Bisnis Mobil Tak Terpengaruh “Gonjang-ganjing” Nilai Rupiah

NERACA

Jakarta - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika tidak mempengaruhi harga kendaraan roda empat serta komponen otomotif pada awal bulan Juni. Walaupun ada potensi harga kendaraan roda empat akan mengalami kenaikan akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, namun kondisi tersebut masih berkaitan erat dengan biaya produksi.

“Sejauh ini, biaya produksi relatif belum berubah kendati pelemahan rupiah masih berlangsung,” kata CEO PT Astra International Tbk-Toyota Sales Operation (Auto2000), Jodjana Jody, di Jakarta, Rabu (6/6).

Menurut dia, principal akan menahan gejolak harga mobil dan produk hilir otomotif dalam jangka waktu tertentu sampai kondisi yang dirasa tepat untuk melakukan penyesuaian harga. “Harga kendaraan tergantung berbagai faktor di antaranya biaya produksi, material dan komponen serta nilai tukar. Apabila salah satu komponen berubah dan bersifat permanen, akan berpengaruh pada harga jual produk,” paparnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan, untuk menaikkan harga produk dan suku cadang, Auto 2000 masih mengkajinya dengan hati-hati karena hal tersebut menyangkut daya beli konsumen. “Kami masih belum bisa memperkirakan dengan tepat presentase kenaikan harga produk dan komponen kendaraan jika rupiah terus melemah,” ujarnya.

Sedangkan Direktur Marketing PT Suzuki Indomobil Sales, Endro Nugroho mengatakan, pelemahan rupiah menjadi hal yang sangat serius bagi Suzuki karena dapat berdampak sistemik terhadap kinerja bisnis internal. “Kami terus memantau perkembangan rupiah. Namun, kami belum sampai pada keputusan menaikkan harga suku cadang maupun harga mobil baru meskipun ada indikasi rupiah terus melemah,” tandasnya.

Terkait penjualan mobil, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memproyeksikan penjualan kendaraan roda empat turun sebanyak 30% menjadi 770.000 unit pada 2013 jika aturan Bank Indonesia yang menetapkan kebijakan kenaikan uang muka atau loan to value (LTV) sebesar 30% untuk kredit otomotif benar-benar diterapkan pada Juni mendatang. Gaikindo sebelumnya memprediksi penjualan mobil bisa mencapai 1 juta unit pada 2013.

Sekretaris Umum Gaikindo, Juwono Andrianto, memaparkan pihaknya telah merumuskan asumsi penurunan penjualan kendaraan roda empat yang terdiri dari tiga skema. Skema I yang disebut asumsi pesimistis jika penjualan turun 30% menjadi 820.000 unit pada 2012 dan 770.000 unit pada 2013.Adapun, target penjualan kendaraan roda empat yang ditetapkan Gaikindo mencapai 1 juta unit pada 2012 sedangkan 2013 sebesar 1,1 juta unit. Per Desember 2011, total penjualan kendaraan roda empat berjumlah 894.000 unit.

Skema II disebut asumsi rata-rata, penjualan turun 20% menjadi 875.000 unit pada 2012 dan 825.000 unit pada tahun berikutnya.Skema III disebut asumsi optimistis, penjualan turun 10% menjadi 940.000 unit pada 2012 dan 946.000 unit pada 2013. “Selain itu, efek domino yang dihadapi adalah potensi pemutusan hubungan kerja karena penjualan dan produksi otomotif turun,” ujarnya.

Dia menilai implementasi beleid tersebut sebaiknya ditunda, bukan dibatalkan karena beragam dampak yang akan terjadi termasuk investasi otomotif di Indonesia. Aturan uang muka pembiayaan kendaraan roda dua minimal 20%, kendaraan roda empat produktif minimal 20%, dan kendaraan roda empat non produktif minimal 25%, yang akan berlaku 15 Juni 2012.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua Umum Gaikindo, Sudirman Maman Rusdi dengan memperhitungkan ketentuan uang muka baru, Gaikindo memperkirakan penjualan mobil tahun ini hanya mencapai 875,000 unit, lebih kecil dari proyeksi semula antara 930,000 sampai 950,000 unit.

Kebijakan yang dimaksud adalah ketentuan oleh Bank Indonesia dan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK). BI akan mewajibkan kredit mobil oleh bank memerlukan uang muka minimum 25% dari bandrol harga. Sementara Bapepam LK mewajibkan perusahaan pembiayaan meminta uang muka 30% dari harga dari konsumen.

Sudirman mengatakan proyeksi penjualan mobil di angka 875,000 itu murni karena kebijakan downpayment aturan BI dan Bapepam LK yang akan berlaku mulai 15 Juni. “Kebijakan downpayment (uang muka) ini akan berdampak.Kami sudah memberikan surat kepada gubernur BI dan menteri keuangan, dari Gaikindo meminta kalau bisa ditinjau kembali. Kami tidak memberikan proposal apa-apa, tapi kami memberi tahu, kalau ini tetap di berlakukan, dampaknya begini,” kata dia.

Salah satu dampaknya adalah investor industri otomotif akan menunda rencana investasinya.”Kalau buat mereka kan, jangan sampai mereka investasi tapi pasarnya malah turun. Kita kan justru sedang menargetkan penjualan bisa tembus ke 1 juta unit. Kalau tidak ada peraturan ini tahun ini saya yakin bisa,” ujar Sudirman.

BERITA TERKAIT

Strategi Menjalankan Bisnis Agar Sukses

Menjalankan sebuah bisnis tentunya bertujuan agar kelak bisnis tersebut berjalan dengan sukses. Umumnya, bisnis yang sukses adalah bisnis yang berhasil…

Oktober 2017, Rupiah Terdepresiasi 1,27%

      NERACA   Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa nilai tukar rupiah terdepresiasi sebesar 1,27 persen…

Geliat Bisnis Bank Mayora di Pasar UMKM - Manfaatkan Jaringan Distributor

NERACA Jakarta – Kuatnya brand Mayora sebagai salah satu produsen makanan dan minuman terbesar di Indonesia, menjadikan Bank Mayora begitu…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

RI-Norwegia Perkuat Komitmen Kerjasama Akuakultur

NERACA Jakarta - Indonesia dan Norwegia kembali menguatkan komitmen kerjasama di bidang Perikanan Budidaya khususnya pengembangan budidaya laut. Komitmen tersebut…

Tekan Pengangguran - Ponpes Dipacu Ciptakan Pelaku Industri Kecil Menengah

NERACA Jakarta – Pondok pesantren berpotensi besar menciptakan wirausaha baru dan menumbuhkan sektor industri kecil dan menengah (IKM). Untuk itu,…

Pemerintah Dorong SCG Berinvestasi US$600 Juta

NERACA Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mendorong realisasi investasi dari manufaktur besar Thailand, Siam Cement Group (SCG), yang berencana…