Krisis Global Harus Jadi Momentum

NERACA

Jakarta—Krisis global belum menunjukkan perkembangan ke arah perbaikan. Karena itu peningkatan investasi menjadi tantangan. Berdasarkan data, angka investasi di triwulan pertama masih cukup baik, bahkan dapat dikatakan salah satu yang tertinggi dalam sejarah. Dengan total mencapai Rp71,2 triliun dengan porsi sekira asing Rp51,5 triliun dan domestik Rp19,7 triliun. "Persoalannya akan bisa bertahan kuartal II, III dan IV? Karena kita tahu ada soal Yunani, dan kita tahu juga AS belum sepenuhnya pulih," kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) M Chatib Basri di Jakarta,14/6.

Menurut Dosen FEUI ini, saat ini sumber pertumbuhan dunia bergeser dari sebelumnya di Eropa dan AS, mulai beralih ke Asia. "Orang mulia bicara mengenai the Asean Centre. Kalau kita bicara mengenai Asia, sebtulnya tiga negara besar, yakni China, Asia Timur, India dan Asia Selatan, dan ASEAN," tambahnya

Chatib melanjutkan, Indonesia merupakan pusat perekonomian ASEAN. Hal tersebut lantaran penduduk Indonesia di ASEAN merupakan yang terbesar. "Populasinya itu 48% Asean, dari Indonesia," tegasnya

Oleh karena itu, kata Chatib lagi, pihaknya berusaha meyakini pasar Indonesia masih sangat menarik. Dia memberikan contoh India, yang kemarin tumbuh lima persen, sedangkan Indonesia bisa tumbuh 6,3%. "Nah artinya peluangnya ada tinggal dari sisi kita sekarang, apa yang perlu diatasi saya kira soalnya masih klasik. Bahwa invesment sudah mulai naik tetapi juga kita tidak bisa menutup bahwa iklim investasi harus diperbaiki. Mulai dari waktu kesepakatan bisnis, rantai birokrasi, berkaitan infrastruktur," tandasnya

Untuk itu, Chatib meminta koordinasi dengan kementerian lain, karena perangkat instruksi tidak ada di BKPM. Hal ini dilakukan untuk menjamin investasi terjadi, dan tidak sekadar asetnya saja. "Tetapi juga aset yang tidak kelihatan, itu adalah kebijakan kondusif. Ini sebagian dari kerjasama seluruh dari kementerian. Saya tidak bisa bilang saya review karena instrumenya bukan di kita. Tetapi kita bilang dari segi investasi itu yang dibutuhkan iklim yang kondusif," ucapnya.

Diakui Chatib, krisis global ini juga secara pasti telah terindikasi menuju ke perekonomian Indonesia. "Krisis ini bisa mulai memberikan dampak kepada Indonesia bisa dalam 100 hari," tukasnya

Karenannya, dia mengatakan fokus utama dari Pemerintah adalah bagaimana membuat investor dapat meraasa nyaman di negeri ini. "Hitunglah dunia yang sulit, Indonesia tetap jadi pilihan. Soal mekanisme kebijakannya, setelah itu kita bicarakan lebih detil," tuturnya

Chatib mengungkapkan Indonesia tidak boleh kehilangan momemntum menjaga investasi masuk ke Indonesia. Menurut dia, pada kuartal I investasi dapat berkembang dengan baik sekali. "Tetapi kita tunggu nanti kuartal II. Kalau dilihat kuartal I, saya tidak melihat masalah sebernarnya, karena tumbuh sekitar 30 persen kalau secara yoy, paling tinggi sepanjang sejarah kita," pungkasnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

LISTING LCK GLOBAL KEDATON

kiri ke kanan. Direktur Utama PT LCK Global Kedaton Tbk Lim Kah Hock, Komisaris Utama Lim Chim Kim, Wakil Dubes…

ICW: 2018 Momentum Krusial Dalam Demokrasi Indonesia

ICW: 2018 Momentum Krusial Dalam Demokrasi Indonesia NERACA Jakarta - Indonesia Corruption Watch (ICW) menyatakan tahun 2018 adalah periode momentum…

2018, Indonesia Harus Menjaga Momentum

Pengamat Ekonomi dan anggota Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional, Drajat H Wibowo mengatakan Indonesia pada 2018 ini harus bisa menjaga…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Harga Minyak Dunia Melambung Tinggi

  NERACA   Jakarta - Harga minyak dunia melayang di dekat level tertinggi tiga tahun di 70 dolar AS per…

Meningkatnya Pertumbuhan Konsumsi Di Luar Rumah

      NERACA   Jakarta - Perusahaan riset Kantar Worldpanel Indonesia memonitor pola belanja konsumen untuk produk makanan dan…

Bisnis Game yang Mulai Berubah ke Mobile - Audition AyoDance Mobile

    NERACA   Jakarta – Industri game di Indonesia tengah mengalami perubahan yang signifikan. Jika sebelumnya, game berbasis Personal…