Kurikulum Mitigasi Bencana

Rabu, 23/03/2011

Oleh Nur Iman Gunarba

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Indonesia, negeri kepulauan di garis khatulistiwa yang diapit dua benua, Asia dan Australia dan dua samudera, Pasifik dan India. Kemudian, kita memiliki deretan gunung berapi dari ujung barat hingga timur, menjulang di permukaan tanah hingga membara di dasar laut. Itulah paparan dari sisi geografis yang sudah kita kenal sejak pendidikan dasar. Lantas, diperdalam di jenjang menengah dan berangsur menjadi pemahaman umum.

Namun, dibalik wawasan tersebut, sejatinya terdapat konsekuensi dibalik keindahan Tanah Air yang perlu kita kenali, untuk tidak disebut kita waspadai. Yaitu, potensi bencana. Berada di antara dua benua berarti kita ‘mengapung’ di atas lempeng Indo Australia-Eurasia yang terus aktif. Muaranya adalah gempa yang berpotensi tsunami.

Pun begitu dengan gunung berapi. Selain kepulan asap yang menarik bagi obyek fotografi, tanah subur dan kekayaan vegetasi di setiap jengkal ketinggian, gunung juga melelehkan lava dan menyemburkan awan panas. Keduanya juga mampu memberi guncangan vulkanik maupun tektonik.

Dari situlah lantas kita mengenal istilah mitigasi bencana. Menurut Undang-undang Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulanan Bencana Pasal 1 Ayat 9, mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

Menilik kondisi geografis dan pemahaman umum atas bencana, maka pengetahuan dan praktek mitigasi bencana sudah seharusnya masuk dalam kurikulum pendidikan sejak di tingkat dasar. Coba kita tengok Jepang, mitigasi bencana sudah lama menjadi salah satu materi pembelajaran di sekolah-sekolahnya, sehingga sebagian besar warganya telah siap siaga dan mampu mengurangi risiko bencana seperti saat gempa besar dan tsunami baru-baru ini.

Di negeri Matahari Terbit, anak-anak prasekolah atau Taman Kanak-Kanak sudah terbiasa mendapat materi latihan simulasi gempa bumi. Dari segera memperoleh topi khusus yang disiapkan sekolah, berlindung di balik meja hingga alih-alih panik, mereka dilatih sikap tenang dan berbaris teratur.

Begitu juga dengan pendidikan tingkat lanjut dan materi mitigasi di tempat kerja serta di rumah. Pengetahuan dan wawasan yang telah tertanam sejak kecil menjadi pedoman dan bahkan telah menjadi insting setiap individu.

Ditarik ke Indonesia, dengan sejak awal belajar mitigasi bencana maka kesiapsiagaan warga masyarakat menghadapi bencana, terutama gempa dan tsunami lebih tinggi. Pengenalan sejak usia dini dan terus berkelanjutan bakal menjadikan mitigasi bencana menjadi bagian dari life-skill, keterampilan hidup sekaligus merupakan adaptasi manusia dengan lingkungannya sendiri.

Sayang memang, praktik simulasi bencana di Tanah Air masih sporadis bahkan tak jarang dilakukan sebagai ajang seremoni. Lebih parah, baru dilakukan latihan jika telah terjadi bencana. Nah, dengan memasukkan mitigasi dalam kurikulum pendidikan maka akan terbentuk generasi yang lebih peka terhadap kondisi lingkungan, sehingga lebih tanggap terhadap bencana.