2011, Blok Migas Ogan Komering Targetkan 6066 BOPD

NERACA

Joint Operating Body (JOB) Pertamina - Talisman Ogan Komering (JOB Ogan Komering) menargetkan produksi minyak sebesar 6.066 BOPD. Target produksi tersebut meningkat 115% dibandingkan dengan rata-rata produksi tahun 2010. Untuk mencapai target tersebut, tahun ini akan dilakukan 17 pemboran sumur pengembangan.

“Mudah-mudahan semua dapat berjalan lancar sehingga target bisa terpenuhi. dengan dukungan dari semua pihak itu, saya optimis JOB Ogan Komering akan dapat memenuhi target tersebut,” kata General Manajer (GM) JOB Ogan Komering Zakaria Harun di Jakarta, Selasa kemarin (22/3).

Dalam kesempatan yang sama Direktur Utama PHE, Dwi Martono antusias dengan optimisme pencapaian target JOB Talisman Ogan Komering.“Ini semakin menunjukkan bahwa PHE selaku operator blok Ogan Komering merupakan reliable dan capable operator,” ujar Dwi.

Zakaria melanjutkan, dalam lima tahun terakhir, pihaknya selalu berhasil memenuhi ekspektasi terhadap target produksi. Untuk itu, tahun ini pihaknya akan berupaya keras guna kembali memenuhi target produksi. Salah satu strategi yang ditempuh yakni melalui pemboran sumur ke-17 pengembangan yang terdiri dari 13 sumur produksi dan 4 sumur injeksi serta 1 sumur eksplorasi.

Namun, langkah operasional masih tersendat oleh masalah listrik. Untuk itu pihaknya telah melakukan langkah antisipastif, salah satunya yakni dengan memasang tambahan power generator sebesar 1 Mega Watt (1 MW) dan pergantian kabel distribusi tenaga listrik.

Blok Ogan Komering dioperasikan oleh Joint Operating body (JOB) Pertamina-Talisman Ogan Komering di mana PT PHE Talisman Ogan Komering memiliki Participating Interest 50% dan Talisman Ogan Komering 50%. Produksi migas 2010 sebesar 2,616 juta Barrel Oil Equivalem (BOE) atau 115% dari target yang ditetapkan di awal tahun sebesar 2,274 juta BOE. Sementara untuk tahun 2009, rata-rata produksi mencapai 2,246 juta BOE atau 116% dari target tahun 2009.

PSC-JOB Blok Ogan Komering merupakan block onshore di Sumatera Selatan. Kontrak pertama kali ditanda-tangani tanggal 29 Februari 1988 untuk jangka waktu 30 tahun dan berakhir 28 Februari 2018 antara Pertamina dan Canada Northwest Energy (South Sumatera) Ltd.

Setelah terjadi perubahan Participating Interest, pemegang operatorship saat ini adalah Pertamina-Talisman (OK) Ltd. Lokasi blok minyak ini di Sumatera Selatan, kurang lebih berjarak 40 km dari Prabumulih. Luas area wilayah kerja Saat ini adalah seluas 1.155 Km2.

BP Migas Optimis

Sementara itu, Badan Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) optimis mencapai target produksi minyak mentah dan kondensat sesuai APBN 2011 sebesar 970.000 barel per hari.

“Saat ini, rata-rata produksi minyak dan kondensat memang masih 917.000 barel per hari. Namun, kami optimis mencapai target tahunan 970.000 barel per hari,” ujar Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas BP Migas Gde Pradnyana di Jakarta, Selasa.

Menurut Gde, pencapaian target produksi minyak menjadi penting agar penerimaan negara menjadi optimal di saat harga minyak tinggi sekarang ini.

Pada semester pertama, imbuhnya, produksi minyak memang cenderung menurun. Namun produksi akan meningkat mulai bulan Juli-Agustus, sehingga secara rata-rata tahunan berada di sekitar target. “Mereka baru `drilling` dan hasilnya nanti setelah semester pertama. Pada Desember-Januari, susah drilling karena cuaca tidak bersahabat,” katanya.

Dia mencontohkan, produksi PT Chevron Pacific Indonesia belum normal yakni baru 356.000 barel per hari dari normalnya 370.000 barel per hari. Produksi CPI masih terkendala antara lain pekerjaan penyambungan pipa dari Blok Jambi Merang.

Gde mengungkap, capaian produksi enam produsen minyak terbesar per 6 Maret 2011 adalah Chevron 359.000 dari target 370.000 barel per hari, Pertamina EP 122.000 dari target 132.000 barel per hari, Total Indonesia 89.000 dari seharusnya 94.000 barel per hari. Kemudian, ConocoPhillips 51.000 dari target 61.000 barel per hari, dan CNOOC 37.000 dari target 40.000 barel per hari.

Dia menambahkan, pihaknya akan menekan gangguan tak terencana (unplanned shut down) di antaranya melalui peningkatan inspeksi. Menurut Gde, pihaknya fokus mengurangi "unplanned shut down" karena faktor tersebut menyebabkan kehilangan produksi hampir 50%. Kejadian "unplanned shut down" lebih banyak diakibatkan peralatan yang sudah tua, sehingga sering mengalami gangguan. Gde juga mengatakan, pihaknya berupaya menekan laju penurunan alamiah, sehingga produksi tidak terlalu turun.

Sementara, peningkatan produksi, hanya bisa mengandalkan Blok Cepu yang diperkirakan mampu mencapai 165.000 barel per hari dalam beberapa tahun mendatang. “Kalau Cepu masuk, maka produksi nasional baru bisa naik di atas satu juta barel per hari,” pungkasnya.

Related posts