Bencana Jepang Bisa Dorong Inflasi Di Indonesia

Bencana Jepang Bisa Dorong Inflasi Di Indonesia

Jakarta—Dampak gempa dan tsunami Jepang diduga malah bisa mendorong laju inflasi di Indonesia. Meski disisi lain ada penguatan nilai tukar rupiah. "Semua itu ujung-ujungnya berdampak inflasi Indonesia. Memang penguatan rupiah akan mengurangi tekanan inflasi. Tapi dampak netto dari keempat proses di atas dan penguatan rupiah masih tetap inflatoir," kata pengamat ekonomi Drajat H Wibowo kepada wartawan di Jakarta,23/3.

Oleh sebab itu, kata Wakil Ketua umu PAN menyarankan pemerintah tetap fokus menjaga stabilitas harga barang. Sehingga mengurangi tekanan inflasi. "Karena itu fokus menjaga stabilitas harga-harga, sehingga dampak inflatoirnya bisa dikurangi,” tegasnya.

Selain itu lanjut Drajat, pemerintah juga perlu mengendalikan anggaran belanja dan segera menyiapkan langkah-langkah pengamanan kinerja eksportir UMKM tersebut. " Pengendalian belanja pemerintah agar tidak melonjak-lonjak pada akhir tahun adalah salah satu caranya," tambahnya.

Lebih jauh kata Drajat, ada 4 efek ekonomi yang ditimbukan gempa dan tsunami di Jepang terhadap pertumbuhan Indonesia. Pertama, soal gejolak pasokan energi, terutama harga minyak. Kondisi ini diperparah dengan adanya konflik di Libya. Kedua, kerawanan pasokan pangan global dan kenaikan harga produk pertanian. "Selain karena kenaikan biaya energi, perubahan iklim ikut mempengaruhi masalah pangan," pparnya.

Selain itu, dampak yang keetiga, lanjut Drajad, pasokan barang modal dan manufaktur seperti mesin pabrik, komponen mobil, elektronik dari Jepang bisa terganggu. "Dalam 2-3 bulan ke depan, misalnya, kita akan merasakan kesulitan mendapatkan onderdil mobil Jepang yang asli buatan Jepang," imbuhnya.

Drajad menilai akan ada lonjakan terhadap permintaan barang-barang industri primer dan hulu ketika nanti Jepang lakukan rekonstruksi. "Saat rekonstruksi nanti, permintaan barang primer dan barang hulu dari Jepang dan dunia akan meningkat. Kebutuhan baja misalkan akan meningkat," ungkapnya.

Seperti diketahui, bencana alam di Jepang menelan kerugian hingga 2 triliun yen atau sekitar US$ 309 miliar (setara dengan Rp 2.780 triliun). Hancurnya sebagian wilayah di Jepang itu akan menggerus pertumbuhan ekonomi Jepang pada tahun fiskal 2011. Kerugian itu berarti lebih dari 2 kali lipat dari kerugian yang diderita saat bencana gempa Kobe di 1995 lalu, dan akan menurunkan pertumbuhan ekonomi Jepang hingga sekitar 0,5%. Padahal Jepang sebelumnya memperkirakan perekonomiannya meningkat 1,5% di 2011.

Menurut perkiraan resmi dari kantor pemerintah Jepang, yang dikutip dari AFP, Rabu (23/3/2011), biaya untuk mengganti kerusakan akibat hancurnya perumahan, pabrik- dan infrastruktur diperkirakan mencapai 16 triliun yen hingga 25 triliun yen untuk 3 tahun fiskal ke depan. Bank Sentral Jepang juga telah memompakan likuiditas hingga triliun yen untuk stabilisasi pasar.

Perkiraan kerugian akibat bencana Jepang memang sangat variatif. Bank Dunia sebelumnya memperkirakan kerugian yang ditimbulkan akibat bencana gempa dan tsunami Jepang pada 11 Maret lalu diperkirakan mencapai US$ 235 miliar atau sekitar Rp 2.068 triliun atau setara dengan 4% PDB Jepang.

Angka yang berbeda sebelumnya disampaikan oleh DBS Bank yang memperkirakan bencana Jepang akan menelan kerugian US$ 100 miliar. Proyeksi lebih besar sebelumnya disampaikan oleh Credit Suisse yang memperkirakan angka kerugian sebesar US$ 171 miliar atau sekitar Rp 1.500 triliun. **cahyo

Related posts