Prestasi Kinerja Turun, Berlian Laju Tanker Ganti Penasihat Keuangan - FTI Consulting Mengundurkan Diiri

Neraca

Jakarta- Tercatat, per Mei 2012, FTI Consulting sebagai penasihat keuangan PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) mengundurkan diri. Alasannya, perseroan telah menunjuk Cos Borrelli, sebagai penasehat dalam restrukturisasi utangnya.

Informasi tersebut disampaikan dalam siaran persnya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (4/6). "Kami mengundurkan diri bukan karena kekhawatiran atas masalah kepercayaan, dan kami memuji usaha restrukturisasi BLT yang sejauh ini berjalan lancar," ujar Managing Director FTI di Singapura, Mark Chadwick.

Pada Januari 2012, setelah BLTA mengumumkan debt standstill, FTI telah ditunjuk untuk mengawasi restrukturisasi sebagaimana diamanatkan oleh para kreditur bank, terutama DNB. Kemudian, pada bulan Maret, BLTA juga menunjuk Cos Borrelli, dari perusahaan spesialis restrukturisasi Borrelli Walsh, untuk mengambil peran manajemen dalam memimpin upaya restrukturisasi. FTI ditunjuk sebagai penasehat dari para kreditur bank.

Pada 8 Mei, Pengadilan Tinggi Singapura telah memberikan perpanjangan waktu untuk BLTA sehubungan dengan Ketentuan 210 (10) sampai dengan 2 Juli dengan dukungan dari para kreditur bank. Sementara, aplikasi US Chapter 15 juga telah diperpanjang. Pemegang obligasi lokal juga telah menyetujui standstill atas pembayaran hutangnya hingga 30 Juli.

Asal tahu saja, prestasi kinerja Berlian Laju Tanker BLTA masuk dalam rapot merah. Pasalnya, peringkat perusahaan turun drastis dari CCC menjadi D lantaran gagal bayar utang jatuh tempo. Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) sudah sekian kali menurunkan peringkat BLTA dan terpuruk menjadi idSD dari idCCC.

Analis Pefindo Vonny Widjaja & Andy Sidharta pernah bilang, peringkat tersebut diberikan karena perseroan tidak memenuhi pembayaran utang ke salah satu bank di luar negeri dan utang sewa kapal pada tanggal jatuh temponya.

Selain itu, laba bersih perseroan pada semester pertama tahun 2011 turun menjadi US$ 22,5 juta, dari periode yang sama tahun lalu, US$ 24,49 juta. Turunnya kinerja BLTA tidak lepas melorotnya pendapatan usaha perseroan yang turun tipis 1,98%. Dampak perseroan yang terus merugi, akhirnya BLTA terpaksa harus menunda pembayaran fasilitas pinjaman bank dan obligasi sebesar US$ 418 juta atau sekitar Rp 3,762 triliun yang jatuh tempo tahun ini.

Presiden Direktur PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) Widihardja Tanudjaja pernah menjelaskan, penundaan pembayaran fasilitas pinjaman dan perbankan disebabkan lesunya ekonomi dunia yang mengakibatkan permintaan armada menurun, sehingga secara signifikan mempengaruhi usaha dan posisi keuangan perseroan. "Walaupun kami berharap tarif akan membaik pada periode-periode mendatang, kami harus mengambil langkah-langkah agar dapat terus mendukung efisiensi struktur permodalan dan meningkatkan modal kerja perusahaan,"ujarnya.

Alhasil, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) langsung mensuspensi perdagangan perseroan lantaran kabar tersebut. Pasalnya, kondisi ini akan merugikan para pemodal. Selain itu, BEI juga memanggil menajamen perseroan untuk menjelaskan keputusan tersebut, “Kami akan berdiskusi agar mereka dapat menjelaskan lebih komprehensif mengenai restrukturisasi utang yang sedang dijalankan," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Eddy Sugito. (bani)

BERITA TERKAIT

OJK Dukung Penerbitan Market Standard Repo - Perdalam Pasar Keuangan

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendukung penerbitan "Market Standard" untuk transaksi "Repurchase Agreement" (Repo) atas efek bersifat utang…

Derasnya Dana Asing Selamatkan Laju IHSG - Menguat 15,16 Poin

NERACA Jakarta  - Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (11/1) ditutup menguat sebesar 15,16…

Momentum Pilkada Bisa Hambat Laju Ekonomi

      NERACA   Jakarta - Lembaga pemeringkat surat utang Moody’s Investor Service memperingatkan bahwa momen Pemilihan Kepala Daerah…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Perkuat Pasar Ekspor Ke Afrika - Sido Muncul Bikin Anak Usaha di Negeria

NERACA Jakarta - Setelah sukses membuka pasar ekspor ke Filipina dengan berlanjutnya rencana pembukaan kantor pemasaran disana, kini PT Industri…

Gelar Rights Issue, SCMA Bidik Rp 3,58 Triliun

Cari pendanaan di pasar modal lewat penerbitan saham baru atau rights issue, kini tengah marah dilakukan emiten. Begitu juga halnya…

Bahana Sekuritas Taksir IHSG Capai 7.000

NERACA Jakarta – Pencapaian rekor baru indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada akhir tahun 2017…