Indonesia Jadi Pemasok 85% Minyak Sawit Dunia

NERACA

Jakarta - Hasil riset Rabobank menyebutkan, Indonesia berkontribusi 85% dari seluruh pasokan minyak sawit dunia. Rabobank Associate Director of Food and Agribusiness Research and Advisory (FAR) Pawan Kumar menyebutkan, tidak ada komoditas pertanian yang demikian terkonsentrasi secara geografis. "Fakta ini mempertegas kepentingan Indonesia dan Malaysia secara strategis dalam sektor minyak nabati," kata Pawan Kumar lewat siaran pers yang diterima Neraca, Rabu (20/6).

Produksi dan ekspor sawit Indonesia telah melampaui Malaysia sejak beberapa tahun terakhir yang mencatatkan Indonesia sebagai produsen dan eksportir sawit terbesar dunia saat ini. Pihaknya mencatat, produksi global minyak sawit telah meningkat dua kali lipat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Indonesia dan Malaysia memberikan kontribusi 65 pasokan minyak sawit dunia. Indonesia memberi kontribusi 48% dari total volume produksi minyak sawit dunia. Sedangkan Malaysia berkontribusi 37%.

Malaysia dan Indonesia memproduksi 17 juta ton dan 22,2 juta ton CPO pada 2010, sementara tingkat pertumbuhan produksi sawit Indonesia rata-rata 11% dalam 10 tahun terakhir sedangkan Malaysia hanya 4 persen dalam satu dekade terakhir. "Lebih dari 96% produksi minyak sawit Indonesia berasal dari Sumatera sebesar 78% dan Kalimantan 18 %," katanya.

Sulawesi memproduksi 2-3% dan sisanya diproduksi oleh Papua dan Jawa. Khusus di Sumatera, Provinsi Riau mendominasi produksi sekitar 40% dari total produksi sawit se-Sumatera atau mencapai 6 juta ton per tahun.

Menurut studi tersebut perbedaan pertumbuhan produksi sawit di Malaysia dan Indonesia disebabkan karena perbedaan tingkat ketersediaan lahan, perkembangan industri minyak sawit, hingga penggunaan lahan di kedua negara.

Indonesia diakui lebih dapat memanfaatkan peluang atas permintaan. Selain itu juga karena memiliki iklim yang cocok untuk sawit. Indonesia masih memiliki setidaknya 16-17 juta hektare lahan yang dapat digunakan untuk perkebunan sawit di masa depan.

Bea Keluar

Industri kelapa sawit nasional tidak akan terpengaruh dengan kenaikan bea keluar (BK) atau pajak ekspor minyak sawit mentah (CPO) yang mulai diterapkan pada Februari 2012. Walau BK naik 1,5% dari 15% menjadi 16,5%, namun kinerja ekspor CPO diperkirakan masih akan bersinar.

Menurut Hardy, Sekretaris Perusahaan PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA), kenaikan BK dari 15% pada bulan Januari menjadi 16,5% pada Februari 2012 tidak akan berpengaruh pada kinerja ekspor TBLA. “Ekspor masih akan bagus,” kata Hardy.

Pemerintah menetapkan harga referensi atau harga patokan ekspor (HPE) CPO untuk Februari 2012 adalah US$ 1.001 per ton. Nilai HPE CPO itu naik nilai pada Januari ini yang sebesar US$ 960 per ton. Meskipun tidak mempengaruhi kinerja ekspor secara signifikan, namun kenaikan BK kemungkinan bakal menggerus margin keuntungan perusahaan. Sebab, tarif bea keluar berlaku progresif mengikuti harga jual CPO internasional. Dengan tarif progresif, semakin tinggi harga, BK yang dikenakan semakin tinggi pula.

Harga CPO sempat bertengger di level tertinggi. Untuk pengiriman April 2012, harga CPO di Malaysia Derivatives Exchange sebesar RM 3.183. Harga itu setara dengan US$ 1.026 per metrik ton. Harga itu menjadi yang tertinggi sejak 13 Januari 2012.

Karena tidak akan mempengaruhi kinerja ekspor perusahaan, Hardy yakin, kenaikan BK itu juga tidak akan berimbas banyak pada kesejahteraan petani sawit. Walaupun, biasanya, para petani sawit juga terkena pemotongan harga untuk membayar BK. Dengan luas tanam sawit mencapai 3.000 hektare sampai 5.000 hektare, TBLA selain memiliki kebun sendiri juga bekerjasama dengan petani rakyat sistem plasma.

Di tempat yang berbeda, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Fadhil Hasan, mengaku percaya kenaikan BK CPO tidak mempengaruhi kinerja ekspor CPO tanah air. “Dampaknya tidak terlalu signifikan,” terang Dia.

Menurut Fadhil, BK CPO pada Februari 2012 nanti masih belum mencapai rekor seperti pada pertengahan tahun lalu. Pada pertengahan tahun 2011, menurutnya, BK CPO mencapai 20% meski tidak lama.

Data Gapki menunjukkan, nilai ekspor CPO periode Januari-Agustus 2011 mencapai US$ 10,97 miliar. Angka itu lebih tinggi 50,2% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar US$ 7,30 miliar.

BERITA TERKAIT

Ekonomi Kreatif Andalan Indonesia Lesatkan Kesejahteraan Masyarakat

Oleh: Muhammad Razi Rahman Generasi milenial pada saat ini memiliki ciri-ciri lebih memahami mengenai teknologi digital, seperti penggunaan ponsel pintar,…

Kemenperin Terus Kembangkan Industri Fesyen Muslim Indonesia

NERACA Jakarta – Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah, Gati Wibawaningsih mengatakan fesyen Indonesia saat ini masih menjadi andalan untuk…

BPOM: Pemerintah Indonesia Berkomitmen Pembangunan Kesehatan Palestina

BPOM: Pemerintah Indonesia Berkomitmen Pembangunan Kesehatan Palestina NERACA Jakarta - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito mengatakan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Laboratorium Pengujian di Era Disrupsi Teknologi

NERACA Jakarta -  Staf Ahli Menteri Bidang Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), Imam Haryono mengatakan saat ini, pemerintah Indonesia…

Terkait Kemajuan Digital - RI Dapat Topang Asia Jadi Garda Depan Transformasi Industri 4.0

NERACA Jakarta – Implementasi industri 4.0 di kawasan Asia dinilai dapat membangkitkan kontribusi sektor manufaktur dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi bagi…

Ketahanan Pangan Harus Jadi Fokus Pembenahan

NERACA Jakarta – Salah satu hal yang layak untuk diprioritaskan dalam program para calon presiden (capres) dan calon wakil presiden…