Tingkatkan Jumlah Investor, BEI Gandeng Muslimat NU

Masih dalam rangka meningkatkan jumlah investor pasar modal, Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan edukasi kepada Muslimat Nahdlatul Ulama tentang pasar modal agar tidak terjebak dalam investasi "bodong" (kosong). "Tujuan dari edukasi itu untuk memberikan hal yang mendasar bagi anggota kami mengenai perencanaan keuangan, selain itu juga agar tidak ada masyarakat yang terjebak dalam investasi 'bodong' seperti Koperasi Langit Biru," kata Wakil Sekretaris Muslimat NU Zanuba Arifah Chafsoh di Jakarta, Senin (18/6).

Dia mengharapkan, dengan diadakannya edukasi, maka masyarakat dapat belajar mengenai risiko dalam berinvestasi. Nantinya, dengan edukasi tersebut bagi investor yang tertarik investasi di pasar modal sudah bisa mengetahui apa yang harus dilakukan dan risikonya.

Kendatipun demikian, dia menuturkan, secara organisasi tidak ada target yang akan menjadi investor. “Tujuan mereka kesini juga untuk melek investasi, daripada disimpan dibawah kasur dan di dalam bambu atau hanya ke bank saja," tandasnya.

Menurut dia, masyarakat di dalam negeri memiliki potensi yang besar menjadi investor pasar modal karena memiliki dana "tidur" yang tidak sedikit. Sementara anggota Muslimat NU yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga umumnya masih berinvestasi pada logam mulia, dengan adanya edukasi mengenai investasi akan diketahui model investasi yang lebih luas.

Sementara pakar ekonomi Syariah Adiwarman Karim menanggapi positif edukasi yang dilakukan pihak BEI dan Muslimat Nahdlatul Ulama. Selama ini banyak masyarakat yang masih mempunyai anggapan investasi di saham haram hukumnya."Edukasi ini bagus, karena selama ini banyak masyarakat yang menilai bahwa bursa saham itu punya stigma haram, dengan edukasi maka masyarakat tahu tidak semuanya di pasar modal haram," tuturnya.

Dia menambahkan, pihak Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) bersama dengan Dewan Syariah Nasional juga melakukan penyaringan terhadap emiten yang masuk dalam daftar efek syariah per enam bulan.

Adiwarman Karim mengemukakan, perusahaan yang masuk dalam bisnis rokok, minuman keras serta lembaga keuangan konvensional tidak masuk dalam daftar syariah. Selain itu, rasio utang perusahaan tidak boleh lebih dari 33%. (didi)

BERITA TERKAIT

Pemkot Palembang Tingkatkan Pendataan Cagar Budaya

Pemkot Palembang Tingkatkan Pendataan Cagar Budaya NERACA Palembang - Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang, Sumatera Selatan berupaya meningkatkan pendataan cagar budaya…

BEI Luncurkan Single Stock Future - Kembangkan Produk Derivatif

NERACA Jakarta - Dongkrak pertumbuhan transaksi di pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana meluncurkan produk derivatif di tahun…

TPS Food Beberkan Soal Gugatan PKPU - Sampaikan Penjelasan Ke BEI

NERACA Jakarta – Sebagai reaksi atas permintaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) atau…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Jaga Stabilitas Harga, ROTI Buyback Saham

NERACA Jakarta – Menjaga stabilitas harga saham di pasar, PT Nippon Indosari Corporindo Tbk (ROTI) berencana melalukan pembelian kembali (buyback)…

Bangun Rumah Sakit Baru - Medikaloka Hermina Kuras Kocek Rp 312,5 Miliar

NERACA Jakarta – Pacu pertumbuhan bisnis dengan penetrasi pasar lebih luas lagi, PT Medikaloka Hermina Tbk berambisi terus menambah rumah…

PBRX Sisakan Rights Issue Rp 348,8 Miliar

NERACA Jakarta - PT Pan Brothers Tbk (PBRX) masih mengantongi dana senilai Rp384,8 miliar dari hasil penawaran umum terbatas (PUT)…