“Postur” APBN Dinilai Belum Adil

NERACA

Jakarta-- Pemerintah diingatkan segera melakukan pemerataan keadilan melalui APBN. Alasanya karena berpotensi mengancam keretakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). "Selama ini APBN belum pro-rakyat," kata Wakil Ketua MPR Hajriyanto Y Thohari pada "Dialog Pilar Negara: NKRI: Pemahaman, Tantangan dan Masa Depannya" di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Senin. Pembicara lainnya pada diskusi tersebut adalah, Wakil Ketua Komisi III DPR RI Muhammad Nasir Djamil.

Menurut Hajriyanto, jika mencermati postur APBN, sekitar 60% untuk belanja rutin pegawai, 20% untuk membayar utang luar negeri, dan sisanya 20% untuk pembangunan. "Dari 20% dana APBN untuk pembangunan itu pun masih ada yang dikorupsi," terangnya

Politisi Partai Golkar ini menjelaskan, di era Orde Baru APBN sekitar Rp200 triliun dan pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri APBN sekitar Rp450 triliun. Kemudian pada era pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono, APBN terus naik dari Rp1.000 triliun dan pada 2012 sudah mencapai Rp1.400 triliun.

Hajriyanto mengusulkan, agar pemerintah mengubah postur APBN, termasuk alokasi anggaran untuk daerah yang sasarannya untuk pemerataan pembangunan dan kesejahteraan rakyat.

Bahkan Hajriyanto mencontohkan, untuk belanja rutin pegawai sekitar 40%, untuk pembangunan sekitar 40%, serta untuk membayar utang luar negeri sebesar 20%.

Namun demikian, Hajriyanto optimistis, hal itu bisa dilakukan, namun hal itu tergantung pada kemauan politik pemerintah. "Posisi DPR RI pada pembahasan RAPBN, hanya mengusulkan dan menyetujui," cetusnya

Menurut Hajriyanto, pemerintah harus berani mengubah postur ABPN dengan lebih memprioritas pembangunan fisik dan masyarakat. Jika hal ini tidak segera dilakukan, menurut dia, akan berpotensi menjadi ancaman keutuhan NKRI.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi III DPR RI Muhammad Nasir Djamil mengatakan, gerakan separatisme yang muncul di beberapa daerah, sesungguhnya yang menjadi tuntutannya bukanlah merdeka dari NKRI, tapi aspirasinya tidak mendapat tanggapan dari pemerintah pusat.

Harapan masyarakat di daerah, menurut dia, adalah pemerintah pembangunan dan kesejahteraan, penegakan hukum, dan kesejahteraan masyarakat. "Jadi prinsipnya sederhana saja, bahwa NKRI dan Pancasila itu akan dirasakan manfaatnya jika rakyat merasakan keadilan, pemerataan dan kesejahteraan ekonomi, serta hak-hak politik lainnya. Itulah cita-rasa Bhinneka Tunggal Ika," kata Nasir. **cahyo

BERITA TERKAIT

Menkeu Usulkan Asumsi Kurs Rp 15.000 di APBN 2019 - BANK INDONESIA PREDIKSI NILAI TUKAR RP 14.800-RP 15.200 PER US$

Jakarta-Menkeu Sri Mulyani Indrawati kembali mengusulkan perubahan asumsi makro pada pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019. Salah satunya…

Realisasi Belanja APBN Sumsel Masih Rendah

Realisasi Belanja APBN Sumsel Masih Rendah NERACA Palembang - Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mencatat hingga…

Menjaga APBN Kredibel

Di luar kebiasaan sebelumnya, Presiden Jokowi telah memerintahkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati agar memastikan postur APBN 2018 fixed, atau…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Tarik Investor Dengan Insentif Perpajakan

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati akan memperkuat insentif perpajakan guna pendalaman pasar keuangan…

Sejak Revisi PMK, Delapan Perusahaan Terima Tax Holiday

    NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan sebanyak delapan perusahaan atau wajib pajak sudah menerima…

Bantu Petelur, Pemerintah Cari Bahan Baku Pakan

    NERACA   Blitar - Pemerintah Kabupaten Blitar, Jawa Timur dan Direktorat Jenderal (Ditjen) Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH)…