Mengatasi Formalin dalam Cairan Pencuci Piring - Bisa Jadi Pemicu Penyakit Kanker

Penggunaan senyawa formalin (formaldehyde) memang sudah sejak lama dilarang oleh pemerintah. Hal itu tercantum dalam peraturan menteri (Permen) Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1168/1999.

NERACA

Dalam peraturan menteri kesehatan tersebut, formalin termasuk dalam 10 bahan tambahan yang dilarang penggunaannya, namun kenyataannya penggunaan formalin hingga saat ini masih banyak digunakan oleh banyak kalangan.

Penggunaan formalin hingga saat ini ditengarai juga terdapat dalam beberapa produk yang biasa digunakan masyarakat di antaranya dalam cairan pencuci piring, pelembut cucian, perawatan sepatu, pembersih karpet dan bahan adhesif, ujar Kepala Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Leonardus Broto Kardono, Senin (11/06) di Jakarta.

Ia mengatakan, bahwa formalin memiliki unsur aldehida yang bersifat mudah bereaksi dengan protein, termasuk protein yang terdapat dalam tubuh manusia. Melihat sifatnya, formalin juga sudah tentu akan menyerang protein yang banyak terdapat di dalam tubuh manusia seperti pada lambung.

Terlebih bila formalin yang masuk ke tubuh itu memiliki dosis yang tinggi, selain itu formalin juga memiliki sifat karsinogen atau dapat menyebabkan kanker.

“Ambang batas penggunaan formalin pun hingga kini belum ditetapkan jelas oleh pemerintah, mengacu America Conference of Govermental and Industrial Hygienists (ACGIH) menetapkan ambang batas (ThreshouldLimit Value/TLV) untuk formaldehida adalah 0,4 ppm,” tutur Leonardus.

Sementara dalam Internasional Programme on Chemical Safety (IPCS) disebutkan bahwa batas toleransi formalin yang dapat diterima tubuh dalam bentuk air minum adalah 0,1 mg per liter atau dalam satu hari asupan yang dibolehkan adalah 0,2 mg.

Kepala Labotorium Terpadu, Institut Pertanian Bogor (IPB) Zainal Ali Mas’ud DEA mengatakan, bahan formalin yang masuk ke dalam tubuh akan awet, dan efek samping yang ditimbulkan dalam tubuh manusia tidak secara langsung tetapi dalam jangka waktu lama baru terasa.

Ia menjelaskan, walaupun bahan formalin yang ada pada bahan pencuci piring akan hanyut ketika dibilas, tetapi masih ada bahan yang akan tertinggal, ini yang sangat membahayakan dalam kesehatan manusia, tuturnya.

Zainal mengatakan, semua produk dishwash liquid atau cairan pencuci piring memang memerlukan bahan pengawet. Bahan pengawet ini berfungsi mencegah pertumbuhan bakteri yang dapat menyebabkan produk terdegradasi atau rusak.

Menurut dia, produk yang menggunakan bahan formalin ada beberapa alasan mengapa beberapa produk pencuci piring di Indonesia menggunakan formalin sebagai bahan utama. Karena harga yang relatif murah, proses pengaplikasian sangat sederhana, dan memiliki kemampuan mengawetkan yang baik.

Dampak dari bahan formalin yang masuk ke dalam tubuh manusia dapat merugikan bagi kesehatan, mulai dari iritasi kulit, mata, dan hidung. Sedangkan, pada organ bagian dalam tubuh dapat mengganggu sistem kerja hati, saraf, paru-paru hingga menyebabkan kanker.

Zainal menambahkan, sebenarnya ada bahan pengawet lain yang lebih bersahabat daripada bahan yang mengandung formalin.

“Pengawet lain yang dapat digunakan dalam cairan pencuci piring dapat digantikan dengan yang lebih aman, seperti chloromethy isopropy carbonate. Bahan ini telah direkomendasikan oleh Food and Drug Administration America yang telah dipergunakan sejak 30 tahun lalu,” tuturnya.

70% Produk dishwash liquid

Sedangkan, marketing manager B-29, PT. Sinar Antjol Agus Marjan mengatakan, hampir 70% produk sabun cuci alat-alat rumah tangga disinyalir menggunakan bahan formalin sebagai bahan pengawet. Pengawet ini mutlak dipergunakan karena dapat membunuh bakteri dan dapat mengeluarkan busa sabun yang banyak. “Dikhawatirkan bila tidak diberi pengawet, akan rusak ketika berada dalam kemasan,” tandasnya.

