Momentum Borong Saham di Tengah Minimnya Sosialisasi Bursa - HARGA SAHAM BLUECHIPS LAGI MEROSOT

Jakarta – Seruan Ketua Bapepam-LK Nurhaida agar pelaku pasar tidak panik dengan tren penurunan indeks ternyata belum banyak digubris investor dalam negeri. Padahal momentum ini saat yang tepat bagi investor lokal untuk memborong saham yang sedang dalam posisi harga terendah. Jika investor lokal lengah, maka investor asing akan kembali mendominasi pembelian saham bluechips untuk investasi jangka panjang.

NERACA

Tidaklah heran, bila saatnya mengkoleksi saham-saham unggulan (bluechips) yang sudah terdiskon hanya berlalu dan belum banyak dimanfaatkan oleh investor lokal. Minimnya kontribusi investor lokal terhadap perkembangan pasar modal Indonesia, disebabkan perilaku investor lokal yang selalu "mengekor" pada investor asing. Hal ini tentu sangat disayangkan di saat Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah gencar berupaya menarik lebih banyak investor, ternyata kurang dimanfaatkan dengan optimal.

Menurut pengamat pasar modal Budi Frensidy, kenyataan tersebut diperburuk lagi dengan kurangnya sosialisasi dan edukasi bursa saham. Faktanya, sekitar 80% bursa saham merupakan technical analysis yang sangat mementingkan momentum dengan indikasi adanya next buy dan next sell dari investor asing, dan hanya 20% yang fundamental. “Padahal yang paling bagus, dengan membeli pada saat harga saham rendah dan menjualnya pada saat tinggi,” ujarnya kepada Neraca, Selasa (5/6).

Menurut dia, sosialisasi yang pernah dilakukan otoritas bursa seperti pojok bursa di beberapa universitas, tidak efektif. Oleh karena itu, perlu lebih baik menggandeng anggota bursa (AB) sehingga dapat pula dilakukan transaksi online.

Hal senada dengan Budi, eksekutif PT Indosurya Asset Management Reza Priyambada memaparkan, ketidaktertarikan investor lokal dikarenakan investor lokal cenderung masih mengikuti investor asing sehingga ketertarikan investor lokal cenderung minim.

“Stigma yang ada adalah investor lokal masih mengekor pada investor asing dikarenakan investor asing lebih mengetahui keadaan pasar global. Selain itu, ada stigma yang ada dikalangan investor yang mengatakan bahwa asing itu lebih hebat dari pada lokal,” ujarnya.

Dengan demikian, hal itu membuat investor lokal selalu ketinggalan momentum untuk memanfaatkan pasar saham. “(Investor) lokal akan mulai gencar membeli setelah asing sudah terlebih dahulu membelinya,” tambahnya. Selain itu, edukasi yang diberikan BEI maupun Bappepam-LK kurang optimal.

Hal ini dapat dilihat dari investor lokal masih cenderung "mengekor" dari investor asing. “Kegiatan pojok bursa yang dilakukan di beberapa universitas sudah cukup baik. Namun, masih ditemukan kendala penyediaan sistem dan biaya yang masih tidak jelas. Pojok bursa itu menyediakan informasi dan data tentang saham, kenyataannya adalah tidak akan menambah investor,” ujarnya.

Bursa Goes to Mall

Untuk mengantisipasi, Reza menyarankan agar BEI dan Bappepam-LK bekerja sama dengan perusahaan sekuritas untuk membuka pojok bursa di beberapa mal high class di Jakarta. Bahkan, Lektor Kepala FE Universitas Pancasila Agus S Irfani pun setuju pendapat Reza, dan menambahkan, pemerintah harus ikut campur untuk sosialisasi dan edukasi pasar modal.

"Harus ada kebijakan pemerintah memotivasi dan mendorong investor lokal dengan pemberian insentif, misalnya pengenaan biaya transaksi yang murah. Bisa juga dengan konsultasi gratis, seperti pendampingan dari ikatan investor Indonesia atau lembaga independen. Kebijakan jangka panjang, 5-10 tahun. Jadi yang terbatas dana dan pengetahuan bisa di atasi,” tandasnya.

