BUMN Energi Dapat Pinjaman Terusan Rp9 T

Selasa, 29/03/2011

BUMN Energi Dapat Pinjaman Terusan Rp9 T

NERACA

Jakarta –Tiga BUMN bidang energi mendapat “isyarat” dari DPR terkait pinjaman Subsidiary Loan Agreement (SLA) tahun 2011 senilai Rp 9,66 triliun. Ketiga BUMN tersebut, yakni PT PLN (Persero), PT Pertamina (Persero) dan PT PGN (Persero) Tbk. “Komisi VII DPR RI dapat memahami laporan pemerintah mengenai pelaksanaan proyek PLN, Pertamina, dan PGN, yang dibiayai melalui penerusan pinjaman (SLA), sepanjang proyek tersebut diaudit BPK RI dan pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku,” kata Ketua Komisi VII DPR RI Teuku Riefky dalam rapat kerja di DPR, Jakarta, (28/3).

Namun demikian, kata Teuku, Komisi VII meminta Menteri Keuangan dan instansi terkait, termasuk BPKP untuk meningkatkan koordinasi. “Terutama dalam perencanaan proyek-proyek yang dibiayai melalui SLA dan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan SLA mulai dari proses pencairan hingga pelaksanaan proyek,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan Anny Rahmawati dalam paparannya mengatakan, SLA untuk tiga BUMN senilai Rp 9,66 triliun itu terdiri dari SLA on going sebesar Rp 5,08 triliun untuk 23 proyek dan SLA dalam pipeline sebesar Rp 4,57 triliun untuk 8 proyek.

Lebih detilnya, Anny Ratnawati merinci untuk PT PLN total SLA Rp 9,5 triliun yang terdiri dari proyek on going Rp 5 triliun (21 Proyek) dan pipeline Rp 4,57 triliun (7 proyek). Sedangkan untuk PT PGN, total SLA Rp 71 miliar untuk 2 proyek on going dan untuk PT Pertamina total SLA Rp 30 miliar untuk 1 proyek pipeline.

Direktur Utama PLN Dahlan Iskan menyatakan terkait SLA tersebut beberapa proyek sudah mulai konstruksi. Ada beberapa proyek yang masih dalam proses tender dan ada juga dua proyek yang dibatalkan yakni Tambak Lorok dan Muara Tawar. “SLA di PLN, umumnya semua sudah mulai konstruksi dan selesai seperti Tanjung Priuk dan Muara Karang. Ada juga yang masih tender. Namun pada intinya semua sudah jalan, beberapa dibatalkan seperi Tambak Lorok dan Muara Tawar karena belum jelas pasokan gasnya dari mana,” ungkap Dahlan.

Selain ada pula proyek yang ditunda, yakni proyek Adipala selama satu tahun, dan direncanakan akan rampung pada tahun 2014. “Adipala kita tunda satu tahun, jadi akan selesai 2014. Selesai tahun 2013 juga tidak ada gunanya, karena disana akan masuk dari proyek-proyek 10 ribu MW," jelasnya.

Selain itu, ada pula proyek yang perlu dikaji ulang seperti kabel bawah laut di Selat Sunda yang bernilai sekira Rp20 triliun. Proyek tersebut dinyatakannya tidak efektif karena proyek yang dibangun antara Pulau Sumatera dan Pulau Jawa tersebut digunakan untuk melistriki Pulau Jawa.“Pinjaman SLA untuk kabel di Selat Sunda perlu dikaji. Nilainya Rp20 triliun, sopan tidak kalau kita membangun besar-besaran di Sumatera tapi listriknya lagi-lagi untuk Jawa. Lebih baik lagi jika uang sebesar itu digunakan untuk membangun transmisi di Pulau Sumatera agar Pulau Sumatera bisa terlistriki semua” imbuhnya.

Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan menyebutkan ada beberapa progress dari beberapa proyek yang sedang dijalani. Proyek tersebut diantaranya pengembangan geotermal di wilyah Lumutbalai. “Seperti yang dibahas Wamenkeu, karena masih dalam pipeline, kami masih menunggu tanda tangan loan agreement di akhir Maret,” ungkapnya.

Terakhir, Direktur Utama PGN, Hendi Priyosantoso menyatakan bahwa SLA untuk PGN sendiri sebesar Rp 71 miliar yang digunakan untuk penyelesaian proyek fisik dan pengoperasian penuh pipa transmisi SSWJ yang merupakan tender dari dari JICA. “Selain itu juga akan digunakan untuk proyek distribusi gas,” tandasnya.**ruhy