Industri Jamu Belum Mampu Garap Potensi Pasar Rp25 Triliun - Gara-Gara Riset dan Pengembangan Lemah

NERACA

Jakarta - Industri jamu Indonesia merupakan industri tradisional yang telah lama dikembangkan oleh pengusaha lokal dan tetap mendapatkan posisi dalam pasar domestik hingga saat ini. Namun, sungguh disayangkan, pengembangan produk jamu sangat lamban karena inisiatif untuk melakukan riset dinilai masih rendah, sehingga pengembangan industri termasuk pengembangan pasar ekspor menjadi stagnan.

Padahal, terdapat 30 ribu jenis tanaman obat yang tumbuh di Tanah Air yang dapat digunakan sebagai obat, tetapi hanya 300 jenis yang baru ditemukan manfaatnya. Potensi pasar jamu pun tak kalah menjanjikan, bisa mencapai Rp25 triliun per tahun.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu Charles Saerang menuturkan, selama ini pihaknya kesulitan menembus pasar jamu di luar negeri secara langsung akibat tingkat kepercayaan mereka terhadap standarisasi produk di Indonesia masih rendah.

“Setiap negara memiliki kegemaran berbeda, sebelum masuk biasanya kami riset. Ada juga pengusaha di sana yang membeli dari kami, mengemasnya ulang dan menjualnya dengan harga jauh lebih mahal tapi laris diborong konsumen,” ujarnya pada acara diskusi Inovasi Industri Jamu di Indonesia di Jakarta, Selasa (12/6).

Di Malaysia, lanjut Charles, jamu yang paling laris adalah jamu yang berkhasiat mengencangkan payudara, sedangkan di Taiwan kebanyakan untuk kesehatan seperti dengan komponen tunggal temulawak dan jahe. Teh temulawak, teh jahe, kopi jahe, atau kopi temulawak merupakan beberapa produk yang sedang dikembangkannya untuk mendorong peningkatan volume ekspor yang kini baru mencapai 10% dari total nilai eskpor Rp13 triliun.

Saat ini pasar ekspor jamu Indonesia adalah Taiwan, Hong Kong, Malaysia, Amerika Serikat, Belanda, Arab Saudi, Suriname, dan Australia, dan baru saja membuat kesepakatan untuk memperluas pasar ke China dan berencana menembus ekspor ke India dan Afrika Selatan.

“Potensi besar pasar jamu di kawasan Timur Tengah. Hanya perlu dukungan pemerintah terkait beberapa izin dan rekomendasi yang diperlukan untuk memperkenalkan produk jamu Indonesia di sana. Saya masih memiliki beberapa ambisi, selain menyeimbangkan volume ekspor dan penjualan produk di dalam negeri,” katanya.

Kesulitan Tembus China

Terkait masalah izin dan rekomendasi, Charles menceritakan pengalamannya akan kesulitan masuknya produk jamu Indonesia ke China. Dia pernah menghabiskan US$80 ribu hanya untuk biaya pengiriman dan denda, karena harus menunggu uji klinis akan standar yang diterapkan di negara China. “Itulah mengapa kami terpaksa mengekspor ke China dengan perantaraan Amerika Serikat. Jadi kami kirim produk ke Los Angeles dan dari sana baru dikirim ke China dengan kemasan berbeda,” jelasnya.

Namun di negara yang biasanya banyak menyerap bahan obat dari Indonesia seperti India, mulai mengembangkan sendiri tanaman obat serupa di wilayah-wilayah mereka yang memiliki dua musim. “Di sinilah kondisinya jadi serba sulit, sudah negara kita kurang dipercaya kredibilitas produknya, dari sisi inisiatif riset juga kalah. Dampaknya akhirnya pengusaha juga yang kena,” keluh Charles.

Dirinya masih mempertanyakan sampai mana progres kecewa program sciencetification jamu, sebab dalam jangka panjang bisa menggairahkan pasar jamu lagi di negeri sendiri. Padahal, program tersebut sempat didukung oleh Mantan Menteri Kesehatan Alm. Endang Rahayu Sedyaningsih, namun hingga saat ini masih belum ada kelanjutannya.

Prosedur Belum Jelas

Menurut Charles, tidak jelasnya kelanjutan program sciencetification jamu akibat terlalu banyak tarik ulur kepentingan selain juga banyak prosedur yang belum jelas. Contohnya, soal kewenangan meresepkan jamu yang hanya dimiliki dokter herbal. “Tetapi untuk bisa mendapat predikat dokter herbal harus lulus semacam kursus 60 jam yang hingga kini kurikulumnya pun tidak jelas apa saja, siapa yang menyusun dan sudah sampai mana. Itu baru soal dokter herbal,” paparnya.

Belum lagi, lanjut dia, mengenai klasifikasi jamu yang bisa diresepkan sampai sekarang juga tidak jelas meski pihak pengusaha jamu sudah bersedia memasok kebutuhan Kementerian Kesehatan. “Ketika kami menyanggupi memasok bahkan untuk kebutuhan penelitian bisa gratis malah mereka yang belum bisa memberi kepastian jenis jamu yang bisa diresepkan. Yang satu bilang jangan yang kuratif, yang lain bilang kalau bukan kuratif tidak laku. Jadi masih susah,” katanya.

Menjawab tantangan pasar obat tradisional, Presiden Direktur PT Sinde Budi Sentosa (Sinde) Budi Yuwono Tjioe mengatakan, perlu langkah inovasi yang berkelanjutan bagi semua pelaku industri jamu adalah suatu keharusan. Inovasi itulah yang akan memampukan pengusaha jamu nasional dalam menjawab kebutuhan konsumen akan tersedianya produk jamu yang aman, berkualitas dan bermanfaat bagi kesehatan tubuh.

“Kami sedang mengembangkan kemasan kaleng yang slim can, agar bisa masuk di sektor airlines (penerbangan). Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, sudah disiapkan mesin pengemasannya yang berkapasitas produksi 86 ribu kaleng per jam. Tahun ini 1 mesin, tahun depan akan ada tambahan 2 mesin lagi,” pungkasnya.

BERITA TERKAIT

Implementasi SDGs Lewat Pengembangan Geopark

    NERACA Jakarta - Geopark adalah sebuah wilayah geografi yang memiliki warisan geologi dan keanekaragaman geologi yang bernilai tinggi,…

Rp7,1 Triliun Dana Asing Masuk Ke Pasar Keuangan

  NERACA Jakarta - Modal asing yang masuk ke pasar keuangan terutama melalui Surat Berharga Negara mencapai Rp7,1 triliun dalam…

MD Picture Bikin Perusahaan Patungan - Bidik Pasar Film Korea dan Cina

NERACA Jakarta – Perluas market share dan genjot produksi film lebih besar lagi, PT Multi Dimensia (MD) Picture bakal mencari…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

China Tanda Tangani Pembelian Kelapa Sawit Indonesia

NERACA Jakarta – Beberapa pengusaha China menandatangani kontrak pembelian kelapa sawit dan produk turunannya dari Indonesia senilai 726 juta dolar…

Gencar Pembangunan, Potensi Bisnis Desain dan Interior Kian Mentereng

NERACA Jakarta - Gencarnya  pembangunan sektor properti baik perumahan, apartemen, ruko, hingga gedung perkantoran dan lainnya memicu demand terhadap kebutuhan…

Kemenperin Pastikan Susu Kental Manis Aman Dikonsumsi

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian menyatakan bahwa susu kental manis (SKM) merupakan produk yang aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat karena…