Gedung Hemat Energi Mampu Pangkas Listrik 30%

Delapan Gedung Jadi Pilot Project Green Building

Jumat, 25/03/2011

NERACA

Jakarta - Geliat bisnis properti paling kentara ditandai dengan menjamurnya pusat perbelanjaan dan gedung perkantoran di Jakarta. Meski menyedot daya listrik lebih dari 200 kVa, penghematan energi masih bisa diterapkan.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM Luluk Sumiarso mengatakan, gedung hemat energi bisa menurunkan konsumsi energi sampai 20-30%. ”Setara dengan sebuah pembangkit listrik baru yang cukup untuk menerangi ribuan rumah di Jakarta," ujarnya dalam sambutan pembukaan Lokakarya Gedung Hemat Energi, di Jakarta, Selasa (22/3).

Sebaliknya, konsumsi listrik di sebuah mall besar di Jakarta diperkirakan lebih tinggi dari penggunaan listrik di beberapa kota di pelosok pulau Jawa. Menurut Luluk, ini menunjukkan konsumsi energi untuk bangunan di Indonesia masih sangat tinggi. ”Konsumsi energi tersebut berkontribusi terhadap tingkat emisi di Indonesia, berkontribusi terhadap menurunnya cadangan energi di Indonesia dan dampak-dampak lingkungan lain," katanya.

Terkait pasokan listrik untuk industri, hingga saat ini terdapat sekitar 650 pelanggan dengan konsumsi 6000 Tonne Equivalent (TOE) atau lebih yang memiliki potensi penghematan energi 2000 Megawatt (MW) pertahun. Sebagai catatan, satu unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya di Banten yang menggunakan batubara memiliki kapasitas 400-600 MW. "Akan lebih cepat dan murah jika melakukan penghematan dibandingkan membangun pembangkit baru," kata dia.

Efisiensi listrik di bangunan gedung, menurut Luluk, dapat dilakukan melalui langkah desain aktif dan pasif. Desain aktif dimulai dengan memanfaatkan berbagai teknologi inverter, seperti yang telah diadopsi berbagai produk pendingin udara. Sedangkan desain pasif menekankan pada desain utama bangunan yang mendukung penggunaan energi yang lebih rendah. Misalnya, meminimalkan masuknya sinar matahari sehingga dapat mengurangi penggunaan beban AC. ”Tetapi yang lebih utama adalah membentuk perilaku hemat energi melalui kampanye hemat energi,” tegas Luluk.

Delapan Gedung

Pada kesempatan yang sama, Direktur Konservasi Energi Maryam Ayuni mengungkapkan, pihaknya tengah mengajukan sertifikasi delapan gedung untuk menjadi pilot project green building. Di antaranya adalah Pusat Perbelanjaan Grand Indonesia, Jerman Centre, Surya TOTO, Lembaga Penelitian dan Pengembangan Minyak dan Gas (Lemigas), Kantor Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan Kedutaan Austria.

"Untuk ditunjuk menjadi green building ini ada banyak kriterianya," kata Maryam. Ada tujuh item yang harus diperhatikan seperti efisiensi, penggunaan air, pengolahan limbah, material yang digunakan untuk membangun gedung. Ia menuturkan, perhitungan dalam penilaian bakal berdasarkan rating dan jika sesuai maka berhak mendapatkan sertifikat.

Program gedung hemat energi ini merupakan upaya mendorong pembangunan gedung yang hemat energi sesuai dengan Standard Nasional Indonesia (SNI) untuk Gedung Hemat Energi. Langkah ini juga menjadi salah satu komponen dari program Eficiency in Industrial, Commercial and Public Sector (EINCOPS). Tujuannya, sebagai percontohan teknologi dan desain yang efisien pada bangunan yang mudah direplikasi sehingga dapat diterapkan di kantor dan gedung-gedung di Indonesia.

Sementara itu, telah diluncurkan suatu wadah untuk memberikan pelayanan informasi gedung ramah lingkungan yaitu Energy Efficiency and Conservation Clearing House Indonesia (EECCHI). Selain memberikan informasi, wadah ini bakal menggelar promosi, dan kemitraan untuk meningkatkan upaya-upaya efisiensi serta konservasi di berbagai sektor, rumah tangga, industri, bangunan komersil termasuk transportasi. EINCOPS sendiri merupakan kerjasama Dirjen EBTKE dengan pemerintah Denmark melalui Danish International Development Assistance.

Di Indonesia, energi dimanfaatkan pada empat sektor utama, yaitu rumah tangga, komersial, transportasi dan industri. Menurut data kementerian ESDM, konsumsi energi di sektor industri tumbuh 39,6% di tahun 1990 menjadi 51,86% pada tahun 2009, atau lebih dari setengah penggunaan total energi nasional. Pengguna terbesar berikutnya adalah sektor transportasi dengan 30,77%, diikuti dengan sektor rumah tangga sebesar 13,08% dan sektor komersial sebanyak 4,28%.

Pemanfaatan energi yang tidak efisien ini juga dianggap sebagai penyebab perubahan iklim, mengingat bahwa sebagian besar energi berasal dari sumberdaya energi fosil yang dalam pemanfaatannya menghasilkan gas rumah kaca. Saat ini Kementerian ESDM mengembangkan inisiatif energi bersih yang bertajuk Reducing Emission from Fossil Fuel Burning (REFF-Burn).

”Ini upaya terintegrasi untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dari sektor energi melalui pengembangan energi bersih, khususnya dari penerapan konservasi energi dan pengembangan energi terbarukan,” ujar Luluk. Untuk itu, semua upaya dalam rangka efisiensi dan konservasi energi yang dilaksanakan melalui program EINCOPS ini tidak terlepas dari pengembangan energi bersih dalam REFF-Burn.