Ancaman Krisis Listrik Tetap Hantui Indonesia

Rabu, 23/03/2011

Satu Unit PLTN Hasilkan 1000 MW

Ancaman Krisis Listrik Tetap Hantui Indonesia

Jakarta—Krisis energi terutama listrik diperkirakan tetap mengancam Indonesia dalam jangka panjang. Apalagi menuju 2025 setidaknya dibutuhkan listrik mencapai 100.000 MW. Sehingga diperkirakan terjadi kekurangan pasokan listrik mencapai 70 ribu MW. Mau tak mau kekurangan itu harus dipasok melalui PLTN? “Satu unit PLTN bisa menghasilkan 1000 mega watt listrik, dan hanya memerlukan dua kilometer persegi area, “kata pakar nuklir UGM, Dr. Andang Widiharto kepada wartawan.

Menurut Andang, kapasitas listrik di Indonesia saat ini hanya tersedia sebesar 30.000 Mega Watt (MW). Jumlah tersebut baru bisa memenuhi kebutuhan 60% wilayah di Indonesia. Oleh karena itu penggunaan geothermal, makro hidropower, atau tenaga surya dan biomass takkan sanggup memenuhi kekurangan pasokan listik pada 2025. “potensi energi geotermal, pasokan listrik yang dihasilkan adalah sekitar 27 ribu MW,”tegasnya.

Lebih jauh kata peneliti nuklir ini, potensi geothermal sebesar itu tidak mungkin dikembangkan seluruhnya. Karena mungkin hanya terealisasi sekitar 9.000 MW. Untuk Makro Hidropower, potensi yang dimiliki adalah 75 mega watt dan realisasinya hanya 10 ribu MW. "Total dari gabungan kedua energi itu praktis hanya menghasilkan 19 ribu mega watt atau masih ada kekurangan pasokan sekitar 50 ribu mega watt," katanya

Sementara kata Andang, menggunakan energi surya untuk kapasitas satu giga watt diperlukan area seluas 20 kilometer persegi. Satu panel surya berukuran satu meter persegi hanya menghasilkan 50 watt listrik. Untuk biomass 1.000 MW memerlukan sekitar 300 kilometer persegi area.

Yang jelas, lanjut Andang, Pasokan nuklir di tingkat dunia sendiri saat ini melebihi stok. Saat ini ada bank uranium. “Ini kesempatan yang baik untuk dikembangkan dan mencukupi kebutuhan energi. Namun harus didukung dengan persyaratan yang matang," terangnya.

Hal yang sama diungkapkan ahli fisika UGM, Sihana yang mengatakan kebutuhan pasokan listrik masa datang tidak akan bisa dipenuhi dengan sumberdaya listrik seperti yang ada saat ini. Oleh karena itu Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) masih merupakan salah satu alternatif untuk mencukupi kebutuhan energi di masa mendatang."Kebutuhan energi di Indonesia saat ini cukup kritis,”ujarnya.

Oleh sebab itu, kata Sihana, PLTN bisa menjadi solusi dan sekaligus alternative guna mengatansipasi krisis listrik di masa depan. “Pembangunan PLTN di Indonesia diharapkan bisa mengatasi kemungkinan adanya krisis energi," ucapnya.

Menurut Sihana, uranium sebagai bahan bakar energi nuklir belum dieksplorasi maksimal. Padahal uranium diperkirakan habis 30 tahun mendatang. Sebaikanya dipilih teknologi nuklir aman dan canggih. " Kita tinggal mau memilih untuk memulai sekarang atau nanti," katanya.

Dia mengatakan pendirian PLTN di Indonesia memerlukan beberapa syarat yang matang. Belajar dari pengalaman reaktor nuklir di Jepang, Indonesia harus memikirkan berbagai antisipasi desain sistem keselamatan yang belum terpikirkan di negara lain.

Menurut dia, Jepang memang telah memprediksi skala gempa yang mungkin terjadi di sana. Namun tidak mengenai antisipasi tsunami. "Kita perlu memikirkan hal-hal macam itu baik terkait tata ruang, sistem pendingin dan lain-lain yang lebih baik," pungkasnya. **cahyo