Muluskan Jalan MFIN Terbitkan Obligasi - Raih Peringkat Positif

NERACA

Jakarta - Perusahaan pemeringkat nasional, PT Pemeringkat Efek Indonedia (Pefindo), menetapkan kembali peringkat 'A' kepada PT Mandala Multifinance Tbk (MFIN) dengan obligasi (surat utang) berkelanjutan I senilai Rp1,5 triliun.

Danan Dito selaku analis Pefindo mengungkapkan, prospek untuk peringkat MFIN adalah stabil. Peringkat tersebut mencerminkan kuatnya posisi perseroan di pasar motor bekas di luar Pulau Jawa, baik secara kualitas aset maupun marjin bunga bersih.

Apalagi, aksi korporasi tersebut akan digunakan untuk modal kerja, khususnya pembiayaan sepeda motor. "Namun, peringkat dibatasi oleh relatifnya tingginya beban operasional perusahaan dan ketatnya kompetisi di industri otomotif," papar Danan, dalam risetnya di Jakarta, Jumat (8/6) pekan lalu.

Peringkat ini sebenarnya tidak berubah sejak 19 Januari 2012 lalu, yang ditetapkan Pefindo, yaitu peringkat A dengan prospek stabil.

Perseroan merupakan perusahaan pembiayaan motor baru dan motor bekas. Pemegang saham mayoritas MFIN, Jayamandiri Gemasejati, dan perusahaan afiliasinya, PT Lautan Teduh Interniaga, merupakan agen penjualan Yamaha di Jawa Barat dan Lampung.

Akan tetapi, MFIN tidak hanya membiayai motor Yamaha saja, di mana perseroan juga membiayai merek-merek lain seperti Honda dan Suzuki. Hingga 31 Desember 2011, saham MFIN dimiliki atas PT Jayamandiri Gemasejati sebesar 70,42%, Alex Hendrawan sebesar 5,06%, dan publik 24,52%.

Sumber pendanaan lain

Sebelumnya diberitakan bahwa MFIN akan menerbitkan obligasi dalam dua tahap. Tahap pertama, obligasi ditawarkan sebesar Rp500 miliar pada tahun ini. Tahap kedua, obligasi akan dikeluarkan senilai Rp1 triliun di tahun depan.

Sekretaris Perusahaan MFIN, Mahrus mengatakan, obligasi tahap pertama ini akan diterbitkan dalam tiga seri dengan tenor (jangka waktu) masing-masing satu hingga tiga tahun.

“Penerbitan obligasi ini merupakan rangkaian dari penawaran umum berkelanjutan (PUB) senilai Rp1,5 triliun. Seri A tenor satu tahun jatuh temponya 16 Oktober 2012. Seri B tenor dua tahun 6 Juli 2014, dan Seri C tenor tiga tahun jatuh tempo di 6 Juli 2015,” kata Mahrus, kemarin.

Dia juga menjelaskan, penerbitan obligasi ini bertujuan mengurangi ketergantungan perseroan dari pinjaman perbankan, yang selama ini menjadi sumber pendanaan.

“Pinjaman yang sudah berjalan tidak berpengaruh sama (penerbitan) obligasi. Melainkan pinjaman yang baru (ikut terpengaruh). Kalau (obligasi) terbit, bisa menutupi setengah pinjaman bank. Jadi berkurang ketergantungannya (kepada bank),” tukasnya.

Dengan masa penawaran awal yang akan dilakukan pada 6-19 Juni 2012, perseroan berharap mendapat pernyataan efektif dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) pada 28 Juni 2012.

Dengan demikian, perseroan dapat melakukan masa penawaran pada 2-3 Juli 2012 dan melakukan penjatahan pada 4 Juli 2012. Jika target tersebut terlaksana, obligasi ini akan dicatatkan di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 9 Juli 2012 mendatang. [ardi]

BERITA TERKAIT

Jalan Bergelombang Akibatkan Kecelakaan

Di Flyover Ancol yang terletak di Jalan RE Martadinata depan Gerbang Tol Ancol Barat, kondisinya sangat parah. Terdapat gelombang yang…

Anabatic Raih Pendapatan Rp 3,14 Triliun

Hingga September 2017, PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC) meraih pendapatan usaha sebesar Rp3,14 triliun atau naik dibandingkan dengan pendapatan usaha…

WIKA Suntik Modal Wika Serang Panimbang - Raih Pinjaman Rp 894 Miliar

NERACA Jakrta - PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) memperoleh fasilitas pinjaman dari dua PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Nindya Karya Berencana Go Public di 2018

Bila tidak ada aral melintang, PT Nindya Karya (Persero) akan melakukan penawaran saham perdana ke publik atau initial public offering…

Banyak Manfaat IPO - Perusahaan di Jambi Didorong Go Public

NERACA Jambi - Mendorong perusahaan lokal go public, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Jambi menggelar roadshow dan mengedukasi manfaat…

Obligasi Dalam Negeri Diminati Investor Asing

Analis pasar modal dari Danareksa Sekuritas, Lucky Bayu Purnomo menilai bahwa instrumen investasi obligasi di dalam negeri masih diminati investor…