Dana APBN Disetujui Ganti Korban Lumpur

Dana APBN Disetujui Ganti Korban Lumpur

Jakarta---Pengalokasian anggaran bagi korban yang berada jauh dari daerah terdampak lumpur panas di Sidoarjo, yang diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dinilai tak menimbulkan masalah. "Anggaran itu untuk korban yang jauh dari lokasi lumpur Lapindo. Sedangkan mereka yang berada di wilayah terdampak, sudah mendapat ganti untung dari keluarga Bakrie, selaku pemilik saham di PT Lapindo Brantas," kata Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Harry Azhar Azis di Gedung DPR Jakarta, Senin.

Harry menegaskan hal ini karena masih ada sebagian pihak yang mempertanyakan uang negara digunakan untuk korban lumpur dan adanya upaya mempertanyakan hal tersebut dengan cara menggugat ke Mahkamah Konstitusi (MK) karena adanya kepentingan politik disana. "Padahal sudah sejak 2007 APBN menganggarkan sebagaian dana untuk korban lumpur di area di luar peta terdampak. Sebab di willayah itu memang tugas pemerintah dan bukan perusahaan," katanya.

Kalau pun dalam APBN 2012 masih ada alokasi untuk korban lumpur Sidoarjo, Harry mengatakan, itu sebenarnya merupakan kelanjutan penyelesaian yang sudah dianggarkan dalam APBN 2007 dan bukan baru kali ini saja. "Semuanya sudah mendapat persetujuan baik pemerintah maupun DPR," ujar politisi dari Partai Golkar itu.

Disamping itu, Harry juga menyayangkan masih banyak orang yang belum memahami bahwa keluarga Bakrie telah menghabiskan dana sekitar Rp7 triliun untuk melaksanakan komitmen pelaksanaan pembayaran tanah warga di daerah terdampak. "Padahal dari sisi hukum, tidak ada yang salah," ujarnya.

Harry mengingatkan kembali bahwa hasil temuan Tim Pengawas Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (TP2LS) yang dibentuk 4 September 2007 yang dipimpin Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso, dalam laporan rapat Paripurna Dewan 29 September 2009 menyimpulkan penyebab semburan lumpur adalah fenomena alam. "Namun demikian di alam demokrasi, semua orang termasuk LSM boleh saja mempertanyakan apapun, termasuk soal dana APBN untuk lumpur. Hanya saja, kok baru sekarang. Ada apa ini?" tanya Harry. **cahyo

BERITA TERKAIT

CSAP Bidik Dana Segar Rp 324,24 Miliar - Gelar Private Placement

NERACA Jakarta – Perkuat modal dalam mendanai ekspansi bisnis, PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSAP) berencana melakukan penambahan modal tanpa…

Ayers Asia AM Bidik Dana Kelola Rp 500 Miliar - Luncurkan Dua Produk Dinfra

NERACA Jakarta –  Targetkan dana kelolaan atau asset under management (AUM) hingga akhir tahun sebesar Rp 350 miliar hingga Rp…

Serapan Dana Ketahanan Pangan Sumsel Masih Rendah

Serapan Dana Ketahanan Pangan Sumsel Masih Rendah NERACA Palembang - Serapan dana ketahanan pangan di Sumatera Selatan (Sumsel) terbilang masih…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Defisit APBN Semester I Turun jadi 0,75%

  NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan realisasi defisit anggaran pada semester I-2018 tercatat sebesar Rp110,6…

Modal Asing Keluar, Utang Indonesia Melambat

    NERACA   Jakarta - Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia tumbuh melambat pada akhir Mei 2018 seiring arus dana…

Pengaduan THR ke Pemerintah Turun

      NERACA   Jakarta - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mulai memproses pengaduan terkait pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) pekerja…