Menghadapi Perubahan Hormonal - Penyandang Epilepsi (PE) Perempuan Perlu Persiapan Matang

NERACA

Komorbiditas atau penyakit penyerta terhadap epilepsi pada anak penting untuk diwaspadai karena dapat memperburuk kualitas hidup. Angka kejadian komorbiditas epilepsi sebesar 30%-40% dari jumlah kejadian epilepsi.

Komorbiditas yang sering terjadi pada anak-anak antara lain penurunan konsentrasi / gangguan hiperaktif, cerebral palsy, obesitas dan Benign Occipital Epilepsy of Childhood (BOEP) yang secara umum dapat mengakibatkan munculnya masalah-masalah yang lebih kompleks dibandingkan epilepsi tanpa komorbiditas.

Orang tua diimbau untuk memperhatikan dengan seksama masalah komorbiditas ini dan segera mengkonsultasikan kepada para ahli agar dapat mengontrol bangkitan dan dampaknya. Di lain pihak, PE perempuan perlu memiliki persiapan yang matang dalam memasuki masa pubertas, menstruasi, fertilitas, kontrasepsi pil, suntik dan implan, kehamilan, proses kelahiran, menyusui, merawat bayi, menopause dan terapi sulih hormon.

Banyak PE perempuan merasakan adanya pengaruh perubahan hormon terhadap bangkitannya. Berbagai hormon di dalam tubuh perempuan mengontrol pertumbuhan tulang dan otot, ritme jantung, lapar, emosi dan siklus menstruasi.

Hormon yang berperan pada siklus menstruasi, estrogen dan progesteron terbukti berhubungan dengan bangkitan epilepsi.

Pada kesempatan ini, dr. Dwi Putro Widodo, SpA (K) mengemukakan, “Epilepsi idiopatik biasanya terjadi pada anak dengan perkembangan dan pemeriksaan fisiknya normal dan umumnya terjadi pada usia tertentu.

Epilepsi ini sering terjadi pada penderita lumpuh otak atau celebral palsy (CP) dengan prevalensi berkisar antara 10%-80%. PE anak yang juga menderita CP memiliki kerentanan gangguan mental dibandingkan dengan anak yang menderita CP tanpa epilepsi.

Selain itu, angka kejadian epilepsi pada anak dengan gangguan intelektual sebesar 23-45%, epilepsi pada penderita autis sekitar 30%-40%.” Penyandang Epilepsi anak dengan cerebral palsy menghadapi berbagai masalah yang lebih kompleks, seperti rendahnya kemampuan untuk mengerti, berkomunikasi serta memecahkan masalah.

Di samping itu, mereka juga sering menghadapi lemah otot, kesulitan untuk berdiri atau berjalan serta postur tubuh. Autisme merupakan salah satu komorbiditas epilepsi karena penyandang autisme memiliki risiko lebih besar untuk mengalami epilepsi dibandingkan dengan anak yang tidak autisme.

Sebanyak 40% anak penyandang autis juga mengalami epilepsi, sedangkan risiko pada anak bukan autisme hanya sekitar 1-2% saja. Sebaliknya anak yang mengalami epilepsi tertentu sering disertai dengan gejala autisme.

Komorbiditas lainnya adalah retardasi mental, ADHD, global delay, dan lain-lain yang dapat mempengaruhi prognosisnya. “Epilepsi juga dapat terjadi karena beberapa etiologi yang spesifik, seperti gangguan kromosom, down syndrome, sindrom Angelman, sindrom Rett. Epilepsi juga dapat terjadi akibat adanya tumor pada otak, infeksi pada saraf pusat, gangguan metabolik dan mutasi gen,” tambahnya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap fungsi kognitif pada anak epilepsi menyatakan bahwa pada PE anak didapatkan gangguan fungsi intelegensi, pemahaman bahasa, gangguan visuopasial dan gangguan fungsi kognitif.

Penelitian tersebut juga menunjukkan adanya perbedaan yang sangat bermakna pada IQ PE anak dibandingkan dengan anak tanpa epilepsi. Di negara berkembang, insidensi epilepsi pada anak berkisar antara 25-840 per 100.000 penduduk per tahun.

Jenis epilepsi yang sering dialami anak-anak adalah epilepsi idiopatik dan simptomatik. Hasil penelitian yang dilakukan di USA, UK dan Swedia pada semua usia PE menunjukkan bahwa setelah melakukan pengobatan teratur selama 10 tahun, akumulasi pengurangan bangkitan selama 5 tahun sebesar 58%-65%.

Pada PE anak ditemukan persentase penurunan bangkitan yang lebih tinggi yaitu sebesar 74% dalam rentang waktu 3-5 tahun pada masa pengobatan teratur selama 12-30 tahun.

“Epilepsi tidak dapat dicegah, namun dapat dilakukan tata laksana yang tepat untuk mengontrol bangkitan, yakni dengan melakukan pengobatan secara teratur dan disiplin.

Dalam hal ini, orang tua memiliki peranan penting agar PE anak patuh untuk minum obat anti epileptik. Orang tua jangan terlalu khawatir akan efek samping dari obat yang dikonsumsi, karena efek samping bangkitan jauh lebih buruk daripada efek samping OAE,” jelas dr. Dwi.

