Asal Pasokan Valas Perlu “Dipertimbangkan”

NERACA

Jakarta-- Bank Indonesia (BI) mesti melihat asal muasal penambahan persediaan pasokan valas untuk menaikkan pasokan valas. "Untuk menaikkan pasokan valas harus dilihat dulu darimana BI menambahkan valasnya, yang dampak penambahannya belum ditegakkan secara solid," kata ekonom LIPI, Latif Adam di Jakarta.

Lebih jauh kata Latif, dampak pertama penambahan terlihat dimana kuartal pertama tahun ini mengalami neraca perdagangan defisit, yang terakhir pada kuartal II-2008. Sementara konteks perdagangan banyak menghabiskan devisa. "Kedua, dari portofolio investment yang likuiditas, dimana dolar yang masuk dari investasi portofolio tingkat likuiditasnya harus dilihat," tambahnya

Latif menambahkan, ketiga, pemerintah membuat stand by loan, di mana penambahan utang baru yang siap ditarik kapan pun untuk mengantisipasi krisis, serta cadangan suntikan dari Singapura dan Jepang.

Terkait dengan pelemahan rupiah akibat pemilu Yunani, lanjut Latief, dinamika sosial ekonomi Eropa diprediksi akan semakin riskan dan kemungkinan masih berkepanjangan. "Masih ada perdebatan tentang kebijakan penghematan fiskal yang disusun pada 2011 yang membatasi utang negara maksimal 60%, membuat kebijakan fiskal negara Eropa terbatasi," paparnya

Menurut Latif, Pemilu Yunani akan membuat permasalahan baru. Politisi akan menyerang pihak-pihak tertentu, yang membuat makin panjangnya masalah stabilitas mata uang tidak hanya di Yunani. Mata uang Eropa dan dolar Amerika akan terimbas masalah sosial politik ekonomi yang belum solid.

Latif menjelaskan, pergerakan rupiah yang tingkat fluktuasinya tinggi dan berkepanjangan akan menyulitkan pengusaha untuk menentukan berapa nilai tukar secara permanen. "ini membuat bisnis plan sulit untuk menentukan saat mengimpor," ujar Latif.

Ketergantungan BI terhadap Impor akan raw material sangat tinggi. Menurut Latif, dengan fluktuasi yang tinggi, akan membuat harga produksi tinggi. Dengan begitu, inflasi tidak bisa dipungkiri menyebabkan segala sektor akan menaikkan harga-harganya. "Saya berharap BI dan pemerintah harus tetap terus memantau faktor eksternal dan pergerakan rupiah setelah pemilihan di Yunani selesai," imbuhnya.

Sebelumnya, Riset dan Kebijakan Moneter BI Perry Warjiyo mengungkapkan BI ingin kegiatan hedging melalui swap dan forward ditingkatkan untuk mengembangkan pasar valas. "Swap selama ini ada batasan jangka waktunya. Apakah bisa diperluas misalnya satu bulan, yang selama ini cuma tiga dan enam bulan," ujarnya

Perry menambahkan, pertimbangan termnya lebih ke short term. Biasanya kebutuhan valas untuk lindung nilai. "Kalau enggak ada kebutuhan rupiah, ya pakai forward. Kalau untuk financing rupiah ya swap. Dua pasar itu harus dikembangkan bersamaan," terangnya

Dikatakan Perry, hedging itu kan melindungi nilai dari valas terhadap gejolak kurs, cara melindunginya dengan forward. "Kalau saya punya dolar, satu bulan yang akan datang ratenya jelas, saya pakai forward itu untuk lindung nilai terhadap kurs," tuturnya

Menurut Perry, Kalau pada saat yang sama, seperti sekarang perlu rupiah untuk bayar gaji, maka lebih dipilih swap. Di mana satu bulan kemudian sudah ada kepastian kurs berapa jika dibutuhkan valas.

Yang jelas, kata Perry, term deposit valas untuk menahan pasokan dalam negeri yang selama ini sebagian disimpan di luar negeri. Suksesnya lelang term deposit valas didasari akan tekanan Eropa. "Kemarin sukses lelang term deposit valas, peminat dari bank masuk," ucapnya

Lebih lanjut Perry menambahkan, masalahnya selama ini, tekanan Eropa masih berkelanjutan. Sehingga dari pelaku pasar termasuk pemegang supply valas mereka tahan pasokannya ke pasar dan sebagian disimpan di luar negeri. "Dengan adanya term Deposit valas, mereka akan me-recycle. Kita akan terus lakukan itu sampai pasar normal. Kalau nanti pasar dalam negeri sudah mampu kasih pasokan terhadap permintaan yang ada dalam kondisi normal. Kalau ada tekanan lagi, selama yang megang valas menahan dolar di luar negeri, bisa dilakukan lagi. Sehingga pasokannya ada," ujar Perry.

Perry menambahkan, tambahan dari pasokan valas dalam negeri tentu dari BI, selama ini terjadi mismatch antara supply dan demand. "Di dalam pengembangan term deposit valas ini bukan one shot," pungkasnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

Penggolongan Tarif Listrik Perlu Hati-hati

NERACA Jakarta – Kementerian ESDM menjelaskan rencana penyederhanaan golongan pelanggan listrik rumah tangga nonsubsidi, yang sampai saat ini masih dalam…

UKM Perlu Bersinergi Hadapi Era Digital

 NERACA   Jakarta – Usaha Kecil Menengah (UKM) diminta untuk bersinergi dalam menghadapi era digital. Karena itu, Kamar Dagang dan…

Kejar Target RPJMN Perlu Kerja Keras

    NERACA   Jakarta - Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menilai untuk mencapai target-target pembangunan dalam RPJMN 2015-2019, maka…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Bank Tak Efisien Dalam Mengejar Laba

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengkritisi perbankan, terutama bank-bank besar, yang belum efisien dalam mengejar…

Pemerintah 'Pede' Tingkatkan Inklusi Keuangan

      NERACA   Jakarta - Pemerintah optimistis dapat meningkatkan indeks inklusi keuangan masyarakat mencapai 75 persen pada tahun…

Neraca Pembayaran Diprediksi Surplus US$10 miliar

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia memperkirakan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) sepanjang 2017 akan surplus sebesar 10…