100 Perusahaan AS Bantu UKM Indonesia

NERACA

Jakarta - Sebanyak 100 perusahaan paling terkemuka di Amerika Serikat (AS) yang tergabung dalam The US-ASEAN Business Council menyatakan siap membantu UKM Indonesia untuk naik kelas menjadi perusahaan skala menengah secara regional dan global.

Para anggota US-ASEAN Business Council berkumpul di Jakarta, Rabu, untuk memberikan workshop kepada perwakilan UKM Indonesia. "UKM adalah darah kehidupan ASEAN. Sektor ini menghadapi banyak tantangan dalam mengembangkan bisnisnya, ini juga menjadi tantangan kita bersama, karena jika UKM berhasil maka kita semua sukses," kata Ketua Komisi Dewan ASEAN, Sam Kim, yang juga Wakil Presiden ASEAN untuk Procter & Gamble.

Hadir pada kesempatan itu, Duta Besar AS untuk ASEAN David Carden didampingi Direktur Integrasi Pasar ASEAN Subash Bose Pillai sekaligus Menteri Koperasi dan UKM RI, Sjarifuddin Hassan yang membuka pelatihan Workshop for SME and Business Matchmaking with US Private Sector.

Sam Kim menambahkan, pihaknya sepakat mengembangkan program yang mendukung perkembangan UKM di Indonesia dan menjadikan program di Indonesia sebagai proyek percontohan di kawasan ASEAN. “Kami memiliki pengalaman dan pengetahuan yang dapat kita bagi untuk membantu UKM Indonesia agar dapat mengembangkan usahanya," katanya.

Program tersebut bertujuan untuk membantu UKM untuk go global dan go regional, dengan sejumlah programnya yakni menyediakan akses UKM pada fasilitas kerja yang lebih baik dan meningkatkan jejaring kerja mereka pada pelaku bisnis profesional yang dapat membagi pengetahuan dan pengalaman mereka.

Sejumlah anggota dewan mengirimkan para pembicaranya termasuk perwakilan dari Procter & Gamble, UPS, Citi, Intel, Freeport McMoRan, Microsoft, Sampoerna, Seagate, dan Yahoo!. The US-ASEAN Business Council mewakili lebih dari 100 perusahaan terkemuka di AS yang sebagian besar aktif beroperasi di wilayah ASEAN selama lebih dari 100 tahun hingga perusahaan pendatang baru yang sedang mengekspansi bisnis di pasar yang paling dinamis sedunia.

Menteri Koperasi dan UKM, Sjarifuddin Hasan, pada kesempatan yang sama mengatakan, UKM di Indonesia masih terkendala beberapa faktor di antaranya skill yang rendah, kelangkaan bahan baku, manajemen yang buruk, keterbatasan data, belum mampu mengikuti perkembangan zaman, dan kesulitan pasar khususnya dalam hal orientasi ekspor. "Sejauh ini kesulitan terbesar yang dihadapi sektor UKM Indonesia adalah belum tersedianya fasilitas modal yang memadai," kata Menteri.

Pihaknya menyatakan akan mengakomodir rekomendasi kebijakan dari pertemuan tersebut dan ia percaya pertemuan itu akan mampu memberikan masukan untuk mendorong perkembangan UKM di wilayah ASEAN.

Perwakilan UKM Indonesia akan menandatangani proyek mentoring dengan anggota The US-ASEAN Business Council untuk memastikan pelaku UKM belajar dari anggota Council dan mengaplikasikan pengetahuan baru itu dalam bisnis mereka. **rin

BERITA TERKAIT

Ikhtiar Melihat Indonesia-Tiongkok Secara Benar

Oleh: Edy M Yakub Melihat dan mendengar adalah dua kata yang berbeda dan perbedaan keduanya juga mengandung makna yang sangat…

BPS Nilai Mulai Terjadi Pemerataan di Indonesia

    NERACA   Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia yang diukur oleh Gini…

Indonesia Diyakini Masuk Empat Besar Negara Kuat

NERACA Jakarta –Ditengah kekhawatiran pelaku ekonomi akan nilai tukar rupiah yang terus tertekan terhadap dollar AS, pemerintah selalu meredam hal…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Bank Belum Penuhi Rasio Kredit UMKM

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat sekitar 20 persen dari total bank umum domestik belum…

LPDB Sederhanakan Persyaratan Pengajuan Pinjaman Dana Bergulir

  NERACA   Tangerang - Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM) menyederhanakan kriteria dan…

Pembiayaan BTPN Syariah Tumbuh 19,1%

  NERACA   Jakarta - PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk (BTPN Syariah) hingga akhir Juni 2018 membukukan pembiayaan…