Padahal sabun cuci piring digunakan kebanyakan pada alat-alat makan. Melihat tingginya probabilitas kontak dengan saluran cerna, berbahaya sekali menggunakan formaline dalam produk pembersih piring. Formaline sendiri sebenarnya sudah disebut-sebut sangat berbahaya bagi tubuh. IPCS (international programme on chemical safety) menetapkan batas toleransi formaline dapat diterima tubuh maksimal 0,1 mg/l (minuman) dan 0,2 mg/l (makanan).

Menurut Zainal, setiap kali kontak dengan sistem saluran cerna, formalin dapat memblok enzim dalam lambung. Selain itu, formalin dapat memicu timbulnya kanker.

Ia juga mengingatkan sifat formalin yang bisa terakumulasi di dalam tubuh dan sulit diurai. Lama kelamaan akan meningkatkan risiko kanker pada konsumen.

Ia menyarankan, sebagai konsumen harus pintar memilih produk pembersih rumah tangga. Pasalnya mendeteksi pembersih yang mengandung formalin dan nonformalin sulit dilakukan. Diperlukan penelitian laboratorium berkali-kali dengan metode tertentu.

“Konsumen harus melihat ingredient. Kalau Chloromethyl Isopropyl Carbonate bahannya aman tapi harganya agak mahal, kalau formalin murah, efektif, konvensional, tapi berbahaya,” tuturnya.

Berdasarkan penelitian IPB, produk B29 di antaranya cairan pencuci piring B-29 Diswash Formaline Free (Bebas Formalin), ambang batas penggunaan formalin di bawah ambang batas yang ditetapkan Pemerintah, sehingga Produk B29 aman digunakan, ungkapnya.

Menurut dia, bahan pengawet formalin ada di mana-mana, seperti di plastik, kardus, hingga cairan pencuci piring. Bahkan ikan pun mengeluarkan formalin tetapi dalam jumlah sedikit.

Meski demikian sebisa mungkin, konsumen menghindari produk yang berformalin, baik makanan, minuman, atau pembersih alat rumah tangga. Karena dampak yang akan ditimbulkan formalin sebagai berikut:

Dampak formalin bagi tubuh manusia:

1. Kulit: kulit kemerahan, kulit seperti terbakar, alergi kulit.

2. Mata: iritatif, mata merah, berair, kebutaan.

3. Hidung: mimisan.

4. Saluran pernafasan: sesak nafas suara serak, batuk kronis, sakit tenggorokan.

5. Saluran pencernaan: iritatif lambung, mual muntah, mulas.

6. Hati: kerusakan hati.

7. Paru-paru: radang paru-paru.

8. Saraf: sakit kepala, lemas, sulit tidur, sukar konsentrasi.

9. Ginjal: kerusakan ginjal.

10. Organ reproduksi: kerusakan testis, gangguan menstruasi, infertilitas sekunder.

Cara mengatasi jika ternyata bahan pembersih alat rumah tangga yang kita gunakan mengandung formalin adalah dengan membilas dengan air mengalir dengan dua kali dibilas.

BERITA TERKAIT

Mendes PDTT - Sekitar 30.000 Inovasi Desa Bisa Jadi Inspirasi

Eko Putro Sandjojo Mendes PDTT Sekitar 30.000 Inovasi Desa Bisa Jadi Inspirasi Jakarta - Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan…

Airdrop Cryptocurrency Bisa Selamatkan Nyawa, Platin Contohnya

Airdrop Cryptocurrency Bisa Selamatkan Nyawa, Platin Contohnya NERACA Jakarta - Platin (https://platin.io/) adalah sebuah perusahaan blockchain yang sedang membangun terobosan…

Pemerintah Hamburkan Dolar ke Luar Negeri, BI ke Dalam Negeri

Oleh: Gigin Praginanto, Pemerhati Kebijakan Publik Berapa banyak bank bakal klenger dihantam kredit macet? Berapa banyak pekerja bakal kena PHK…

BERITA LAINNYA DI KESEHATAN

Kemenpar Dorong Industri Kreatif Lewat Kustomfest 2018

Hasil karya anak bangsa tersaji dalam Indonesian Kustom Kulture Festival (Kustomfest) 2018 resmi digelar Sabtu, (6/10). Sebanyak 155 motor dan…

Ini Cara Terbaik Menjaga Kesehatan dan Kualitas Sperma

Tantangan kesuburan menjadi satu hal yang rumit bagi tiap orang. Kesehatan sperma selalu dikaitkan dengan konsep kejantanan pria. Maka dari…

Media Sosial Banyak Bikin Remaja Perempuan 'Galau'

Selama satu dekade terakhir, platform media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram telah mencuri perhatian banyak orang. Laman media sosial…