Saham Bhakti Investama Bergerak Tak Wajar - Penggorengan Saham Untuk Menjaga Citra

NERACA

Jakarta – Kasus dugaan penyuapan pajak yang menyeret perusahaan investasi PT Bhakti Investama Tbk Jum’at lalu, membuat saham perseroan turun menjadi Rp 375 persaham dari sebelumnya Rp380 per saham. Tetapi kemudian diawal pekan kembali positif, padahal biasanya kalau ada sentimen negatif, saham bersangkutan bakal turun. Apalagi kalau sentimen negatifnya akibat pemberitaan kurang bagus

Kondisi inilah yang dinilai tidak normal sehingga dituding ada upaya penggorengan dari perusahaan milik Hary Tanoesoedibjo. Kepala Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo menyebut, naiknya harga saham Bhakti Investama karena ada yang melakukan pencitraan disitu. Maksudnya, ada pihak-pihak tertentu yang menginginkan saham tersebut naik kembali. “Tapi saya tidak tahu pihak-pihak itu siapa saja. Namun, naiknya saham Bhakti kan tidak terlalu besar. Itu bisa saja karena faktor saham itu secara fundamental masih baik. Kalau dikatakan goreng-gorengan, saya belum bisa katakan ke arah sana. Tapi saya tegaskan, kalau ada pihak-pihak yang ingin saham Bhakti naik, pasti ya,” tegas Satrio kepada Neraca di Jakarta, Kamis (14/6).

Meskipun demikian, dia menjelaskan, biasanya kalau ada sentimen negatif, saham bersangkutan bakal bergerak turun. Apalagi kalau sentimen negatifnya akibat pemberitaan kurang bagus. Akan tetapi, jika pada akhirnya berita buruk itu menjadi berita positif, maka saham tersebut akan meningkat atau rebound.

Sementara menurut pengamat pasar modal dari Universitas Pancasila Agus Irfani, kasus dugaan penyuapan pajak yang menyeret PT Bhakti Investama Tbk, otomatis membuat saham perseroan terperosok di pasar. “Saya yakin saham mereka akan jatuh. Ditambah lagi pemanggilan Hary Tanoesudibyo oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kemarin,” ujarnya.

Dia menilai, kondisi pasar di Indonesia lebih banyak dipengaruhi secara psikologis, dibandingkan secara fundamental. “Memang aneh kondisi pasar kita ini, demo di DPR saja tidak mempengaruhi. Itu karena pasar kita lebih dipengaruhi global dan regional. Tapi kalau urusannya psikologis, malah lebih berpengaruh,”ungkapnya

Dia juga menambahkan, sosok Hary Tanoe sebagai figur masyarakat, semakin mempengaruhi pergerakan saham Bhakti Investama. Mengenai kinerjanya ke depan, Agus menyatakan secara internal tidak akan berpengaruh. Akan tetapi, lanjut dia, secara teknikal kinerja pasarnya akan menurun. “Harga saham dan kinerjanya bisa membaik, asalkan pada putusan akhir mereka terbukti tidak bersalah,” tegas Agus lagi.

Belum Keputusan Final

Sementara itu, pandangan yang berbeda diungkapkan analis Remax Capital, Lucky Bayu Purnomo. Menurutnya, baik secara fundamental dan teknikal, tak akan berpengaruh ke kinerja Bhakti Investama. Pasalnya, keputusan dan penyelesaian belum mencapai final, sehingga sangat kecil pengaruhnya dari pasar.

Selain itu, saat ini perseroan sedang melakukan eskpansi yang agresif, seandainya sahamnya turun hal itu bukan berarti karena pasar. “Itu sentimen saja. Kecuali kalau Bhakti Investama kolaps. Otomatis pengaruhnya besar. Tapi ini kan tidak,” tukasnya.

Untuk itu, kata Lucky, pihak Bhakti Investama harusnya melakukan klarifikasi dua arah sehingga akan obyektif, apakah mereka bersalah atau tidak. Setelah itu barulah pasar melakukan apresiasi. Hanya dengan catatan, kasus ini harus terus diikuti prosesnya. “Tak hanya pihak Bhakti yang konferensi pers, namun juga direktorat jenderal pajak juga melakukan. Jadinya obyektif,” ungkapnya.

Dijelaskannya pula, risiko saham itu terdiri dari dua macam, yakni human risk dan country risk. Kalau human risk, lanjut dia, manajemen perusahaan melakukan kesalahan yang berakibat pada kasus pidana.

