Legitnya Bisnis Rumah Sakit

Oleh Agus S. Soerono

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Bisnis rumah sakit ternyata menjadi daya tarik bagi pengusaha besar untuk menekuni bidang ini. Apabila dikelola dengan baik, bisnis rumah sakit ini bisa menghasilkan revenue yang cukup baik.

Sebagaimana dimaklumi, banyak warga (kaya) Indonesia yang berobat ke rumah sakit di luar negeri, karena mendambakan layanan kesehatan yang paripurna dari negeri tetangga. Agaknya peluang itulah yang dilihat oleh pengusaha, terutama yang sebelumnya bergerak di bidang properti. Mereka melebarkan sayapnya ke sektor layanan kesehatan.

Namun apakah sedemikian buruknya layanan kesehatan yang ada di negeri ini, sehingga mereka harus berobat ke luar negeri?

Ternyata tidak juga. Coba tengok rumah sakit pemerintah yang terbesar di Indonesia. Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Nama rumah sakit ini diambil dari nama Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, seorang tokoh perjuangan Indonesia pada masa kolonial.

RSCM yang merupakan salah satu rumah sakit klas A di Indonesia, adalah pusat rujukan nasional, rumah sakit pemerintah dan merupakan tempat pendidikan dokter umum, dokter spesialis I dan subspesialis, perawat serta tenaga kesehatan lainnya. Di RSCM ribuan dokter dan tenaga medis bersama-sama melayani ribuan pasien dari seluruh Indonesia.

Pada tahun 2009, setelah membangun Gedung perawatan baru yaitu Gedung A (Public Wing), RSCM sedang membangun Gedung Perawatan Internasional (International Wing).

Memang harus diakui bahwa tidak semua rumah sakit sebaik dan selengkap fasilitas yang dimiliki oleh RSCM. Masih banyak rumah sakit pemerintah, terutama di daerah, yang fasilitasnya tidak selengkap yang dimiliki oleh RSCM.

Seiring dengan semakin berkembangnya tingkat ekonomi masyarakat, maka kalangan yang “berpunya” tidak puas lagi mendapat layanan yang ”ala kadarnya” dari rumah sakit pemerintah..

Peluang warga kaya yang lebih suka berobat ke luar negeri itulah ditangkap oleh pengusaha properti itu. Adalah Siloam Hospital Lippo Village (SHLV) yang pertama masuk ke bisnis rumah sakit.

Langkah Lippo ini kemudian disusul oleh kelompok usaha lainnya yang juga bergerak di bidang layanan rumah sakit. Mereka adalah Lippo, Kalbe, Sinar Mas, Ciputra, Mayapada dan Sahid.

Dengan masuknya pengusaha properti ke bidang rumah sakit ini, kita berharap para warga yang ”berpunya” tidak lagi berobat ke luar negeri. Sehingga cukup banyak devisa yang bisa dihemat dengan hanya berobat di dalam negeri, dan tentu saja dengan kualitas layanan internasional.

BERITA TERKAIT

BTN Jalin Kerjasama dengan KOI - Program Satu Juta Rumah

      NERACA   Jakarta - Sejalan dengan komitmen menyukseskan Program Satu Juta Rumah dan mendukung kesejahteraan para atlet…

LPDB KUMKM Ajak Universitas Jember Kerjasama Kembangkan Bisnis Startup

LPDB KUMKM Ajak Universitas Jember Kerjasama Kembangkan Bisnis Startup NERACA Jember - Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) KUMKM mengajak Universitas…

Arwana Catatkan Penjualan Naik 15,56% - Bisnis Keramik Masih Mengkilap

NERACA Jakarta – Meskipun bisnis properti masih dirasakan lesu oleh pelaku pasar, namun hal tersebut tidak memberikan dampak terhadap performance…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Perlu Kembangkan Instrumen Pembiayaan Bencana

Nanti dalam Pertemuan Tahunan IMF-WB akan dikumpulkan para ahlinya, supaya Indonesia bisa ciptakan instrumen baru antardaerah yang bisa masuk dalam…

Simpati Mengalir Dari Pemimpin Dunia

  Jumat (28/9) sore menjadi hari kelabu bagi masyarakat Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah karena wilayah tersebut diguncang gempa berkekuatan…

Korea Beri Bantuan Kemanusiaan US$1 Juta

Pemerintah Republik Korea (Korea Selatan) akan menyalurkan bantuan kemanusiaan sebesar satu juta dolar AS kepada pemerintah Republik Indonesia terkait bencana…