Akhir Pekan, IHSG Masih Berat Pertahankan Penguatan

Neraca

Jakarta – Bayang-bayangan sentimen negatif bursa global, akhirnya menjadi pemberat pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) Kamis ditutup jatuh 68,843 poin (1,79%) ke level 3.791,618. Sementara Indeks LQ45 anjlok 12,683 poin (1,93%) ke level 645,018.

Analis Panin Sekuritas Purwoko Sartono mengatakan, maraknya tekanan jual memicu indeks terkoreksi paling dalam di antara bursa-bursa Asia lainnya, “IHSG turun cukup dalam didorong oleh beberapa sentimen negatif antara lain penjualan ritel AS yang turun dan juga kekhawatiran krisis utang Eropa yang meningkat setelah yield surat utang Jerman dan Italy meningkat," katanya di Jakarta, Kamis (14/6).

Dia menambahkan, data penjualan ritel AS bulan Mei turun 0,2% menandakan terbatasnya lapangan pekerjaan sehingga mengurangi daya beli masyarakat. Selain itu, lembaga pemeringkat internasional Moody's menurunkan peringkat Spanyol sebanyak tiga tingkat dari A3 dan Baa3 seiring dengan meningkatnya beban utang, pelemahan ekonomi, dan keterbatasan akses ke pasar modal, juga menjadi katalis negatif bagi bursa regional.

Oleh karena itu, sentimen negatif dari Eropa dan AS diperkirakan terus membuat nilai transaksi IHSG tipis karena pasar masih melakukan aksi "wait and see" hingga ada kepastian adanya langkah yang konkrit dalam menangani krisis utang Eropa.

Maka karena itu, IHSG Jum’at akhir pekan masih akan bergerak terbatas dan diproyeksikan indeks akan bergerak pada kisaran support-resistance 3.760-3.820 poin. Sementara beberapa saham unggulan sudah mulai memasuki area jenuh jual (oversold).

Perdagangan kemarin, rata-rata indeks sektoral di BEI terkena koreksi lebih dari satu persen, bahkan beberapa ada yang mencapai dua persen. Koreksi ini membuat indeks semakin betah di zona merah. Aksi jual juga dilakukan oleh investor asing. Transaksi investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 125,401 miliar di seluruh pasar.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 112.442 kali pada volume 7,551 juta lot saham senilai Rp 3,583 triliun. Sebanyak 44 saham naik, sisanya 249 saham turun, dan 52 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Mayora (MYOR) naik Rp 800 ke Rp 23.150, Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 500 ke Rp 34.700, Citra Turbindo(CTBN) naik Rp 450 ke Rp 4.950, dan Tiga Raksa (TGKA) naik Rp 150 ke Rp 1.300.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain United Tractor (UNTR) turun Rp 1.150 ke Rp 22.250, Sona Topas (SONA) turun Rp 500 ke Rp 2.000, Surya Esa (ESSA) turun Rp 425 ke Rp 2.250, dan Indomobil (IMAS) turun Rp 400 ke Rp 7.400.

Perdagangan sesi I, indeks BEI juga ditutup melemah 34,219 poin (0,89%) ke level 3.826,242. Sementara Indeks LQ45 turun 6,262 poin (0,96%) ke level 651,439. Saham-saham unggulan, terutama bank dan komoditas berperforma buruk pada perdagangan kemarin. Saham-saham lapis dua juga tak ketinggalan ikut dilepas investor.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 57.187 kali pada volume 3,061 juta lot saham senilai Rp 1,533 triliun. Sebanyak 47 saham naik, sisanya 193 saham turun, dan 60 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Mayora (MYOR) naik Rp 1.100 ke Rp 23.450, Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 1.000 ke Rp 35.200, Maskapai Reasuransi (MREI) naik Rp 200 ke Rp 2.000, Bukit Asam (PTBA) naik Rp 150 ke Rp 13.400.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain United Tractor (UNTR) turun Rp 800 ke Rp 22.600, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 550 ke Rp 57.050, Multibreeder (MBAI) turun Rp 350 ke Rp 12.050, Sona Topas (SONA) turun Rp 350 ke Rp 2.150.

Sementara pada awal perdagangan, indeks BEI dibuka turun 2,73 poin atau 0,07% ke posisi 3.857,73. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 0,69 poin (0,11%) ke level 657,00.

Analis Sinarmas Sekuritas, Jeff Tan mengatakan, data ekonomi penjualan ritel AS yang dirilis kemarin mengalami penurunan, hal itu mendorong saham-saham AS tertekan dan berdampak pada bursa kawasan Asia termasuk IHSG BEI. "Selain data dari AS, hasil lelang obligasi jangka menengah dan panjang Italia juga memberikan sentimen terhadap indeks BEI,"paparnya.

Sementara analis dari Samuel Sekuritas, Christine Salim menambahkan, IHSG tertekan mengikuti bursa Asia yang rata-rata turut dibuka melemah sekitar 0,7% didorong dari koreksi bursa global Rabu malam.

Dia mengatakan, sentimen negatif penurunan peringkat utang Spanyol oleh Moody's menjadi Baa3 menambah sentimen negatif di pasar saham global. "Beberapa saham yang menjadi 'leading mover' kemarin diperkirakan mengalami tekanan ambil untung seperti sektor semen, perbankan dan otomotif," katanya.

Bursa regional di antaranya indeks Hang Seng melemah 180,27 poin (0,95%) ke level 18.846,25, indeks Nikkei-225 turun 59,33 poin atau 0,69% ke level 8.528,51 dan Straits Times melemah 11,36 poin (0,43%) ke level 2.775,11. (bani)

BERITA TERKAIT

Laju IHSG Sepekan Ditutup Menguat 1,40%

NERACA Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam siaran persnya di  Jakarta, kemarin mencatat pergerakan indeks harga saham gabungan…

Tiga Mobil Baru BMW Bakal Dirilis Jelang Akhir Tahun

BMW Indonesia masih menyisakan tiga model terbaru yang akan dikenalkan pada akhir tahun 2018, yang membuat merek mobil mewah asal…

BEI Taksir Indeks Bisa Capai Level 6000 - Peluang IHSG di Akhir Tahun

NERACA Jakarta – Geliat pertumbuhan industri pasar modal tetap terus tumbuh, meskipun dana asing keluar di pasar modal juga cukup…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BSDE Bukukan Penjualan Rp 5,4 Triliun

NERACA Jakarta - PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) membukukan marketing sales sebesar Rp5,4 triliun di kuartal tiga 2018 atau 75%…

Volume Penjualan Rokok HMSP Tumbuh 1,2%

NERACA Jakarta —Di kuartal tiga 2018, emiten rokok PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) membukukan kenaikan volume penjualan rokok sebesar…

Clipan Finance Raup Laba Rp 226,16 Miliar

Pada kuartal tiga 2018, PT Clipan Finance Indonesia (CFIN) mencatatkan laba bersih senilai Rp 226,16 miliar. Jumlah tersebut meningkat 37,66%…