Pasien Indonesia Berduyun Ke Negeri Tetangga - Pelayanan Rumah Sakit Indonesia Dinilai Belum Baik

Sebuah rumah sakit di Malaysia kebanjiran pasien asal Indonesia. Bahkan penghargaan pun diraih oleh rumah sakit itu dengan mencatat kunjungan pasien terbanyak. Ada apa dengan rumah sakit kita?

NERACA

Kedatangan Quek Choon Yen, senior executive marketing Mahkota Medical Centre (MMC), sebuah rumah sakit di Wilayah Melaka, Malaysia pada pertengahan Mei 2012 lalu ke Kalimantan Timur, mungkin hanya kunjungan biasa. Namun pernyataannya pada sebuah media lokal, menghentak kalangan pengelola kesehatan di Tanah Air.

Ia mengatakan bahwa lebih dari 6.000 warga Indonesia memilih berobat ke MMC setiap bulannya dan beberapa rumah sakit di Malaysia.

Bahkan dia mengaku pihaknya mendapat anugerah sebagai layanan kesehatan yang paling banyak didatangi pasien luar negeri oleh pemerintah Malaysia. Lalu apa bedanya dengan berobat di Tanah Air? Sebuah pertanyaan cepat menyergap.

Menurut Choon, pasien yang datang dari sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimatan itu memilih berobat atau sekadar medical check up ke Melaka, Malaysia dalam satu bulannya. “Sasarannya adalah Rumah Sakit Mahkota Melaka atau rumah sakit terkenal lainnya di Malaysia,” ungkapnya.

Salah satu faktor penyebab mereka datang, kata Choon, banyak pasien dari Indonesia yang lebih memilih berobat di rumah sakit mereka karena bisa sekalian berwisata. “Semacam wisata kesehatan, karena di Melaka banyak situs peninggalan zaman perang,” ujar Choon.

Bagaimana soal harga? Choon menjawab, “Di tempat kami harga lebih terjangkau dengan kualitas yang tak kalah dengan rumah sakit di Singapura.” Dan umumnya pasien dari Indonesia hanya sekadar check up di rumah sakit Malaysia.

“Saat pagi melakukan cek, siang sudah dapat hasil, dan sorenya bisa berwisata ke situs-situs menarik di kota itu,” kata Choon. Apalagi budaya melayu sangat kental di Melaka, sehingga orang Indonesia mungkin merasa cocok.

“Kalau di Melaka, rumah sakit kami ini yang paling besar, ada 288 rawat inap dan 65 dokter spesialis,” ungkapnya.

Choon menuturkan bahwa RS MMC memiliki kelengkapan spesialisasi penyakit.

“Untuk berobat di Mahkota, sangat murah karena bayarnya pakai Ringgit, berbeda kalau berobat di Singapura yang menggunakan Dolar Singapura.” tuturnya membandingkan.

“Kami juga tidak membedakan harga, pasien dalam dan luar negeri dikenakan tarif sama,” lanjut Choon.

Ia meberikan contoh, untuk biaya persalinan normal di RS Mahkota hanya Rp 6 juta, sedangkan biaya rumah sakit swasta di Singapura Rp 18 juta. Pembedahan jantung yang tidak termasuk valve dan medical supplies, dikenakan tarif sebesar Rp 114 juta di Mahkota, sedangkan biaya rata-rata di RS swasta Singapura Rp 262 juta.

Sebuah data yang dilansir Singapore Medicine tahun 2005 bahkan menyebutkan bahwa dari sekitar 374.000 pasien dari manca negara yang berobat di Rumah Sakit Mount Elizabeth, sekitar 90% pasiennya dari Indonesia.

Bahkan data dari Konjen RI Penang menyebutkan bahwa dalam kurun waktu Januari hingga Juni 2004, jumlah kunjungan pasien Indonesia yang berobat ke Rumah Sakit Lam Wah Ee Penang mencapai 9000 orang atau rata-rata 50 pasien per hari. Kurun waktu yang sama di Rumah Sakit Adventist Penang tercatat 10.000 orang atau 55 pasien per hari. Dan jumlah pasien itu akan terus tumbuh pada tahun 2012 dan tahun-tahun mendatang.

Pelayanan Terbaik

Fenomena hijrahnya pasien Indonesia untuk mendapatkan pengobatan ke luar negeri, kuat dugaan disebabkan masih buruknya sistem pelayanan dokter dan rumah sakit di Indonesia. Kasus malpraktik, kurang komunikasinya dokter kepada pasien, salah diagnosis menyebabkan menurunnya motivasi pasien untuk berobat ke rumah sakit yang ada di Indonesia.

Praktisi kesehatan Jonirasmanto, SKM, MKES asal UGM menuturkan bahwa perkembangan fasilitas kesehatan yang maksimal bagi publik di Tanah Air saat ini cenderung melambat, sebagai dampak krisis ekonomi keuangan global.

“Masyarakat lebih memilih berobat ke luar karena kurangnya sarana medik, rendahnya tingkat kepercayaan pasien, dan minimnya perhatian dokter,” ujar Joni pria asal Kabupaten Merangin Jambi ini.

