Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Dinilai Tak Sehat

NERACA

Jakarta –Pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai Indonesia ditengarai melalui cara yang kurang sehat. Alasannya pertumbuhan ekonomi ini sejalan dengan besarnya beban utang. “Setiap tahunnya utang Indonesia selalu meningkat. Dan itu sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang didapati,” kata Peneliti Institute For Global Justice Salamudin Daeng saat berdiskusi dengan tema evaluasi kinerja tim ekonomi SBY-Boediono di Jakarta, Senin (18/6).

Menurut Daeng, ekonomi Indonesia digerakkan oleh utang. Maka tak ayal utang luar negeri juga nilainya semakin tinggi. “Hingga Februari 2012, utang luar negeri swasta mencapai US$109,1 miliar, utang luar negeri pemerintah dan otoritas moneter mencapai US$118,6 miliar dan utang yang bersumber dari Surat Utang Negara (SUN) mencapai Rp707,4 triliun. Jadi kalau diakumulasikan utang Indonesia mencapai Rp2.870 triliun atau dapat mencapai 45% Produk Domestik Bruto (PDB),” tukasnya.

Perekonomian Indonesia, tambah Daeng, sejak era reformasi hingga era SBY telah menjadikan utang sebagai penopang pertumbuhan ekonomi. “Sebanyak-banyaknya Indonesia berhutang, maka pertumbuhan ekonomi makin stabil. Maka saat ini SBY banyak sekali kunjungan-kunjungan ke negara-negara lain untuk berhutang, terlebih pada pertemuan di Meksiko dalam acara G20,” jelasnya.

Namum demikian, Daeng meyakini dalam pertemuan tersebut, Indonesia tak akan mencari hutang pasalnya dalam pertemuan tersebut, negara-negara yang tergabung dalam G20 akan menggunakan dana inventarisnya untuk menganggulangi krisis Eropa. “Indonesia ini kan negara Asia, kenapa harus menanggung beban Eropa. Padahal Eropa yang berinvestasi di Asia menggunakan keuntungannya untuk negaranya sendiri,” terangnya

Tak hanya utang yang menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi yang kurang sehat, cetus Daeng, tapi juga pertumbuhan ekonomi Indonesia didorong oleh investasi luar negeri yang semakin mendorong penguasaan sumber daya alam, keuangan, perbankan oleh modal asing. “Kita bisa lihat rencana penjualan Bank Danamon ke Singapura menjadi faktor terbesar dalam pertumbuhan ekonomi, pasalnya Development Bank of Singapore (DBS) bersedia membeli Danamon dengan nilai transaksi mencapai Rp45,2 triliun. Terlebih jika nanti Bank Danamon bertumbuh besar, maka yang menikmatinya adalah pemegang sahamnya,” jelasnya.

Selain itu, tambah dia, pertumbuhan ekonomi didorong oleh ekspor bahan mentah bukan barang jadi alhasil keuntungan yang didapat dari sisi ekspor cenderung sedikit. Pemerintah juga gagal dalam membangun industri, infrastruktur yang menopang industri dan sumber energi yang memadai. “kebijakan pemerintah mengeluarkan Permen ESDM No 7 tahun 2012 yang menerapkan bea keluar ekspor untuk komoditas pertambangan senilai 20% semata-mata untuk memburu pajak dalam rangka menutup defisit APBN bukan dalam rangka membangun industri nasional,” pungkasnya. **bari

BERITA TERKAIT

Kinerja untuk Atasi Depresiasi Rupiah Dinilai Tepat

    NERACA   Jakarta - Anggota Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun mengatakan kinerja yang dilakukan sejumlah lembaga dan kementerian…

Bank Syariah Mandiri Siapkan IPO di 2019 - Dinilai Momentum Tepat

NERACA Jakarta – Menyusul beberapa bank syariah yang sudah go public atau mencatatkan sahamnya di pasar modal lewat penawaran umum…

PLN: KPK Harus Kedepankan Azas Praduga Tak Bersalah

PLN: KPK Harus Kedepankan Azas Praduga Tak Bersalah NERACA Jakarta - Direksi PT PLN (Persero) menegaskan bahwa perusahaan menghormati proses…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Pemerintah Antisipasi Asumsi APBN 2018

      NERACA   Jakarta - Pemerintah akan terus mengantisipasi pergerakan asumsi dasar ekonomi makro pada APBN 2018 agar…

Lebih Efisien, Kemenlu Siapkan Diplomasi Digital

  NERACA   Jakarta – Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) menyiapkan diplomasi digital untuk memudahkan proses diplomasi baik antar negera maupun…

Presiden Harap Pemangkasan PPH Dorong UMKM

      NERACA   Tangerang - Presiden Joko Widodo berharap pemangkasan pajak penghasilan (PPh) final untuk usaha mikro, kecil…