Masalah lainnya terletak pada kondisi perekonomian masyarakat. Artinya, investor lokal masuk di bursa adalah golongan menengah ke atas yang membeli saham. Untuk mendorong investor lokal, seharusnya ada saham yang dijual sesuai dengan kondisi ekonomi kalangan menengah ke bawah. "Sekarang itu kendalanya ada persyaratan minimal pembelian 1-2 lot. Itu terlalu tinggi. Harusnya ada khusus untuk investor ritel. Jadinya bagus,” papar dia.

Tak hanya itu. Anjloknya saham di BEI, kata Agus, tidak lain karena adanya spekulan yang mempermainkan saham. "Investor asing itu spekulan. Mereka 1-2 hari sudah keluar", cetusnya. Untuk mengatasinya, pemerintah harus memiliki kebijakan tegas mengatur transaksi saham dan penggunaan kontrak yang jelas. "Investor asing dianggap tamu yang baik. Tapi biar tidak kabur dan cuma short term aja, sebaiknya ada kontrak yang tegas minimal 1 bulan,” tutup dia.

Secara terpisah, dosen FE Universitas Trisakti Lucky Bayu Purnomo menilai kalau saat ini investor asing sedang sell-off. Maksudnya apresiasi mereka terhadap negaranya tidak positif melainkan pesimistis. “Begini, investasi ada dua macam, real asset dan paper asset. Nah, mereka (investor asing) meski balik ke negaranya masing-masing tapi investasi real asset atau di sektor riil melakukan merger dan akuisisi. Contoh, Warren Buffet membeli pabrik perusahaan mobil yang hampir kolaps,” ujarnya.

Selain investasi di sektor riil, uang beredar cenderung pindah ke obligasi (surat utang) dan komoditas. Mengenai bearish-nya IHSG kemarin, dia menilai pada dasarnya tidak mengalami kenaikkan. Pasalnya, indeks acuan dunia sedang tidak perform. “Itu namanya psikologis pasar. Asing kan selalu mengacu ke indeks utama, seperti Dow Jones dan Nasdaq, atau Straits Times,” tambahnya.

Terkait kurangnya sosialisasi dan edukasi pasar modal, Lucky menjelaskan bahwa sekolah pasar modal (SPM) sebenarnya sudah bagus. Akan tetapi, harus berkelanjutan dengan dibuka di daerah-daerah luar Jawa. Sebab, lanjut dia, calon investor disana masih banyak dan besar. Tak hanya itu saja, kurikulum khusus pasar modal harus ada sejak SMA.

“Kan sudah ada pojok bursa di kampus-kampus. Itu untuk praktiknya. Kurikulum untuk teori perlu ada yang harusnya ada sejak SMA. Saya beri contoh Universitas Trisakti. Di sana sudah berhasil diterapkan kurikulum pasar modal dan pojok bursa. Animo mahasiswa sangat besar. Saya juga berharap hal ini juga menular ke sekolah atau kampus lainnya,” ujarnya. maya/bari/ahmad/ardi/bani

BERITA TERKAIT

Campina Bidik Dana Segar IPO Rp 354 Miliar - Harga Rp 310-Rp 400 Per Saham

NERACA Jakarta - PT Campina Ice Cream Industry Tbk telah menetapkan rentang harga penawaran umum saham perdana alias initial public…

BFI Finance Bagi Dividen Rp 23 Per Saham

NERACA Jakarta - Perusahaan pembiayaan PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) akan membagikan dividen tunai interim untuk tahun buku 2017.…

Surya Toto Bagikan Dividen Rp 5 Per Saham

NERACA Jakarta – PT Surya Toto Indonesia Tbk (TOTO) siap membagikan dividen interim kepada pemegang sahamnya. Disebutkan, pembagian dividen ini…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Usulan Pansus Energi: Perbaiki Tata Kelola Migas - PENILAIAN IEW

Jakarta - Usulan pembentukan Pansus Energi DPR seharusnya bertujuan untuk memperbaiki regulasi terkait tata kelola migas nasional."Melalui Pansus, DPR bisa…

Akhir Tahun, Pemerintah Harus Antisipasi Gejolak Harga

NERACA Jakarta - Pemerintah perlu mengantisipasi lonjakan harga bahan pokok menjelang akhir tahun dengan memperhatikan faktor penyebab. Hal itu seperti…

Izin Usaha Akan Dicabut Jika Tak Patuhi Aturan HET

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyatakan pihaknya akan memberikan sanksi berupa pencabutan izin usaha oleh pejabat penerbit kepada…