Kenapa Banjir Buah Impor?

Di waktu lalu ada label “Aku Cinta Indonesia" sebagai ungkapan rasa cinta terhadap produk buatan dalam negeri termasuk produk buah asli Indonesia. Namun label itu ternyata hanya sebatas di bibir saja, ketika belakangan ini kita melihat euforia masyarakat terhadap buah impor lebih besar ketimbang kecintaan terhadap produk lokal.

Bahkan Dubes RI untuk Swiss Djoko Susilo merasa kecewa saat berkunjung ke kampung halamannya di Boyolali, Jawa Tengah. Dia resah tidak menemukan buah lokal yang dicari, malah banyak buah impor yang mendominasi outlet di mal di kota tersebut.

Kondisi itu sebenarnya sudah lama terjadi di negeri ini. Bukan hanya di Boyolali tetapi juga di kota-kota lain di Indonesia. Selera masyarakat kita kelihatannya mulai tergilas oleh globalisasi. Konsumen dan pedagang lebih menyukai buah impor ketimbang buah lokal. Memang Sangat Ironis!

Bahkan menurut statistik perdagangan, impor buah dari China pada triwulan pertama 2012 mencapai US$141 juta atau setara Rp 1,27 triliun, meningkat Rp 2 miliar lebih dibandingkan impor triwulan pertama tahun lalu. Belum lagi impor dari negara lain. Ini sangat menyedihkan, karena mayoritas penduduk kita adalah petani. Tamparan buat Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris (pertanian) selama ini.

Kita tentu tidak boleh diam melihat situasi demikian. Seperti Di Swiss, pemerintah dan masyarakat sangat peduli terhadap buah atau produk makanan lokal. Masyarakat akan membeli produk impor jika buatan lokal tidak ada. Mereka lebih menyukai buah lokal. Sementara toko swalayan yang menjajakan produk impor dibatasi waktu operasionalnya, misalnya hari Minggu dilarang buka. Potret Swiss ternyata sangat kontras dengan wajah Indonesia.

Contoh lain yang menarik di India. Di negara adalah industri film tersebut ternyata, bukan hanya Mumbai yang memiliki Bollywood, tetapi industri film di kota-kota lainnya di negeri itu juga tumbuh subur dan berjaya.

Tidak hanya film berbahasa nasional India, film berbahasa daerah juga sangat laris. Sama seperti Indonesia, India juga luas dan padat penduduknya, memiliki banyak bahasa daerah. Jumlah produksi film India tinggi dan jumlah penontonnya sangat besar.

Kunci sukses industri film India adalah kecintaan masyarakat terhadap produk nasional atau lokal. Mereka bangga dengan film lokal. Sebaliknya, mereka tidak suka film impor. Rumah produksi tumbuh subur. Tempat-tempat pelatihan menari disesaki anak muda yang ingin berkarya dalam film.

Lain halnya di Indonesia, dimana produksi film nasional bisa dihitung dengan jari per tahun. Masih sangat kecil. Walau film Indonesia sering menjuarai festival di luar negeri, jumlah penontonnya di dalam negeri sangat sedikit. Banyak orang kita lebih suka film impor.

Kita teringat di zaman Orde Baru hingga reformasi pernah digencarkan kampanye mencintai produk nasional atau lokal. Tetapi kampanye “Aku Cinta Indonesia” itu lebih sering bersifat retorika, kurang menyentuh hati masyarakat, termasuk hati aparat dan pejabat. Kampanye belum mampu membangun budaya dan ideologi untuk mencintai produk lokal sepenuh hati.

Kini saatnya pemerintah Indonesia meningkatkan political will-nya terhadap kecintaan terhadap produk lokal dan serius memberikan perlindungannya, jika benar-benar ingin memajukan potensi produk dalam negeri. Ini merupakan kunci sukses memajukan usaha masyarakat setempat, khususnya kelas mikro. Mereka tidak bisa dibiarkan bersaing bebas menghadapi pasar global, tetapi perlu perlindungan dan pendampingan secara khusus.

BERITA TERKAIT

NU Care - Lazisnu Bantu Korban Banjir Bandang Lombok Timur

LOMBOK TIMUR, Banjir bandang yang menerjang permukiman dan lahan pertanian di daerah Lombok Timur, menjadi perhatian khusus NU Care -…

Pendapatan Budi Starch Menyusut 2,38% - Banjir Produk Impor Sweetener

NERACA Jakarta – Sepanjang kuartal tiga tahun ini, penjualan PT Budi Starch & Sweetener Tbk (BUDI) terkoreksi 2,38% menjadi Rp1,86…

Impor Banten September Turun 5,24 Persen

Impor Banten September Turun 5,24 Persen NERACA Serang - Nilai impor Provinsi Banten pada September 2017 turun 5,24 persen dibanding…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Kredibilitas PLN?

Belakangan ini mencuat kembali polemik terkait wacana baru pemerintah yang akan menyederhanakan golongan listrik. Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM)…

Gali Potensi Pertumbuhan

Indonesia saat ini membutuhkan investasi yang besar dari luar sebagai sumber pembiayaan pembangunan. Apalagi, dengan realitas rendahnya kapasitas tabungan domestik…

Saatnya Ekonomi Digital Berkuasa

Banyak pihak merasa khawatir Indonesia akan menggadaikan kedaulatan digitalnya kepada pengusaha asing misalnya Alibaba, dan pemiliknya Jack Ma dari China…