Menurut Joni, keluhan pasien di Indonesia kebanyakan hanya lewat surat pembaca di media massa. Cara ini terlalu sederhana dan tidak menyelesaikan masalah. Cara lain yang lebih kreatif adalah langsung mengadu ke pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) atau lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat.

Memang dalam kenyataannya, jelas Joni, konsumen kerap berada dalam posisi yang tidak berimbang dibanding dengan posisi pihak rumah sakit, maka untuk mengurangi kesewang-wenangan sebagai konsumen perlu mengetahui faktor-faktor yang melemahkan konsumen.

Pertama, rendahnya tingkat kesadaran konsumen akan hak-haknya. Kedua, belum terkondisikannya kesadaran masyarakat sebagai konsumen. Ketiga, masyarakat belum memiliki kemauan untuk menuntut haknya. Keempat, proses peradilan yang ruwet dan memakan waktu yang berkepanjangan.

“Sehingga posisi konsumen yang selalu lemah, karena semua terserah dokter atau perawat,” ujarnya.

Untuk meningkatkan mutu layanan, jelas Joni, tidak cukup dengan kajian monopoli petinggi Depkes. “Harus ada ukuran non teknis yakni keinginan dan harapan warga. Sayangnya ini tak pernah tersentuh. Pasien hanya sebagai objek semata,” ungkapnya.

Menurut dia, kebijakan akreditasi rumah sakit yang dicanangkan sejak 2007 hingga tahun 2009 sangat menyedihkan. Dari ratusan Rumah Sakit Daerah (RSD) dan puluhan Rumah Sakit Pemerintah (RSP) serta ratusan Rumah Sakit Swasta (RSS), hanya 14% yang sudah terakreditasi.

Menurut dia, teknologi kedokteran akan mempengaruhi biaya pelayanan rumah sakit. “Teknologi yang digunakan saat ini sangat canggih,” jelas Joni.

Dia mencontohkah sebuah operasi dengan menggunakan peralatan mikro merupakan suatu tindakan yang sama canggihnya dengan teknologi program ruang angkasa dan militer yang tentu saja memerlukan SDM yang berkompetensi untuk mengelolanya.

Dan salah satu teknologi tinggi, tambah Joni, adalah obat yang dihasilkan oleh industri farmasi. Obat merupakan barang yang sangat dibutuhkan oleh rumah sakit. Kebutuhan akan obat ini sering disertai dengan biaya yang besar.

“Besarnya omzet untuk obat-obatan mencapai 50-60% dari seluruh anggaran rumah sakit,” tegasnya. Rumah sakit dapat meningkatkan pendapatan dengan memperbesar omzet penjualan obat.

Ia menilai hal ini yang menjadikan rumah sakit menjelma sebagai lembaga yang bersifat padat modal, padat karya dan padat teknologi. Ketiga sifat tersebut menuntut pengelolaan keuangan rumah sakit yang lebih profesional, jelas Joni.

“Cost recovery rate (CRR) rumah sakit menjadi hal yang sangat penting, agar penentuan tarif lebih rasional,” ungkapnya.

Ini pun patut disertai dengan peningkatan kuantitas dan kualitas pelayanan serta mampu berkembang (growth) dan survive.

Karena itu dia berharap, agar para pengelola rumah sakit di Tanah Air lebih memperhatikan secara seksama dinamika lingkungan. Sistem manajemen yang berlaku global, jelas Joni, akan mempengaruhi pola berpikir manajer rumah sakit.

“Mereka akan menekankan pada aspek efisiensi, efektif dan produktivitas serta memperhatikan pemerataan pelayanan. Ini lah yang harus ditingkatkan agar pasien kita tak beralih ke negeri lain,” ungkapnya.

BERITA TERKAIT

Tiga Rekomendasi Untuk Penataan Ulang Regulasi Indonesia

Oleh: Maria Rosari Para pakar hukum tata negara dalam Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara mencatat setidaknya terdapat lebih dari 62.000…

Rachmawati Soekarnoputri: Indonesia Alami Paradoks

Rachmawati Soekarnoputri: Indonesia Alami Paradoks NERACA Jakarta - Rachmawati Soekarnoputri, putri Proklamator RI Soekarno, mengatakan Indonesia mengalami paradoks, di mana…

BTN akan Gelar Akad KPR 2.002 Unit Rumah - Kejar Target Program Satu Juta Rumah

    NERACA   Jakata - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. berencana akan membangun Kampung Nelayan Puger. Langkah tersebut…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Indonesia, World’s Best Destination 2017

Majalah pariwisata dunia, Dive Magazine, menobatkan Indonesia sebagai destinasi wisata terbaik di dunia. Gelar prestisius itu diraih Indonesia selama dua…

Geliat Daerah Kembangkan Destinasi Wisata

Duta Besar Prancis untuk Indonesia Jean Charles Berthonnet mengaku kagum dengan keindahan danau vulkanik, Danau Toba, yang berada di Sumatera…

Pariwisata Indonesia Perlu Diversifikasi Destinasi

Pariwisata Indonesia dinilai perlu melakukan penganekaragaman atau diversifikasi tujuan wisata atau destinasi untuk menekan kemungkinan tingginya jumlah wisatawan dari dalam…