Menurut WHO, epilepsi menyerang 1% penduduk dunia. Apabila Indonesia berpenduduk 240 juta maka jumlah keseluruhan penyandang epilepsi (PE) di Indonesia adalah 2.400. 000. Setengah dari seluruh PE adalah perempuan.

Pada kesempatan yang sama Dr. dr. Kurnia Kusumastuti, SpS (K) menjelaskan, “Meskipun hormon pada umumnya tidak menyebabkan munculnya bangkitan epilepsi, namun hormon dapat mempengaruhi terjadinya bangkitan.”

Hormon estrogen membuat otak lebih mudah terjadi bangkitan, sebaliknya hormon progresteron menyebabkan otak lebih sulit terjadi bangkitan. Inilah yang menyebabkan sebagian perempuan sering mengalami perubahan pola bangkitan di saat terjadi fluktuasi hormonal seperti saat pubertas, menstruasi dan menopause.

Pada masa pubertas, terjadi perubahan fisik dan emosional yang kompleks. Kadar hormon yang berfluktuasi di saat pubertas dapat mempengaruhi bangkitan.

Perubahan fisik dapat terjadi sangat cepat, sehingga dosis obat anti epilepsi (OAE) yang terbiasa diminum PE perempuan tidak lagi cukup, sehingga seringkali diperlukan penambahan dosis.

Sedangkan pada masa menstruasi, terdapat tendensi untuk terjadinya bangkitan pada bagian tertentu dari siklus menstruasi yang disebabkan oleh fluktuasi hormonal, retensi/pengumpulan cairan tubuh, penurunan kadar OAE sebelum menstruasi, tidur yang terganggu dan stres serta kecemasan.

“Epilepsi dapat mempengaruhi fertilitas pada perempuan, termasuk sulit hamil, gangguan semasa kehamilan dan proses kelahiran. Salah satu penyebabnya adalah Polycystic Ovaries syndrome (PCOS),” ujarnya seraya menambahkan,

“Konseling pra kehamilan sangat dianjurkan karena tatalaksana epilepsi harus ditelusuri kembali dengan seksama sebelum kehamilan. Dengan bekerjasama dengan dokter maka risiko terhadap anaknya dapat diminimalkan.”

Apabila kehamilan sudah terjadi, maka perlu berkonsultasi dengan dokter, guna mengurangi obat, merubah obat, dan menambahkan vitamin/suplemen yang mengandung asam folat. Apabila kehamilan terjadi tanpa rencana maka sebaiknya tidak merubah obat anti epilepsi dan segera berkonsultasi dengan dokter.

Lebih dari 93% PE perempuan mempunyai kehamilan normal dan janin yang sehat dan 25-30% PE perempuan, bangkitannya meningkat selama kehamilan, namun sebagian besar merasakan tidak ada perubahan tentang frekuensi bangkitannya. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk mengontrol bangkitannya sebelum terjadi kehamilan.

Tentang melahirkan dan menyusui, seperti yang dijelaskan dr. Kurnia, persalinan PE harus dilakukan di klinik atau rumah sakit yang mempunyai fasilitas perawatan epilepsi dan unit perawatan intensif untuk bayi.

Persalinan dapat dilakukan secara normal tanpa operasi dan selama persalinan OAE masih tetap harus dikonsumsi. PE perempuan dianjurkan untuk tetap menyusui bayinya. Adanya OAE dalam air susu ibu jarang menimbulkan masalah pada bayinya.

Namun apabila bayi terlihat mengantuk terus maka konsultasi ke dokter harus dilakukan. Perlu diingat, menyusui merupakan pekerjaan yang melelahkan dan kurang tidur dapat mencetuskan bangkitan.

Oleh karena itu Ibu perlu memperhatikan dengan seksama waktu istirahat dan berhati-hati dalam merawat bayi.

BERITA TERKAIT

Pengendalian Inflasi Perlu Kerjasama Antar TPID

  NERACA   Jakarta - Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinasi Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan perlu kerja…

Pembangunan Infrastruktur Perlu Fokus Perlancar Distribusi Barang

    NERACA   Jakarta - Pembangunan sektor infrastruktur yang sedang digalakkan di berbagai daerah perlu fokus diarahkan guna memperlancar…

Perlu Upaya Bersama Menangkal Terorisme

  Oleh: Ardian Wiwaha, Mahasiswa FISIP Universitas Indonesia Teror atau terorisme, dua kata yang identik dengan menakut-nakuti bahkan tak jarang…

BERITA LAINNYA DI KESEHATAN

Alasan Diabetes Bisa Berujung Kematian Mendadak

Mengapa kadar gula tinggi pada penyandang diabetes bisa menyebabkan kematian mendadak? berikut paparan spesialis penyakit dalam dari RSCM, Dr. Wismandari…

Alat Kontrasepsi IUD Dapat Kurangi Risiko Kanker Serviks

Perempuan yang mendapat alat kontrasepsi (intra-uterine device/IUD) untuk mengendalikan kelahiran tampaknya memiliki risiko lebih kecil terkena kanker serviks, kanker paling…

Olahraga Bersama Lebih Ampuh Kurangi Stres

Berolahraga bersama teman kemungkinan besar lebih baik untuk kesehatan Anda, ketimbang melakukannya sendirian. Studi dalam Journal of the American Osteopathic…