Wujudkan Transparansi dalam Laporan Keuangan - Managing Director PT RAS Actuarial Consulting: Zulhamdi, FSAI

NERACA

Kemampuan seseorang menganalisa kejadian masa depan yang berdampak pada segi finansial, memang tak banyak dimiliki, khususnya yang berhubungan dengan besar pembayaran di masa depan dan kapan pembayaran dilakukan pada waktu yang tidak pasti.

Konon di Indonesia hanya sekitar 30 perusahaan yang bergelut di bidang jasa laporan aktuaria atas kewajiban imbalan pasca kerja karyawan sesuai standar akuntansi (PSAK 24, International Accounting Standard, dan US GAAP) untuk melayani ratusan ribu perusahaan yang membutuhkan. Salah satunya PT RAS Actuarial Consulting, perusahaan konsultan di bidang Aktuaria, Employee Benefit dan Training.

Managing Director PT RAS Actuarial Consulting, Zulhamdi FSAI, saat menyambangi Redaksi Neraca menuturkan bahwa aktuaris adalah seorang ahli yang dapat mengaplikasikan ilmu keuangan dan teori statistik untuk menyelesaikan persoalan bisnis aktual.

Secara umum, kata Zulhamdi, aktuaris bekerja di bidang konsultasi, perusahaan asuransi jiwa, pensiun, dan investasi, “Aktuaris juga sedang merambah di bidang-bidang lainnya, di mana kemampuan analitis diperlukan,” ungkapnya.

Sebagai managing director and corporate actuary PT RAS Actuarial Consulting, pria dengan segudang kegiatan organisasi profesional ini bertanggung jawab sebagai aktuaris perusahaan, valuasi kewajiban dan beban imbalan kerja menurut standar akutansi keuangan (PSAK 24), valuasi pendanaan program pensiun manfaat pasti, valuasi cadangan asuransi jiwa dan asuransi kerugian, me-review produk asuransi jiwa, dan me-review program jaminan hari tua dan kesehatan.

Zulhamdi atau Zul akrab ia disapa, memulai kariernya di sebuah perusahaan asuransi, PT Sun Life Financial Indonesia pada 2004 sebagai strategic marketing supervisor, lalu PT AJ Manulife Indonesia tahun 2006 sebagai assistant manager actuarial pricing. Pada 2009, ia hijrah untuk bergabung dengan Consultant & Actuary PT Eldridge Gunaprima Solution, sebelum pindah sebagai Aktuaris pada PT Asuransi Cigna tahun 2009 hingga akhirnya dia tampil sebagai Managing Director & Corporate Actuary pada PT RAS Actuarial Consulting sejak Oktober 2010 hingga saat ini.

Zul menerangkan bahwa laporan penilaian aktuaria mencakup perhitungan kewajiban minimum perusahaan untuk membayar pensiun dan imbalan kerja pasti lainnya sesuai dengan UU No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan Peraturan Perusahaan (PKB). Pada laporan keuangan perusahaan, hasil penilaian aktuaria tersebut mencakup rekonsiliasi kewajiban imbalan kerja yang diakui di Neraca dan total beban imbalan kerja yang diakui pada Laporan Rugi Laba.

“Kami memiliki tim konsultan aktuaria yang didukung oleh beberapa aktuaris berpengalaman dan konsultasi di bidang kesejahteraan karyawan, asuransi dan dana pensiun,” ujarnya. Perusahaan itu didukung oleh prosedur quality control yang memadai, sehingga dapat melakukan perhitungan Kewajiban Diestimasi dan Beban Imbalan Pasti tersebut dengan baik.

Lulusan ITB jurusan Matematika tahun 1992 ini menjelaskan bahwa terdapat sejumlah metode aktuarial yang telah dikembangkan untuk mengestimasi kewajiban pemberi kerja yang menyelenggarakan Program Pensiun Manfaat Pasti. Walaupun pada dasarnya metode ini dirancang untuk tujuan pendanaan, kata Zul, seringkali metode ini digunakan juga untuk keperluan akuntansi dalam menentukan beban manfaat pensiun yang harus diakui setiap periode.

Secara umum, kata Zul, ada dua metode penilaian aktuaria: penilaian accrued benefit dan penilaian projected benefit. Pada penilaian accrued benefit, berasumsi tidak ada inflasi maupun deflasi yang menghasilkan biaya jasa yang akan meningkat tiap tahun.

