Konsumsi Terus Meningkat, Industri Semen Tumbuh 16%

NERACA

Jakarta - Asosiasi Semen Indonesia (ASI) memperkirakan pertumbuhan konsumsi semen Indonesia tahun ini mencapai angka 12% dibandingkan tahun lalu. Karena konsumsi semen yang terus meningkat, hingga semester I- 2012 industri semen tumbuh 16% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ketua Asosiasi Semen Indonesia, Widodo Santoso, mengatakan, kesadaran untuk memiliki rumah diyakini menjadi salah satu faktor pendorong meningkatnya konsumsi semen. Faktor pendorong lainnya, lanjut Widodo, adalah pertumbuhan infrastruktur. “Pada periode Januari hingga Juni 2012, total konsumsi semen dalam negeri diperkirakan mencapai angka 26 juta ton. Tahun lalu total konsumsi di pasar domestik sebesar 47,99 juta ton,” ungkapnya di Jakarta, Senin (18/6).

Menurut dia, Pulau Jawa masih menjadi pangsa pasar terbesar konsumsi semen nasional, yaitu sebesar 55,2 %. Sumatera menjadi pangsa pasar terbesar kedua, yaitu sebesar 23 %, disusul Sulawesi dan Kalimantan dengan angka 7 %. Widodo memperkirakan total konsumsi semen dalam negeri akan meningkat menjadi 54 juta ton tahun ini.

Widodo menuturkan konsumsi semen per kapita Indonesia terus tumbuh dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Pada 2007 konsumsi semen per kapita sebesar 141 kilogram. Angka ini melonjak menjadi 200 kilogram per kapita pada 2011.

Adapun konsumsi semen per kapita Indonesia menjadi yang ketiga terbesar di Asia setelah Cina dan India. Namun, jika dibandingkan dengan dua negara itu, konsumsi semen per kapita Indonesia masih tertinggal jauh, yaitu China sebesar 1.348 kilogram dan 1.201 kilogram per kapita.

Produsen semen akan fokus pada konsumsi dalam negeri. Menurut Widodo, pihaknya akan tetap memprioritaskan konsumsi dalam negeri sebelum melakukan ekspor. Dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dia optimistis dengan pertumbuhan konsumsi semen nasional. Kami tak (melakukan) ekspor sebelum dalam negeri aman,” kata dia.

Direktur Jenderal Berbasis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto, menyatakan Indonesia memiliki sembilan produsen semen yang berbasis di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Produsen ini masih sanggup memenuhi kebutuhan domestik Indonesia.

Kerangka Master Plan Percepatan dan Perluasan Ekonomi Indonesia, khususnya pembangunan di luar Jawa, akan berpengaruh pada kebutuhan semen. Dia menyatakan industri semen nasional harus bisa memastikan kebutuhan ini akan terpenuhi. Dia berjanji pemerintah akan mendorong sejumlah kebijakan untuk pertumbuhan industri semen nasional. “Misalnya memberikan insentif untuk pembangunan di wilayah tertentu,” kata Panggah.

Selain itu, industri semen nasional diharapkan juga memperhatikan aspek ramah lingkungan. Kementerian Perindustrian telah membuat peta jalan untuk mengantisipasi industri semen yang ramah lingkungan. Kami memperkenalkan teknologi yang bisa hemat energi.

BERITA TERKAIT

Transaksi Saham Sepekan Tumbuh 12,53%

NERACA Jakarta – Sepekan kemarin, laju indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami peningkatan sebesar 4,38% menjadi 5.944,07 poin dari 5.694,91…

Sido Muncul Menaruh Asa Penjualan Tumbuh 10% - Perluas Pasar dan Produk Baru

NERACA Surabaya – Masih terjaganya daya beli masyarakat menjadi keyakinan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) bila…

Presiden: PDB Koperasi Meningkat Jadi 4,48%

Presiden: PDB Koperasi Meningkat Jadi 4,48% NERACA Tangerang - Presiden Joko Widodo mengaku sangat senang perkembangan koperasi Indonesia sudah mulai…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Strategi Niaga - Pemerintah Perlu Lobi Amerika Terkait Ancaman Pencabutan GSP

NERACA Jakarta – Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai, pemerintah perlu melobi pemerintah Amerika Serikat terkait potensi pencabutan fasilitas…

BPPSDMP Kementan Terus Ikhtiar Cetak Wirausaha Pertanian

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) mengambil langkah strategis dengan penyediaan sumber daya…

Terkait Industri Otomotif - Presiden Perlu Pimpin Langsung Peralihan ke Kendaraan Listrik

NERACA Jakarta – Pengamat ekonomi Faisal Basri berpendapat, Presiden Joko Widodo perlu memimpin langsung program peralihan kendaraan konvensional berbahan bakar…