Pembiayaan Kepemilikan Emas Hanya 20% - Perbankan Syariah Terpukul

NERACA

Jakarta---Pelaku indutri perbankan syariah mengaku aturan baru terkait murabahah emas dinilai terlalu berat. Pasalnya, aturan baru yang tertuang dalam Surat Edaran (SE) Bank Indonesia (BI) dinilai tidak memenuhi kebutuhan nasabah. Dampaknya, telah memukul jumlah nasabah yang menggunakan akad qardh menjadi hanya 20%. "Kami inginnya masih boleh menggunakan akad qardh sebagai alternatif bagi mereka yang ingin berinvestasi. Kini yang tersisa hanya sekitar 20 %. Ini pun sudah harus berakhir di Desember 2012" kata Direktur Bank Syariah Mandiri (BSM), Hanawiaya seusai pelantikan Asosiasi Perbankan Syariah Indonesia (Asbisindo) di Jakarta.

Outstanding Pembiayaan Kepemilikan Emas (PKE) di BSM saat ini mencapai Rp 910 miliar. BSM menargetkan akhir tahun ini ada penambahan sekitar Rp 700 miliar di kepemilikan emas dengan aturan yang baru ini.

Lebih jauh Hana menjelaskan, ketika bank menggunakan akad murabahah, maka bank terikat dengan pricing (harga). “Dengan SE ini, sekarang bank tidak bisa melakukan repricing seperti sebelumnya yang dapat dilakukan empat bulan sekali,” jelasnya.

Ukuran investasinya, lanjut Hana, masih terlalu kecil. Kini ukuran pembiayaan kepemilikan emas (PKE) yang dikeluarkan dibatasi maksimal Rp 150 juta. “Untuk investasi rumah saja, orang harus menyiapkan dana Rp 400 juta,” tambahnya

Lebih jauh Hana menambahkan isu lain yang perlu dipertimbangkan dalam aturan ini yakni terkait dengan eksekusi emas yang dilakukan satu tahun setelah akad ketika pembiayaan macet. Pasalnya, SE ini membuat aset tidak likuid.

Asosiasi Bank syariah Indonesia (Asbisindo) saat ini tengah berupaya melakukan pembicaraan dengan regulator. Asbisindo sendiri telah melakukan pertemuan di forum pengembangan produk untuk membahas hal ini. "Kami berharap bisa melakukan pembicaraan dengan regulator," jelasnya

Berbeda dengan BSM, Direktur Danamon Syariah, Herry Hykmanto, memandang aturan ini justru sebagai upaya menghindari spekulasi produk murabahah emas dan merupakan kelanjutan dari produk sebelumnya, yaitu qardh emas. "Setelah habis qardh, nasabah yang ingin memiliki emas bisa menyambung ke produk ini," katanya.

Terkait dengan emas yang tidak boleh dijual selama setahun ketika pembiayaan macet, Herry menilai hal ini justru bagus untuk menghindari spekulasi. Jika pembiayaan macet dan emas tersebut kemudian dalam jangka pendek dilelang, nasabah akan tahu toh emas tersebut akan dijual juga sehingga tidak menyelesaikan pembiayaan.

Saat ini Danamon Syariah tengah mempertimbangkan aturan yang ada. Diharapkan keputusan bisa segera dibuat dan produknya dapat diluncurkan akhir tahun ini. "Produk ini sangat logis untuk dikembangkan," tuturnya.

Hal serupa juga akan dilakukan Bank Permata Syariah. Head Bank Permata Syariah, Achmad K Permana, mengungkapkan Permata Syariah masih harus melihat sebesar apa potensi produk ini. "Sekrang sudah ada petunjuknya, tinggal kami review seberapa besar potensinya," ujar Achmad. **maya

BERITA TERKAIT

Andalan Finance Targetkan Pembiayaan Rp4,3 Triliun

NERACA Jakarta - PT Andalan Finance Indonesia (Andalan Finance) melakukan penandatanganan perubahan kesembilan perjanjian pemberian fasilitas perbankan yaitu fasilitas term…

Ekonomi Syariah Seharusnya Sudah "Hidup"

Oleh: Ahmad Buchori Perekonomian syariah seharusnya sudah "hidup" di Indonesia dan memainkan peran penting dalam perekonomian nasional, bahkan dalam pasar…

BSM Raih Penghargaan Bank Syariah Ritel Terkuat di Asia Pasifik

    NERACA   Jakarta - PT Bank Syariah Mandiri (BSM) meraih penghargaan di segmen perbankan ritel dari Cambridge Analytica…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Bank Tak Efisien Dalam Mengejar Laba

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengkritisi perbankan, terutama bank-bank besar, yang belum efisien dalam mengejar…

Pemerintah 'Pede' Tingkatkan Inklusi Keuangan

      NERACA   Jakarta - Pemerintah optimistis dapat meningkatkan indeks inklusi keuangan masyarakat mencapai 75 persen pada tahun…

Neraca Pembayaran Diprediksi Surplus US$10 miliar

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia memperkirakan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) sepanjang 2017 akan surplus sebesar 10…