“Dengan semakin dekatnya periode pensiun, maka makin sedikit hasil investasi yang dapat diakumulasikan dari iuran, dan semakin tinggi pula kemungkinan kelangsungan hidup karyawan sampai tiba periode pensiun,” ungkap pria kelahiran Batu Sangkar, Sumbar, 20 Juni 1974 ini.

Namun untuk program pensiun secara keseluruhan, maka biaya jasa tahunan akan sama setiap tahun. Hal itu karena jumlah dan distribusi umur dari karyawan yang aktif relatif tidak berubah, “Metode ini dimodifikasi dengan memasukkan asumsi proyeksi tingkat gaji akhir dan nilai manfaat yang diperoleh dialokasikan ke periode dimana jasa diberikan oleh karyawan untuk menentukan biaya jasa kini per tahun,” jelas Zul.

Sedangkan metode penilaian projected benefit adalah metode penilaian aktuarial yang menunjukkan nilai manfaat pensiun berdasarkan jasa yang telah diberikan karyawan sampai dengan tanggal penilaian. “Metode ini mengalokasikan biaya dari manfaat pensiun secara merata (dinyatakan dalam jumlah tertentu atau sebagai persentase dari gaji) selama masa kerja karyawan,” ungkapnya.

“Selain dengan membentuk program pensiun sendiri, alternatif lain adalah perusahaan dapat mengikutsertakan karyawannya pada program Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) yang dipasarkan oleh asuransi jiwa atau bank. “Dalam hal ini kami dapat membantu perusahaan melakukan analisis internal dan seleksi provider program DPLK yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan,” tambah Zul.

Ia menerangkan bahwa bagi perusahaan-perusahaan yang memiliki karyawan dalam jumlah yang cukup besar serta ditambah lagi dengan tanggungan keluarga karyawan, maka melaksanakan sendiri program Pemeliharaan Kesehatan merupakan suatu tugas yang cukup berat dan rumit.

“Secara umum pelbagai masalah yang akan timbul pada perusahaan sehubungan dengan hal tersebut, seperti biaya pemeliharaan kesehatan karyawan yang semakin tinggi dan tidak terkendali. Karena itu kami memiliki jasa Health Care Consulting yang dapat memberikan solusi melalui analisis, kajian dan rekomendasi tentang bagaimana seharusnya rancangan Program Kesehatan Karyawan yang optimal bagi suatu perusahaan,” ujarnya.

“Kami juga dapat membantu Perusahaan dalam memilih perusahaan asuransi yang tepat untuk menangani Program Kesehatan Karyawan, sehingga Perusahaan mendapatkan hasil yang paling efektif dan efisien,” ungkapnya.

BERITA TERKAIT

BEI Jatuhkan Sanksi Denda Rp 200 Juta AISA - Telat Beri Laporan Keuangan

NERACA Jakarta - Selain perdagangan sahamnya masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), kini PT Tiga Pilar Sejahtera Foods…

Rp7,1 Triliun Dana Asing Masuk Ke Pasar Keuangan

  NERACA Jakarta - Modal asing yang masuk ke pasar keuangan terutama melalui Surat Berharga Negara mencapai Rp7,1 triliun dalam…

Saham MINA Masuk Dalam Pengawasan BEI

Lantaran terjadi peningkatan harga saham yang tidak wajar, perdagangan saham PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA) masuk dalam pengawasan PT Bursa…

BERITA LAINNYA DI PROFIL

Selamatkan Masa Depan 250 Ribu Siswa Keluarga Ekonomi Lemah

KCD Wilayah III‎ Disdik Jawa Barat, H.Herry Pansila M.Sc    Saatnya Untuk selamatkan 250 Ribu Siswa dari Keluarga Ekonomi tidak…

Aktivis Masjid Yang Kini Menjabat Sebagai Menteri - Idrus Marham, Menteri Sosial Republik Indonesia

    Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham dilantik sebagai Menteri Sosial menggantikan Khofifah Indar Parawansa. Perjalanan karier Idrus sebagai…

Proses Belajar Tak Mengenal Batas - Diding Sudirdja Anwar, Presdir Perum Jamkrindo

“Jangan pernah berpikir untuk berhenti belajar. Meski sudah berada di posisi puncak sebuah perusahaan, jangan pernah berpuas diri. Teruslah belajar,…