PHE WMO Kejar Produksi 16 Ribu Barel Per Hari - Persiapan Infrastruktur Matang

NERACA

Cilegon - Infrastruktur yang baik dan aman melalui persiapan yang matang merupakan syarat utama untuk melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas. Pertamina Hulu Energi (PHE) blok West Madura Offshore (WMO) sempat mengalami penurunan produksi yang tidak bisa dihindarkan karena tiada investasi baru, menyusul ketidakjelasan kontrak perpanjangan pengelolaan.

Namun, sekalipun menghadapi tekanan penurunan produksi hingga 50%, Direktur Operasi PHE Eddy Purnomo menegaskan PHE tetap percaya produksi di WMO mencapai 16.000 barel per hari (bph) di akhir 2012. “Kalau saat ini, rata-rata produksi di atas 13 ribu bph. Hal ini juga perlu didukung dengan infrastruktur yang lengkap dan datangnya ketiga platform. Kami harapkan akhir tahun ini bisa mencapai 16 ribu bph,” ujarnya kepada wartawan di Cilegon, Selasa (5/6).

Pembuatan 3 platform tersebut dilakukan melalui proses tender, dan dimenangkan oleh PT Bakrie Construction. Adapun nilai kontrak tersebut bernilai US$19 juta, dengan jadwal penyelesaian tanggal 21 Agustus 2012 dan 20 September 2012.

Tak hanya itu, PHE WMO juga harus membangun ulang satu paltform yang sempat rusak tertabrak kapal. Serta menyiapkan pemasangan jaringan pipa baru sepanjang 21 km, sejajar dengan jaringan pipa lama dari lapangan PHE KE38 sampai Poleng Processing Platform (PPP) yang akan aktif pada akhir tahun 2012.

“Kami ingin infrastruktur ini bisa secepatnya terbangun, sehingga infrastruktur harus disiapkan sebaik mungkin agar kegiatan eksplorasi dan eksploitasi berjalan aman dan lancar. Sehingga upaya penambahan produksi harus simultan dengan infrastruktur penunjang,” kata Eddy.

Khusus tahun 2012, lanjut dia, PHE WMO merencanakan melakukan pengeboran 9 sumur eksplorasi, 12 sumur pengembangan dan 15 sumur kerja ulang. Di samping itu PHE WMO akan mendatangkan menara pemboran yang ketiga pada Juli 2012. “Sejak mendapatkan mandat mengelola blok WMO, PHE WMO sudah mengebor 6 sumur pengembangan. Selain itu, satu sumur eksplorasi sudah selesai dibor,” terangnya.

Bertambahnya sumur-sumur baru tersebut diharapkan dapat meningkatkan cadangan minyak dan gas PHE WMO, namun belum dapat langsung meningkatkan kapasitas produksi blok WMO secara signitifikan. "Kami tahu beban areal blok WMO sangat berat untuk melawan penurunan produksi alamiah, sehingga diperlukan melakukan eksplorasi terus menerus dan bergerak cepat, agar cadangan minyak tidak turun," kata Eddy

PHE WMO juga memiliki target RJPP (Rencana Jangka Panjang Perusahaan) yaitu, 40,000 BPH untuk minyak dan 210 MMSCFD untuk gas pada tahun 2016 atau setara 75,000 BOEPD.

Dalam meningkatkan angka produksi, PHE WMO juga melakukan proyek enhanced oil recovery (EOR) untuk mengoptimalkan pengembangan lapangan-lapangan yang sudah ada dimana saat ini semua produksi masih dengan primary recovery, dengan recovery factor 10-20%. Diharapkan pada awal tahun 2015 sudah kelihatan kontribusi produksi dari hasil EOR tersebut.

BERITA TERKAIT

BEI Kejar 22 Perusahaan Kakap Untuk IPO - Dongkrak Kapitalisasi Pasar

NERACA Bandung – Masih kecilnya nilai kapitalisasi pasar IPO di tahun 2017 kemarin, memacu PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk…

PRODUKSI AYAM POTONG TERKENDALA CUACA

Peternak memberi pakan ayam potong, di Desa Surodadi, Sayung, Demak, Jawa Tengah, Senin (22/1). Menurut Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara (PPUN),…

PT Semen Padang Rampungkan Jembatan Baringin - Bantu Infrastruktur Desa

Membantu akses jalan bagi masyarakat dan juga menunjang roda perekonomian, PT Semen Padang telah merampungkan pengerjaan jembatan Baringin yang menghubungkan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

RI Bisa Jadi Pemain Utama Industri Perkeretaapian

NERACA Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, Indonesia saat ini termasuk salah satu pemain industri manufaktur sarana kereta api…

Kemenperin-UNDP Susun Kebijakan Kelola Limbah Industri

NERACA Jakarta – Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian bersama Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-bangsa atau United Nations Development…

Eks Penangkap Benih Lobster di Lombok Panen Rumput Laut

NERACA Lombok- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) diwakili Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, bersama-sama dengan pembudidaya rumput laut penerima…