Banyak Kebijakan Ekonomi Tak Berlandaskan Pancasila

NERACA

Jakarta---Penyelenggara yang berperilaku tak Pancasila melahirkan kebijakan ekonomi yang tak pro rakyat. Alasanya hingga saat ini dilihat dari sisi penegakan hukum, ekonomi, politik dan berbagai sektor belum memberikan kesejahteraan rakyat. “Kebijakan ekonomi, pertambangan, pertanian, pendidikan, dan sebagainya masih jauh dari prinsip-prinsip Pancasila. Karena itu sosialisasi Pancasila itu harus dilakukan secara terus-menerus,” kata Wakil Ketua MPR RI A. Farhan Hamid dalam dialog Revitalisasi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bersama Ketua FPD MPR RI M. Jafar Hafsaf di Gedung DPR/MPR RI Jakarta, Senin (11/6).

Diakui Farhan, untuk mengamalkan Pancasila oleh penyelenggara negara ini butuh waktu dan proses yang tidak boleh berhenti. Seperti halnya Korea Selatan, yang proses kemerdekaannya hampir sama dengan Indonesia. Namun ternyata lebih maju. “Karena pemimpinnya dikatator. Memang butuh pemimpin yang berani dan tegas,” ujarnya.

Menurut Farhan Hamid, masalah yang dihadapi bangsa ini sebenarnya sederhana. Di mana ideologi negara dan ideologi pribadi itu tercermin dalam perilaku sebagai penyelenggara negara. “Bahwa, semuanya perilaku itu harus mencerminkan Pancasila,” tambah anggota DPD RI itu.

Mengutip pernyataan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj, M. Jafar Hafsah menegaskan jika ada ormas yang tidak menganut Pancasila, maka tidak ada tempat di Indonesia. “Tempatnya adalah di Afghanistan. Untuk itu Pancasila harus terus disosialisasikan terus-menrus melalui pendidikan dan media massa,” ungkapnya

Lebih jauh Ketua F-PD MPR ini, sosialisasi Pancasila ini mestinya perlu dilembagakan dan dikristalkan. Sehingga bisa mengendap dan menjadi “pandangan hidup” masyarakat. “Dan itu tinggal kita kristalkan dalam kehidupan sehari-hari melalui perilaku nyata di tengah masyarakat, berbangsa dan bernegara,” tutur Jafar.

Sementara itu kalau Pancasila itu disebut sebagai sumber nilai dan etika kata Jafar, bahwa puncak dari etika itu adalah puncak dari budaya-budaya yang baik dan cantik, itulah etika. “Lalu, benarkah DPR, partai dan media sudah beretika? Itu butuh penjelasan panjang dan tak cukup hanya mengatakan hanya dengan bilang “DPR terkorup” atau “tak suka” pada lembaga atau seseorang, tanpa menyebutkan alasan yang tepat. Jadi, pengamalan Pancasila sebagai sumber etika sosial, berbangsa dan bernegara ini memang butuh proses panjang,” ungkapnya.

Yang pasti lanjut Jafar, Pancasila itu sebagai sistem nilai dan etika tersebut harus menjadi sistem dan budaya bagi setiap pribadi anak bangsa ini. “Dan, kalau di era Orde Baru Pancasila hanya dijadikan alat untuk kekuasaan, bukan berarti Pancasilanya yang dihilangkan, melainkan perilaku penyelenggara negaranya yang harus terus diperbaiki, dikontrol dan menegakkan hukum,” pungkasnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

Potensi Global US$88 Miliar, Ekspor Komponen Pesawat akan Dipacu - Kebijakan Publik

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mendorong peningkatan daya saing industri nasional agar mampu menghasilkan produk yang berkualitas sehingga kompetitif…

Pengamat: Kebijakan HAM di Indonesia Masih Normatif

Pengamat: Kebijakan HAM di Indonesia Masih Normatif NERACA Jakarta - Pengamat hukum pidana Universitas Bung Karno Azmi Syahputra menilai kebijakan…

Tak Ikut Danai Akuisisi Saham Freeport, Kemana Peran Bank BUMN?

Oleh: Rezkiana Nisaputra Himpunan Bank-Bank Milik Negara (Himbara) sudah memastikan, bahwa empat bank pelat merah tidak akan ikut membiayai proses…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Gelombang Penolakan Akuisisi Pertagas oleh PGN

      NERACA   Jakarta - Gelombang penolakan terhadap keputusan pemerintah untuk mengakuisisi PT Pertamina Gas (Pertagas) oleh PT…

Teknologi Samsung untuk Penggemar Olahraga

  NERACA Jakarta – Masyarakat mulai mengganderungi olahraga. Berbagai macam jenis olahraga pun dilakoni asalkan mengeluarkan keringat. Hadirnya teknologi turut…

Aver Tawarkan Kemudahan Kolaborasi Di Era Digital

      NERACA   Jakarta - Pertumbuhan pesat dari industri digital di Indonesia telah mendorong munculnya tren Virtual Office,…