Pengamat: NIM Tinggi Akibat Perbankan Oligopolistik

PERBANKAN INDONESIA TIDAK EFISIEN

Senin, 28/03/2011

Jakarta - Tingkat spread bunga perbankan di Indonesia saat ini mencapai 6% dan merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara, yang umumnya sekitar 3%-4%. Bahkan rata-rata net interest margin (NIM) disini malah lebih tinggi dibandingkan China dan India. Namun hasil survei Pricewaterhouse Coopers (PwC) mengungkapkan, kalangan bankir domestik menginginkan angka NIM 2011 akan tetap bertahan 6%.

NERACA

Direktur Eksekutif Institute for Development Economy and Finance (Indef) Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika menegaskan ada salah satu faktor yang menjadi penyebab adalah struktur perbankan di Indonesia bersifat oligopolistik. ”Sepuluh bank besar di Indonesia masih menguasai 65% aset nasional,” katanya ketika dihubungi Neraca, Minggu (27/3).

Oleh karena itu, struktur bisnis tersebut mendorong efek negatif selanjutnya yaitu minimnya persaingan. Artinya, perbankan nasional kurang kompetitif karena bank besar sedikit jumlahnya. “Ada asymetric information antara nasabah dengan perbankan. Nasabah sebenarnya ingin tahu suku bunga sebenarnya. Walau angkanya berbeda diantara nasabah, bunga bank tetap tinggi. Nah, melalui PBI tentang publikasi prime lending rate, punya pengaruh secara psikologis untuk menekan perbankan,” katanya.

Perbankan juga melihat situasi perekonomian nasional belum stabil. Menurut guru besar FE Universitas Brawijaya itu, hal ini terkait dengan inflasi. Dia mencontohkan dengan fluktuasinya harga minyak dunia. “Hingga ke depan, belum dapat dipenuhi. BI sendiri lebih senang melakukan pendekatan tidak langsung dalam upaya penekanan seperti aturan LDR/GWM dan suku bunga dasar kredit (SBDK). Padahal, BI punya kewenangan dalam bertindak tegas,” tuturnya.

Secara terpisah, ekonom LIPI Dr. Latif Adam menilai tingginya marjin bunga bersih membuktikan perbankan bersangkutan tidak efisien. Dampak langsungnya adalah nasabah yang menjadi korban. ”Perbankan sendiri dan Bank Indonesia sekarang harus berfikir dengan pola baru. Bunga kredit bank harus rendah supaya sektor riil bergerak,” tandasnya kemarin.

Sementara, kewajiban transparansi yang digulirkan BI selama ini, lanjut dia, sangat bagus karena untuk mendorong transparansi perbankan, terutama naik atau tidaknya suku bunga kredit. Dikatakan efisien atau tidaknya harus dibuktikan. “BI harus cek langsung supaya bank tidak bisa bermain. Kalau tidak transparan berarti tidak efisien,” ujarnya.

Latif mengatakan, bunga kredit merupakan fungsi dari bunga deposito, premi risiko, marjin keuntungan ditambah biaya operasional. Publik mengetahui efisien atau tidak suatu bank, bisa dilihat dari, antara lain, biaya operasional tinggi atau marjin keuntungan yang tinggi. ”Jika masih demikian, bank sebenarnya lebih berperan sebagai rent seeker,” katanya.

Dia juga menjelaskan, inefisiensi perbankan bisa dilihat dari tingginya NIM. Marjin bunga bersih plus bunga deposito merupakan penentu tingkat bunga kredit perbankan. Adapun komponen margin bunga bersih terdiri atas premi risiko, biaya overhead, dan margin keuntungan. Inefisiensi perbankan nasional juga terlihat dari tingginya rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) dan tingginya bunga riil (selisih bunga nominal dan inflasi).

Dirinya menduga, salah satu faktor penyebab inefisiensi adalah bank cenderung memiliki sendiri gedung perkantoran ketimbang menyewanya. Alhasil, biaya pemeliharaan dan pembangunan perkantoran menjadi tanggungan bank. Buntutnya, biaya overhead perbankan meningkat. "Kesepakatan 14 bank menurunkan bunga deposito juga tak menjamin biaya dana (cost of fund) yang dipikul perbankan turun,” tuding Latif.

Dia mencermati, strategi perbankan berkompetisi dalam memperebutkan nasabah, berubah dari menawarkan bunga deposito tinggi menjadi menawarkan beranekaragam hadiah. Hampir semua bank besar dan menengah berlomba memberikan hadiah mobil mewah. Tak ayal, biaya dana relatif tidak berubah meski bunga deposito menurun.

Sejurus dengan hasil survei Pricewaterhouse Coopers (PwC) yang menunjukkan NIM akan bertahan di level 6%, kalangan bankir juga menilai hal yang sama. Ekonom bank asing Fauzi Ichsan mengungkapkan hal ini ketika dihubungi kemarin, bahwa jika pun bunga turun tidak terlalu signifikan, hanya sekitar 25-50 bps. “NIM memang diharapkan bisa turun oleh Bank Indonesia dengan sedikit memaksa lewat kewajiban transparansi atau pengumuman suku bunga dasar kredit,” katanya.

Fauzi mengakui, kewajiban mengumumkan SBDK memang memungkinkan turunnya bunga kredit karena mendorong kompetisi antarbank, membaiknya efisiensi dan publik bisa memantau produk kredit yang ditawarkan bank.

Dia memaparkan, NIM sejatinya masih memiliki peluang lebih menciut jika bunga surat utang negara (SUN) naik. Pasalnya, pihak perbankan tentu memiliki perimbangan antara pendapatan korporasi dari kredit dan instrumen penyimpanan dana seperti SBI.

Sebelumnya survei PwC menunjukkan NIM tahun akan bertahan di level 6% dan menilai level NIM masih tergolong tinggi. Menurut ujar penasehat teknis PwC yang juga pemapar hasil survei, Ashley Wood, faktor utamanya adalah tingginya inflasi dan penerapan risk premium yang juga lebih tinggi.

Meski diprediksi pertumbuhan pinjaman dan deposito bisa tumbuh double digit pada 2011, dia menambahkan masih terdapat tiga kendala utama untuk mewujudkannya. “Kompetisi yang semakin kuat, situasi politik dan sulitnya memperoleh pegawai yang kompeten,” papar Ashley, akhir pekan lalu. ardi/inung