Menperin Minta Industri Elektronik Tingkatkan Kandungan Lokal Jadi 50%

NERACA

Karawang – Industri elektronik di Indonesia diminta meningkatkan kandungan dalam negeri pada peralatan elektronik yang mereka produksi menjadi 50% dalam kurun waktu 5-10 tahun mendatang. Saat ini kandungan lokal produk baru mencapai angka 40%. "Kami minta kandungan lokal terus ditingkatkan," ungkap Menteri Perindustrian MS. Hidayat saat menghadiri peletakan batu pertama pabrik baru kedua PT Sharp di Karawang, Jawa Barat, Kamis, (7/6).

Dia menilai kandungan lokal sebesar 40% saat ini didukung oleh 15 perusahaan lokal. Hidayat berharap, kuantitas perusahaan lokal pendukung industri ini bisa meningkat dua kali lipat. Dia mengapresiasi komitmen Sharp untuk terus meningkatkan investasi di Indonesia. Nilai investasi yang sudah ditanamkan Sharp saat ini sebesar Rp 1,1 triliun dengan menyerap 3.773 tenaga kerja. Kini Sharp menginvestasikan dana sejumlah Rp 1,2 triliun untuk membangun pabrik baru di Karawang. Total tenaga kerja yang dibutuhkan mencapai 1.500 orang hingga 2015.

Mantan ketua Kadin ini menjelaskan, Indonesia sudah unggul dalam bidang industri peralatan rumah tangga. Saingan terdekat di bidang ini adalah Malaysia. Dengan adanya penambahan investasi ini, dia berharap, Indonesia semakin memegang peranan penting dalam penyediaan peralatan elektronik dunia.

Lebih jauh lagi Hidayat menuturkan saat ini ada 250 perusahaan yang menghasilkan produk elektronik dan komponen. Hingga 2014, pertumbuhan ini bisa mencapai rata-rata 10% setiap tahun dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 387 ribu orang. Sharp, sebagai salah satu produsen elektronik, telah meresmikan pembangunan pabrik baru di Karawang International Industrial City. Pembangunan akan mulai dilakukan pada Juli 2012. Pabrik ini memindahkan produksi lemari es dan mesin cuci dari pabrik sebelumnya di Pulogadung. Sharp menginvestasikan dana sebesar Rp 1,2 triliun untuk pembangunan pabrik ini.

Resmikan Pabrik

Pabrik ini memiliki total kapasitas produksi sebesar 220 ribu unit kulkas per bulan atau 2.640.000 unit per tahun. Angka ini dua kali lipat dibandingkan dengan kapasitas pabrik yang sudah ada. Sedangkan untuk mesin cuci, total kapasitas produksi mencapai 140 ribu unit per bulan atau 1.680.000 unit per tahun. Kapasitas ini meningkat sebesar dua setengah kali lipat pabrik sebelumnya.

Presiden Direktur Sharp Indonesia, Fumihiro Irie mengungkapkan penjualan produk elektronik PT Sharp Electronics Indonesia pada semester pertama 2012 terdongkrak berkat penghelatan Piala Eropa 2012. “Pertumbuhannya mencapai 25% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya,” jelas Irie.

Produk televisi LCD menjadi penyumbang terbesar penjualan, terutama pada periode April hingga Juni 2012. Selain televisi LCD, kata Irie, penjualan juga terdongkrak penjualan audio visual. Namun mereka tidak mengeluarkan produk khusus untuk menyambut Piala Eropa 2012. Pada semester kedua, pertumbuhan diperkirakan akan melambat karena Piala Eropa 2012 sudah berakhir. Dia memperkirakan, pada periode tersebut, penjualan alat elektronik di Indonesia hanya akan tumbuh sebesar 10 % dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Saat ini, pangsa penjualan produk Sharp untuk kategori lemari es mencapai 36 %. Adapun produk mesin cuci berhasil merebut 32 % pangsa penjualan. Irie menjelaskan, dia tidak memiliki berapa angka pangsa pasar yang ingin mereka rebut. “Kami ingin mengupayakan berada pada posisi pertama,” kata dia. Dia mengakui rasio pemakaian peralatan elektronik masih sangat rendah. Namun seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia, dia optimis penjualan produk elektronik di Indonesia akan meningkat. Apalagi, kata dia, produk pesaing akan terus bermunculan sehingga menambah sengit kompetisi di pasar ini.

Sementara itu,Product Marketing General Manager PT Sharp Electronics Indonesia, Herdiana Anita, menyatakan pada tahun fiskal sebelumnya, nilai penjualan produk elektronik Sharp mencapai angka Rp 7 triliun. “Pada semester kedua tahun fiskal lalu, penjualan kami menembus angka Rp 3,5 triliun,” kata dia.

Penjualan televisi dan televisi LCD berkontribusi besar terhadap angka penjualan, yaitu sebesar 35% Lemari es menduduki penyumbang kedua dengan persentase 32% diikuti penjualan mesin cuci sebesar 10%. Sisanya disumbangkan oleh produk lain seperti pendingin ruangan dan audio visual.

BERITA TERKAIT

Biaya Mahal Hambat Pengawasan Lalin Secara Elektronik

Biaya Mahal Hambat Pengawasan Lalin Secara Elektronik  NERACA Jakarta - Kepala Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri Irjen Pol Royke Lumowa…

Walikota Sukabumi Minta CSR Disalurkan pada Empat Bidang

Walikota Sukabumi Minta CSR Disalurkan pada Empat Bidang NERACA Sukabumi - Walikota Sukabumi M. Muraz meminta agar program Corporate Social…

XL Tingkatkan Keamanan Data Pelanggan - Kantungi Sertifikasi ISO 27001

NERACA Jakarta - PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) berhasil meraih sertifikasi ISO 27001 sebagai standar baku penerapan Information Security…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

RI-Norwegia Perkuat Komitmen Kerjasama Akuakultur

NERACA Jakarta - Indonesia dan Norwegia kembali menguatkan komitmen kerjasama di bidang Perikanan Budidaya khususnya pengembangan budidaya laut. Komitmen tersebut…

Tekan Pengangguran - Ponpes Dipacu Ciptakan Pelaku Industri Kecil Menengah

NERACA Jakarta – Pondok pesantren berpotensi besar menciptakan wirausaha baru dan menumbuhkan sektor industri kecil dan menengah (IKM). Untuk itu,…

Pemerintah Dorong SCG Berinvestasi US$600 Juta

NERACA Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mendorong realisasi investasi dari manufaktur besar Thailand, Siam Cement Group (SCG), yang berencana…