Indonesia Perlu Transformasi Manajemen Energi - Cadangan Minyak Kian Menipis

NERACA

Jakarta - Energi adalah faktor menentukan, khususnya untuk manusia modern. Dimanjakannya manusia dengan energi mengakibatkan tidak mungkin hidup dengan layak tanpa tersedia energi. Setiap tahunnya kebutuhan energi meningkat, sedangkan rasio cadangan minyak dan produksi tinggal 23 tahun lagi. Maka perlu melakukan konservasi energi, karena subsidi harga energi merupakan bentuk ketidakadilan energi bagi masyarakat.

Oleh karena itu, Indonesia perlu melakukan transformasi paradigma dalam manajemen energi. Meski saat ini cadangan sumber daya energi cukup signifikan dan terdistribusikan ke sejumlah wilayah, transformasi diperlukan demi kelangsungan energi yang berkelanjutan. “Karena Indonesia termasuk negara yang masih boros dalam penggunaan energi,” ujar Sekretaris Direktur Jenderal Energi Terbarukan dan Konsevarsi Energi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Djajang Soekarna pada seminar National Energy Efficiency di Jakarta, Senin (11/6).

Dia mengatakan, pertumbuhan konsumsi nasional saat ini mencapai 7% per tahun. Kondisi ini tidak seimbang dengan kebutuhan energi yang masih didominasi dengan bahan bakar fosil bersubsidi, sementara sumber daya energi terbarukan yang belum banyak dimanfaatkan. “Oleh karena itu, Indonesia perlu sebuah transformasi penggunaan energi,” paparnya.

Djajang menjelaskan, melalui konservasi, diversifikasi, dan transformasi manajemen, pemakaian energi terbarukan dapat menghemat energi hingga 16%. Adapun energi terbarukan tersebut di antaranya panas bumi, hidro, bioenergi, matahari, angin, dan arus laut serta penggunaan biogas.

Bukan Hal Mudah

Dia mengakui, untuk mewujudkan konservasi energi bukan hal mudah. Kendala terletak pada pemahaman masyarakat. “Salah satu yang menjadi masalah adalah sosialisasi pada pihak-pihak terkait, terutama pengguna energi seperti industri, sekolah, instansi pemerintah, hingga rumah tangga,” ujarnya.

Berdasarkan catatan Kementerian ESDM tahun 2010, pengguna energi terbesar adalah sektor industri dengan pertumbuhan 39,6% di tahun 1990 menjadi 51,86% pada tahun 2009, atau lebih dari setengah penggunaan total energi nasional. Pengguna terbesar berikutnya adalah sektor transportasi dengan 30,77%, diikuti dengan sektor rumah tangga sebesar 13,08% dan sektor komersial sebanyak 4,28%.

Memperkenalkan efisiensi energi merupakan elemen yang sangat penting dalam menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus untuk mengurangi produksi energi, sehingga menjadi tujuan yang sangat ekonomis dan bermanfaat dalam mengurangi pengeluaran pemerintah secara keseluruhan.

Perlu diketahui, bahwa potensi penghematan energi di Indonesia untuk sektor rumah tangga bisa mencapai 30%. “Artinya, bisa menghemat 30% energi yang dikonsumsi tanpa mengurangi produktivitas. Dengan aksi bersama dalam konservasi energi kita bisa merealisasikan potensi tersebut,” terang Direktur Konservasi Energi Kementerian ESDM Maryam Ayuni.

Dalam menggalakkan konservasi energi ini, diperlukan peran serta seluruh pihak, khususnya pihak industri. Dari keseluruhan kelompok pengguna energi, pengguna energi terbesar adalah kelompok industri yang mencapai 40% dari total konsumsi energi.

Maryam mengungkapkan, Kementerian ESDM telah melakukan studi audit energi di sektor industri dan diperoleh hasil bahwa total konsumsi energi adalah 27 juta ton setara minyak per tahun, dengan potensi penghematan energi sebesar 18%. "Penghematan ini sebesar 5 juta ton setara minyak atau setara 58 tera watt per tahun (TWh). Apabila penghematan ini berhasil dilakukan, maka akan sama halnya dengan menunda pembangunan pembangkit listrik sebesar 6.600 mega watt,” jelasnya.

Berikan Keuntungan

Hasil penelitian juga menunjukkan, dengan program efisiensi dan konservasi energi yang terencana dengan baik, perusahaan atau industri tidak hanya sekadar menjaga lingkungan yang sehat, tetapi sebenarnya bisa mendapat profit hingga 35%. Sehingga menjadi tujuan yang sangat ekonomis dan bermanfaat untuk mengurangi pengeluaran secara keseluruhan dalam usaha.

Pada kesempatan yang sama, Duta Besar Kerajaan Denmark untuk Indonesia Borge Petersen mengatakan, di negaranya telah melakukan efisiensi energi selama jangka waktu yang cukup lama, dan mampu menjaga konsumsi energi nasional secara konstan selama hampir 30 tahun yang nilainya hampir dua kali lipat Produk Domestik Bruto (PDB) dalam periode waktu yang sama.

“Perilaku lebih efisien dalam pemanfaatan energi menjadi faktor utama, sehingga memungkinkan kami untuk memiliki pengetahuan yang luas, teknologi dan sistem untuk meningkatkan efisiensi energi. Pengetahuan tersebut tidak hanya bisa digunakan di Denmark tetapi juga di Indonesia dimana perusahaan-perusahaan Denmark sudah ada di Indonesia,” ungkapnya.

Perlu diketahui, untuk mengembangkan program efisiensi dan konservasi energi di Indonesia, Kementerian ESDM akan melanjutkan kerjasamanya dengan pemerintah Denmark melalui Kedutaan Denmark di Indonesia, dengan memberikan bantuan dana sebesar kurang lebih US$45 juta untuk kurun waktu 5 tahun program.

BERITA TERKAIT

Pemerintah Perlu Lobi Amerika Terkait Ancaman Pencabutan GSP - Strategi Niaga

NERACA Jakarta – Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai, pemerintah perlu melobi pemerintah Amerika Serikat terkait potensi pencabutan fasilitas…

Pemerataan Harus Jadi Mainstream Strategi Pembangunan - Mindset Pembangunan Perlu Diubah

    NERACA   Jakarta - Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro mengatakan pemerataan tidak boleh lagi dilhat sebagai efek…

Uji Coba B30 Perlu Transparan

      NERACA   Jakarta - Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS), Marwan Batubara menyatakan, terkait rencana program peningkatan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

BPPSDMP Kementan Terus Ikhtiar Cetak Wirausaha Pertanian

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) mengambil langkah strategis dengan penyediaan sumber daya…

Terkait Industri Otomotif - Presiden Perlu Pimpin Langsung Peralihan ke Kendaraan Listrik

NERACA Jakarta – Pengamat ekonomi Faisal Basri berpendapat, Presiden Joko Widodo perlu memimpin langsung program peralihan kendaraan konvensional berbahan bakar…

Pemerintah Dorong Industri Farmasi Manfaatkan Bahan Baku dari Alam

NERACA   Jakarta - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mendorong industri farmasi dalam negeri untuk menciptakan produk obat-obatan berbahan baku dari…