Perbanas Minta BI Rate Dinaikkan - Guna Rem Kredit

NERACA

Jakarta--- Kalangan perbankan meminta agar BI Rate dinaikkan. Alasanya kenaikan BI Rate akan memberikan sinyal ke perbankan untuk mengerem kredit perbankan. “Harusnya dinaikkan (BI Rate) supaya mengerem kredit, tapi minimal tidak diturunkanlah," kata Ketua Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) Sigit Pramono usai press conference Jazz Gunung 2012, di Jakarta, Selasa (12/6)

Namun demikian, Sigit menambahkan kenaikan BI rate harus pelan-pelan. Masalahnya, tanda-tanda krisis sudah masuk ke Indonesia. Tanda-tanda tersebut terlihat dari indikasi seperti pelemahan rupiah, penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan menipisnya likuiditas valas yaitu dolar. "Itu tanda-tanda yang harus diperhatikan, krisis ini benar-benar sudah menular ke kita dampaknya. Ini tandanya harus hati-hati dan kredit harus di rem,” tambahnya.

Sigit memaklumi dampak menaikkan BI Rate pasti akan memakan biaya banyak bagi BI. Namun, tanpa BI menaikkan suku bunga tersebut, kata Sigit, dirinya telah meminta perbankan lebih hati-hati.

Dikatakan Sigit, perbankan harus terbiasa mengurangi pertumbuhan kredit ke tingkatan hati-hati, sehat dan persiapan menuju potensi perlambatan perekonomian. Sigit menilai pertumbuhan ekonomi akan terkoreksi di bawah 6,5%. "Karena itu bank tidak terpacu salurkan kredit dan hati-hati," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Grup Humas Bank Indonesia Difi A Johansyah menyebutkan, perbankan menunjukkan kinerja baik yang tercermin pada peningkatan rasio kecukupan modal yang jauh di atas minimum 8% serta rasio kredit bermasalah yang terjaga di bawah 5%. “Intermediasi perbankan juga terus membaik, tercermin dari pertumbuhan kredit yang hingga akhir April 2012 mencapai 25,7% (yoy),” paparnya

Menurut Difi, Kredit investasi tumbuh cukup tinggi, sebesar 28,8% (yoy), dan diharapkan dapat meningkatkan kapasitas perekonomian. Sementara itu, kredit modal kerja dan kredit konsumsi masing-masing tumbuh sebesar 27,7% (yoy) dan 20,5% (yoy).

Ke depan, kata Difi lagi, Dewan Gubernur BI tetap fokus pada langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah dan pengendalian ekspektasi inflasi. Sehubungan dengan hal tersebut, Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah ditempuh selama ini.

Respons kebijakan suku bunga BI Rate tetap diarahkan untuk mengendalikan tekanan inflasi dari sisi fundamental sesuai prakiraan makroekonomi ke depan.

Sementara itu penguatan operasi moneter dan kebijakan makroprudensial, termasuk dengan menjaga kecukupan likuiditas dan mendorong pendalaman pasar keuangan, ditujukan untuk stabilisasi nilai tukar Rupiah dan menjaga ekspektasi inflasi.

Menurut Difi, koordinasi dengan pemerintah terus diperkuat baik dalam menjaga stabilitas sistem keuangan melalui Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK) maupun dalam pengendalian inflasi melalui forum TPI maupun TPID.

Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur BI Kamis memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 5,75% yang dinilai masih konsisten dengan prakiraan inflasi ke depan yang tetap rendah dan terkendali di dalam kisaran sasaran yang ditetapkan sebesar 3,5%- 5,5% di 2012 - 2013.

Bank Indonesia juga memperkirakan pertumbuhan perekonomian nasional triwulan II 2012 dan selama 2012 masih dapat mencapai kisaran 6,3%-6,7%, meskipun dengan risiko bias ke batas bawah kisaran. **cahyo

BERITA TERKAIT

Iriawan Minta Kabupaten/Kota di Jabar Optimalkan Ekspor IKM

Iriawan Minta Kabupaten/Kota di Jabar Optimalkan Ekspor IKM NERACA Bandung - Penjabat Gubernur Jawa Barat Mochamad Iriawan mendorong Kabupaten dan…

BI Minta Bank Tidak Naikkan Bunga

    NERACA Jakarta - Bank Indonesia menyatakan perbankan tidak memiliki alasan menaikkan bunga kredit dan simpanan dalam waktu dekat…

Presiden Minta Koperasi Melek Teknologi - DI TENGAH ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Jakarta-Presiden Jokowi berharap koperasi di Indonesia bisa mendunia. Untuk itu, Presiden minta koperasi di negeri ini mencontoh koperasi terbaik di…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Bank Belum Penuhi Rasio Kredit UMKM

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat sekitar 20 persen dari total bank umum domestik belum…

LPDB Sederhanakan Persyaratan Pengajuan Pinjaman Dana Bergulir

  NERACA   Tangerang - Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM) menyederhanakan kriteria dan…

Pembiayaan BTPN Syariah Tumbuh 19,1%

  NERACA   Jakarta - PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk (BTPN Syariah) hingga akhir Juni 2018 membukukan pembiayaan…