NTT fokus Bangun Industri Pariwisata - Terkait Proyek MP3EI

NERACA

Kupang - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur memfokuskan sejumlah proyek yang masuk dalam Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) kepada industry pariwisata dan ketahanan pangan. "Kami memfokuskan pada dua hal yaitu mengembangkan industri pariwisata dan ketahanan pangan. Kalau dari sisi pariwisata, NTT mempunyai pulau Komodo yang menjadi New 7 Wonders dan untuk ketahanan pangan, kami akan kembangkan tanaman jagung," kata Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT Frans Salem di Kupang,13/6

Pasalnya, menurut Frans, tanah di NTT cenderung kering dan kandungan airnya pun tidak terlalu banyak. "Kalau menanam jagung kan tak perlu banyak air, jadi cocok untuk di tanam di sini. Untuk peternakan, kami lebih memfokuskan hewan ternak seperti sapi agar bisa mensukseskan program pemerintah yaitu swasembada daging pada 2013," tambahnya

Namun demikian, kata Frans, pihaknya memandang masih banyak persoalan seperti permasalahan infrastruktur. "Kalau mau mensukseskan industri pariwisata tentunya dari sisi infrastruktur jalan harus memadai agar pengunjung merasa tertarik. Oleh karena itu, kami meminta agar pemerintah pusat memperhatikan infrastruktur terutama di bagian Timur Indonesia," jelasnya.

Tak hanya itu, lanjut dia, dengan iklim cuaca di NTT yang delapan bulan lebih banyak musim panasnya maka cocok untuk mengembangkan dan meningkatkan produksi garam. "Panjang garis pantai di NTT mencapai 5000 meter. Didukung dengan cuaca yang mendukung maka bisa dimanfaatkan untuk produksi garam. Kami juga akan mendukung swasembada garam," ucapnya

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), provinsi NTT masuk kedalam provinsi yang miskin. Tak ayal, Frans mengakuinya kalau dari 4,7 juta penduduk NTT, sebesar 20,47% adalah penduduk miskin. "Oleh karena itu, kami memfokuskan untuk mengentaskan kemiskinan, namun jika dibandingkan dengan tahun 2008, mencapai 27,58%. Jadi menurun, kami akan terus tekan angka kemiskinan tersebut," imbuhnya.

Pemprov NTT juga mengaku menjalankan program desa mandiri yang dihibahkan kepada masyarakat guna meningkatkan aktifitas ekonomi produktif untuk desa-desa yang miskin. "Kami mengalokasikan sekitar Rp250 juta per desa yang diberikan kepada 297 desa di NTT sehingga total dari program tersebut sekitar Rp20 miliar khusus untuk program desa mandiri," jelasnya.

Frans menjelaskan NTT amat sangat membutuhkan perhatian dari pemerintah pusat. "Bila dibandingkan dengan negara tetangga yaitu Timor Leste, kita (NTT) masih cenderung kurang maju. Harusnya kita lebih maju terlebih NTT adalah daerah perbatasan, namun kami tetap bangga untuk menjadi warga negara Indonesia," pungkasnya. **bari

BERITA TERKAIT

Intiland Bangun Proyek Hunian Subsidi FLPP - Gandeng Pengembang Lokal

NERACA Jakarta – Sebagai bentuk komitmen mendukung pemerintah untuk mengatasi backlog perumahan lewat program satu juta rumah dan juga memberikan…

Komisi I DPRD Akan Datangi Dishub Kota Sukabumi - Terkait Persoalan Angkutan Online

Komisi I DPRD Akan Datangi Dishub Kota Sukabumi Terkait Persoalan Angkutan Online NERACA Sukabumi - Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat…

Proyek Infrastruktur dan Pertumbuhan Ekonomi

  Oleh: Bhima Yudhistira Adhinegara Peneliti INDEF Pertumbuhan ekonomi 2017 diperkirakan berada di angka 5,05%. Level pertumbuhan ekonomi ini bisa…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Pemerintah Fokus Perbaiki Indikator yang Masih Jelek - Indeks Kemudahan Berusaha

      NERACA   Jakarta - Pemerintah terus bertekad untuk memperbaiki peringkat kemudahan berusaha (ease of doing business/EoDB) Indonesia,…

Konsumen FMCG Mulai Perhatikan Media Digital

      NERACA   Jakarta – Perusahan riset Kantar Worldpanel menyatakan bahwa lanskap media di Indonesia telah mengalami perubahan.…

Tak Hanya Diusut, KPK Diminta Sita Aset - Kasus BLBI

    NERACA   Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diminta untuk mengusut kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang…