Aturan Fee Brokerage Diminta Tidak Bebankan Investor - Hindari Perang Tarif

Neraca

Jakarta - Aturan yang jelas soal batasan minimum biaya transaksi perdagangan saham (fee brokerage) dituntut untuk memberikan solusi yang terbaik bagi investor. Dimana investor pasar modal tidak lagi terbebani jika harus membayar dengan harga yang lebih tinggi.

Analis Indosurya Securities Asset Management Reza Priyambada mengatakan, aturan biaya minimum transaksi perdagangan saham harus jelas dan terpenting tidak bebankan investor,”Kalau untuk yang biasa membayar lebih tinggi sih, saya rasa akan senang-senang saja dengan penetapan tersebut. Intinya sih harus ada pembicaraan antara para perusahaan efek dan broker untuk menentukan angka idealnya,”katanya kepada Neraca di Jakarta, Senin (11/6).

Kendatipun demikian, dirinya menilai aturan batasan minimum biaya transaksi perdagangan saham harus diatur dengan jelas, disamping cara ini dimaksudkan pula untuk menghindari adanya perang tarif di pasar modal.

Oleh karena itu, kata Reza, perusahaan efek dihimbau untuk melakukan sosialisasi kepada seluruh pelaku pasar agar nantinya tidak ada perpindahan nasabah besar-besaran.“Kalau diseragamin langsung, di perusahaan efek harus ada pembicaraan sebelumnya dengan para broker,”ungkapnya.

Sementara itu, pengamat pasar modal dari Universal Broker, Satrio Utomo mengatakan, besaran fee brokerage yang ideal adalah di angka 0,22%, 0,23%, ataupun di 0,25%. “Di angka 0,35% pun sebenarnya investor masih welcome, asalkan tidak lebih tinggi dari itu, “paparnya.

Sebelumnya diketahui bahwa Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia bersama dengan Lembaga Manajemen Universitas Indonesia (LMUI) tengah mematangkan penerapan batas minimal biaya transaksi perdagangan saham.

Konsultan dari Lembaga Manajemen Universitas Indonesia menyarankan batas minimal “fee brokerage” sebesar 0,21% per transaksi untuk setiap pembelian saham yang dilakukan investor dan 0,22% untuk setiap penjualan saham yang dilakukan oleh investor.

Sebelumnya, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito pernah bilang, aturan yang jelas soal batasan minimum biaya transaksi perdagangan saham diyakini akan memicu industri pasar modal kedepannya lebih baik, “Dengan adanya batasan minimum 'fee brokerage' diharapkan tidak adanya praktik 'predatory pricing' yang mematikan pesaingnya," paparnya.

Menurutnya, batas minimal biaya transaksi dibutuhkan dalam persaingan usaha di pasar modal, sepanjang sesuai koridor persaingan yang sehat. Laporan keuangan perusahaan efek saat ini sudah sesuai dengan aturan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) nomor VIII G. 17 terkait Pedoman Akuntansi Perusahaan Efek (PAPE).

Seperti diketahui, pertengahan Januari 2012 lalu APEI menetapkan batas minimal brokerage fee sebesar 0,17% per transaksi. Penetapan diharapkan bisa meredam perang tarif antarperusahaan efek. Batas minimal yang ditetapkan APEI meningkat jauh dibandingkan batas minimal sebelumnya sebesar 0,04%.

Penetapan batas minimal tersebut mengacu pada perbandingan brokerage fee di negara lain. Adapun perincian brokerage fee adalah 0,16% untuk biaya transaksi dan 0,01% untuk pajak. (didi)

BERITA TERKAIT

Investor Papua Didominasi Kaum Milenial

Kepala kantor perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Papua Barat, Adevi Sabath mengatakan, investor pasar modal di Papua Barat didominasi oleh…

Investor Meninggalkan Saham Lippo Grup - Kasus Suap Izin Meikarta

NERACA Jakarta – Kasus suap soal perizinan Meikarta sebagai proyek properti Grup Lippo terhadap pemerintah daerah Kabupaten Bekasi, memberikan dampak…

Wagub Sumsel Minta Investor Ikut Sertakan Masyarakat

Wagub Sumsel Minta Investor Ikut Sertakan Masyarakat NERACA Palembang - Wakil Gubernur (Wagub) Sumatera Selatan Mawardi Yahya meminta kepada investor…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Waskita Karya Lunasi Obligasi Rp 350 Miliar

Lunasi obligasi jatuh tempo, PT Waskita Karya (Persero) Tbk telah mengalokasikan dana pembayaran pokok obligasi I Waskita Karya Tahap II…

Penjualan Fajar Surya Wisesa Tumbuh 50%

Hingga September 2018, PT Fajar Surya Wisesa Tbk (FASW) membukukan penjualan bersih senilai Rp7,45 triliun atau meningkat 50% year on…

Dorong Pemerataan Infrastrukur - Lagi, Indonesia Infrastructure Week Digelar

NERACA Jakarta – Geliat pembangunan infrastruktur terus digenjot pemerintah dalam menunjang pertumbuhan ekonomi. Apalagi, infrastruktur dipandang sebagai fondasi yang perlu…