidak jelasan pembayaran utang makin memperburuk kondisi BNBR dan terlebih soal opsi tersebut,”Se harusnya dapat dibicarakan kepada khalayak terutama investor. Karena hal ini berkaitan dengan kepercayaan investor,”katanya kepada Neraca di Jakarta, Rabu (20/6).

Menurutnya, dengan berita ini dan terlebih soal utang, hanya ada dua kemungkinan di pergerakan sahamnya. Kalau tidak turun atau stagnan. Pasalnya, berita ini berkaitan dengan nama baik perseroan dan apalagi belum jelas kemampuan BNBR dalam pembayaran utang tersebut.

Karena itu, dia menyakini akan banyak investor dengan mudah melepas saham BNBR. Reza menambahkan, BNBR tidak mungkin mempunyai opsi pembayaran utang melalui penggunaan kas internal.

Kata Reza, yang memungkinkan bagi BNBR adalah dengan menegosiasi utang. Selain itu bisa juga dengan refinancing utang, yaitu dengan mengambil utang lagi dari luar dengan suku bunga rendah. “Tetapi balik lagi dari komitmen BNBR sendiri, kalau mereka niat harusnya bisa membayar,” tandasnya.

Direktur Keuangan BNBR Eddy Soeparno mengakui, penyelesaian pinjaman sebanyak US$ 437 juta itu sampai saat ini masih dibicarakan dengan para kreditur. "Memang kita harus akui, harga saham itu turun. Investor khawatirlah, pinjaman itu kan jaminannya dengan saham," ungkapnya.

Maka dari itu, salah satu perusahaan Grup Bakrie itu akhirnya melakukan diskusinya dengan para krediturnya yang sebanyak 20 perusahaan tersebut. Apalagi, sejak awal tahun ini, saham Bumi Plc yang dulunya bernama Vallar itu sudah jatuh sekitar 60%.

Namun sayang, Eddy enggan merinci detil dari diskusi tersebut, apalagi cara-cara yang ditawarkan BNBR untuk menyelesaikan pinjaman tersebut. "Saya enggak bisa bicara secara detilnya, tetapi kepada para kreditur, kita sudah tawarkan beberapa opsi untuk memperkuat struktur pinjaman yang ada. Sejauh ini mereka memandangnya positif," ujarnya.

Sebagai informasi, BNBR akan melunasi utang senilai US$437 juta dengan menyiapkan 3-4 opsi untuk penyelesaian utang tersebut kepada sejumlah kreditor internasional. Utang tersebut didapatkan Bakrie bersama Long Haul Holding Ltd setelah menandatangani perjanjian kredit untuk mengajukan fasilitas pinjaman (term loan facility) dari Credit Suisse AG cabang Singapura.

Diketahui dari manajemen perseroan, BNBR memiliki total utang sebesar US$1,4 miliar kepada Credit Suisse AG tersebut dan sebanyak US$1 miliar sudah dilunasi, sementara sisanya US$437 juta masih dalam tahap negosiasi.

Bakrie pada bulan lalu harus melakukan top up menyusul harga saham Bumi Plc yang dijadikan jaminan atas pinjaman senilai US$437 juta itu, turun di bawah batas yang disepakati. Penurunan harga tersebut memicu terjadinya margin call. Akibatnya, Bakrie harus menambah dana sebesar US$100 juta.

Tidak Bagi Dividen

Dalam RUPST BNBR disepakati tidak ada pembagian dividen tahun ini. Hal ini didasarkan kesepakatan para pemegang saham yang akan menjadikan laba bersih tahun buku 2011 sebesar Rp 132 miliar sebagai dana cadangan modal di tahun 2012."Setelah tiga tahun terakhir perseroan mengalami rugi bersih maka baru tahun 2011 kami mengalami laba bersih sebesar Rp 132 miliar. Kami optimis pencapaian tahun lalu dapat berlanjut positif di tahun ini," kata Direktur Utama BNBR, Bobby Gafur Umar.

Bobby mengatakan, di samping berhasil membukukan laba bersih tahun 2011 setelah tahun sebelumnya mengalami rugi bersih sebesar Rp 7 triliun, perseroan juga mencatat pendapatan sebesar Rp 16,2 triliun minus Bakrie Telkom. "Tahun 2010 kami memang mencatat revenue Rp 16,5 triliun namun itu sudah termasuk Bakrie Telkom sehingga di tahun 2011 pendapatan kami hanya mencapai Rp 16,2 triliun," ujarnya. (didi)

BERITA TERKAIT

Puluhan Koperasi di Sukabumi Terancam Dibubarkan

Puluhan Koperasi di Sukabumi Terancam Dibubarkan NERACA Sukabumi - Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kota Sukabumi, Jawa Barat, mengancam…

Peluang Dongkrak PAD Terbuka, Jika Sampah DKI Dikelola Investor

HL6-2   NERACA   Jakarta - Persoalan sampah DKI Jakarta mendapat sorotan dari Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut B Pandjaitan, karena…

Pasar Modal Masuk Pendidikan Formal - Perkuat Basis Investor Lokal

NERACA Jakarta –Besarnya potensi pertumbuhan industri pasar modal dalam negeri, terus dioptimalkan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Otoritas Jasa…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

WTON dan WEGE Raih Kontrak Rp 20,22 Triliun

NERACA Jakarta – Di paruh pertama 2018, dua anak usaha PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mencatatkan total kontrak yang akan…

Gelar Private Placement - CSAP Bidik Dana Segar Rp 324,24 Miliar

NERACA Jakarta – Perkuat modal dalam mendanai ekspansi bisnis, PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSAP) berencana melakukan penambahan modal tanpa…

Luncurkan Dua Produk Dinfra - Ayers Asia AM Bidik Dana Kelola Rp 500 Miliar

NERACA Jakarta –  Targetkan dana kelolaan atau asset under management (AUM) hingga akhir tahun sebesar Rp 350 miliar hingga Rp…