Indonesia Dinilai Lemah Infrastruktur Fisik

NERACA

Jakarta - Indonesia dinilai masih lemah dalam indikator bidang infrastruktur fisik. Hal itu seperti dilaporkan dalam Logistic Performance Index (LPI) 2012 yang menjelaskan Indonesia belum ada perbaikan yang berarti dalam perbaikan bidang infrastruktur fisik. “Oleh karena itu yang bisa kita lakukan adalah segera mempercepat dan memperbaiki hal-hal yang sifatnya soft infrastructure,” kata Direktur Utama Pelabuhan Indonesia II, RJ Lino di Jakarta.

Dilain sisi, kata RJ Lino, dalam hard infrastructure seperti kualitas pendukung logistik seperti pelabuhan, jalur kereta api, maupun jalan-jalan utama masih dinilai belum menunjukan perbaikan yang berarti dikarenakan mahal dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mewujudkannya.

Bahkan Lino mengungkapkan perbaikan-perbaikan dalam hal soft infrastructure harusnya dapat segera dilakukan karena dalam segi waktu relatif lebih cepat, mudah dan murah. “Ini bisa dibuktikan dengan hanya memperbaiki beberapa bagian saja hal ini sudah bisa memberikan dampak yang cukup besar untuk Logistic Performance Index kita. Kedepan hal ini yang akan kita dorong terus,” ungkapnya

Lino menjelaskan Pelabuhan Indonesia II sebagai salah satu pemain utama di mata rantai logistik nasional konsisten berkomitmen membantu Indonesia untuk dengan cepat menurunkan biaya logistik dan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi. “Ini memang yang menjadi tantangan kita. Soft infrastructure kita siapkan dan kita benahi sambil menunggu hard infrastructure seperti pelabuhan-pelabuhan baru selesai dibangun, saya yakin Indonesia bisa menjadi top performer di kawasan Asia. Oleh karena itu, pembangunan pelabuhan baru, juga penataan kawasan pelabuhan harus segera dimulai, harus didukung semua pihak,” tukasnya.

Seperti diketahui, Bank Dunia pada awal minggu lalu merilis data Logistic Performance Index (LPI) 2012. Dalam hasil riset LPI 2012, Indonesia berhasil naik peringkat dari posisi 75 di tahun 2010 menjadi posisi 59 di tahun 2012 ini, dengan kenaikan indeks dari 2.76 menjadi 2.94. Peningkatan ini memang belum membawa Indonesia menjadi yang terbaik di kawasan asia tenggara.

Namun demikian, tambah Lino, peningkatan ini menunjukkan perbaikan yang signifikan, di saat negara-negara tetangga, kecuali Singapura mengalami stagnasi atau penurunan peringkat.

Terlebih lagi, kata Lino, indeks ini dicapai dalam kondisi belum selesainya pembangunan infrastruktur utama logistik, seperti pelabuhan-pelabuhan baru dan soft infrastructure sebagai penunjangnya. “Kenaikan tertinggi dalam indikator tersebut terjadi di wilayah soft infrastructure yang meliputi kompetensi logistic handler dan kemampuan pemilik barang untuk mengetahui di mana saat ini barangnya berada (tracking and tracing),” lanjutnya. **bari

BERITA TERKAIT

“Make Indonesia Great Again”, Mirip Trump-isme?

  Oleh: Iman Poldi, Mahasiswa Fikom Univ. Gunadarma   Calon Presiden (Capres) nomor urut 2, Prabowo Subianto baru-baru ini  menggunakan…

Indonesia Sejajar dengan Eropa Soal Pengawasan Obat dan Makanan

Indonesia Sejajar dengan Eropa Soal Pengawasan Obat dan Makanan  NERACA Jakarta - Pemerintah Palestina optimistis Indonesia dapat sejajar dengan negara-negara…

Sampoerna Dukung Pemberdayaan UKM di Indonesia

Sampoerna Dukung Pemberdayaan UKM di Indonesia NERACA Jakarta – Pemberdayaan sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di terus dilakukan di…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Tarik Investor Dengan Insentif Perpajakan

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati akan memperkuat insentif perpajakan guna pendalaman pasar keuangan…

Sejak Revisi PMK, Delapan Perusahaan Terima Tax Holiday

    NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan sebanyak delapan perusahaan atau wajib pajak sudah menerima…

Bantu Petelur, Pemerintah Cari Bahan Baku Pakan

    NERACA   Blitar - Pemerintah Kabupaten Blitar, Jawa Timur dan Direktorat Jenderal (Ditjen) Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH)…