Kemudian untuk country risk, lebih cenderung ke bencana alam seperti tsunami dan kudeta negara akibat pemilihan umum yang gagal. “Nah, kalau kasus Bhakti itu lebih ke human risk, ya, bermasalah di internal mereka,” tandas Lucky.

Managing Research Indosurya Asset Management, Reza Priyambada menambahkan, pemberitaan negatif dari suatu emiten, juga pasti akan berpengaruh pada pergerakan saham emiten itu sendiri. Menanggapi kasus Bhakti Investama, dia melihat kasus ini rentan menimbulkan sentimen negatif. “Pasti akan jadi sorotan pelaku pasar. Imbasnya, pergerakan saham mereka akan turun,” ungkapnya. Dia menambahkan, perusahaan besar akan sangat dipengaruhi oleh sentimen negatif apabila terkena kasus. Dengan demikian, investor pun akan menghindar.

Reza lalu mencontohkan, ketika Hary Tanoe pernah berselisih dengan Siti Hardiyanti Rukmana (mbak Tutut). Setelah itu saham grup MNC langsung merosot. Kendati demikian, dirinya memprediksi sentimen negatif tersebut tidak akan berlangsung lama.

Terbukti, pada penutupan bursa Kamis (14/6) kemarin, posisi saham Bhakti Investama naik 20 poin. Hal ini juga dipengaruhi pasar yang keseluruhan bergerak positif. Apalagi, lanjut Reza, ketika sudah ada kejelasan dari kasus ini dan seandainya Bhakti Investama tidak bersalah, maka pergerakan sahamnya akan normal kembali. “Menurunnya saham meraka itu hanya saat booming-nya kasus. Kalau sudah jelas siapa yang salah dan siapa yang benar, pasti akan normal kembali,” tutup Reza.

Dipanggil BEI

Sebelumnya, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito ikut angkat suara soal kasus suap pajak yang menyeret PT Bhakti Investama Tbk dan PT Agis Tbk. “Kami akan minta keterangan pada dua perusahaan itu. Saya yakin dua perusahaan akan memberi informasi ke publik dengan transparan karena mereka perusahaan terbuka,”tandasnya.

Sedangkan kuasa hukum Bhakti Investama Andi Simangunsong membantah keterlibatan perusahaan dibalik restitusi pajak Rp 3,4 miliar itu. Menurutnya, uang Rp 3,4 miliar terlalu kecil bagi perusahaan yang awalnya didirikan di Surabaya itu. Andi mengungkapkan, Bhakti Investama memiliki aset keseluruhan hingga Rp 18 triliun dan setiap tahunnya menyetor Rp 1 triliun ke negara sebagai pajak.

Asal tahu saja, PT Bhakti Investama tercatat sebagai pemegang saham PT Agis Tbk pada 2002 dan 2004. Profil dan laporan tahunan (prospektus) PT Agis menyebutkan, saham PT Bhakti Investama di perusahaan tersebut mencapai 41,3% atau Rp 138 miliar pada 2002 dan 40,74% atau Rp 152,9 miliar pada 2004.

BERITA TERKAIT

Era Digital, Buka Rekening Tak Lagi Punya Buku

      NERACA   Jakarta - Pertumbuhan teknologi dan perkembangan digital yang pesat membawa perubahan dalam berbagai sektor, termasuk…

Meski Rupiah Melemah, Subsidi BBM Tak Berubah

      NERACA   Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar masih dikisaran Rp15.200 yang mana nilai tersebut jauh…

KPPU: Pentingnya Competition Compliance untuk Asosiasi

KPPU: Pentingnya Competition Compliance untuk Asosiasi NERACA Jakarta – Untuk ketiga kalinya, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyelenggarakan executive forum…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Diversifikasi Pasar Ekspor Antisipasi Perang Dagang

NERACA Jakarta – Indonesia perlu melakukan berbagai langkah sebagai bentuk antisipasi dari dampak negatif perang dagang antara Amerika serikat dengan…

YLKI DESAK PERLINDUNGAN KONSUMEN MEIKARTA - KPK Siap Periksa Petinggi Lippo Group

Jakarta-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan segera memanggil sejumlah pihak dari Lippo Group, untuk selanjutnya diperiksa dalam kasus dugaan suap pengurusan…

Tahun Depan, Upah Minimum Provinsi Naik 8%

NERACA Jakarta – Pemerintah dalam hal ini Kementerian Ketenagakerjaan menetapkan untuk menaikkan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2019 sebesar 8,03%. Dikutip…