Kemungkinan Penerbitan Global Bond Ditunda

Kemungkinan Penerbitan Global Bond Ditunda

Jakarta--Pemerintah terlihat mula ragu menerbitkan. Bahkan cenderung mengarah pada penundaan penundaan penerbitan global bond. Alasanya kondisi pasar saat ini dinilai tidak bersahabat. "Sebenarnya pasarnya lumayan peminatnya. Tapi masalahnya kondisi Jepang ini membuat investor wait and see," kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Bambang PS Brojonegoro kepada wartawan di Jakarta,22/3.

Oleh karena itu, kata mantan Dekan FEUI ini, pemerintah kelihatannya sedang mengkaji lebih dalam, alias mempertimbangkan rencana penerbitan global bond. Karena pemerintah tak mau berspekulasi dan menunggu pulihnya kondisi Jepang. "Jadi kita tidak mau masuk ketika kondisi pasar lagi bullish," tambahnya.

Namun demikian, kata Bambang, pemerintah optimis masih bisa menerapkan kebijakan penerbitan di awal. Karena tak mungkin menerbitkan dengan waktu mepet. "Ya front loading cuma kan tetap timing-nya harus pas kan sudah ditentukan lewat BBM, ga bisa dong kita nunggu sampai mepet kan tidak mungkin," tambahnya.

Menyinggung kemungkinan Jepang juga menerbitkan obligasi, Bambang mengatakan tidak khawatir, karena saat ini rating Indonesia sedang dalam kondisi yang lebih baik dari Jepang. "Jepang kan turun ratingnnya, kita malah dalam kondisi lagi naik kan," ujarnya.

Lebih jauh kata Bambang, obligasi yang hendak diterbitkan oleh Philiphina kecenderunganya dalam keadaan terpaksa. Jadi berbeda dengan Indonesa yang kondisinya saat ini stabil. "Philipina mengeluarkan itu karena budget pressure. Artinya budget-nya mengharuskan untuk dikeluarkan sekarang, sedangkan kita tidak dalam kondisi budget presure, makanya kita lebih baik mencari pasar yang kondusif," tandasnya.

Sebenarnya, kata Bambang, pemerintah optimis potensi global bond untuk pasar internasional cukup besar. Alasanya mengingat performa Indonesia di radar investasi dunia sudah semakin nyata sekarang ini. "Potensi pasarnya gede. Saya yakin itu, semua melihat performance Indonesia cukup bagus," tegasnya.

Apalagi, lanjut Bambang, tanggapan internasional terhadap obligasi global bernilai valas yang dikeluarkan pemerintah Indonesia mendapat tanggapan postif oleh investor global.

Lebih lanjut Bambang, mengungkapkan dibandingkan dnegan negaraa lain yang turut mengeluarkan obligasi global dengan nilai valas, Indonesia dia rasa lebih berada di atas angin. "Kita juga relatif lebh bagus kalau dilihat dari sisi demand," jelasnya.

Sebelumnya, jelas Bambang pemerintah telah melakukan roadshow ke tiga negara yakni Swiss, Inggris dan AS, namun demikian pada roadshow kemarin belum ada kesepakatan yang dicapai. Dia menjelaskan secara umum para investor di tiga negara tersebut melihat kondisi Indonesia sangat positif, akan tetapi ada kekhawatiran akan tingginya inflasi masih menjadi bayang-bayang gelap para investor."Chalenge-nya mungkin lebih mengenai inflasi yang saat ini kita lagi bahas. Terus mengenai suistanabilty dari pada anggaran. Tapi generaly positif mereka siap untuk masuk," ujar Bambang. **cahyo

BERITA TERKAIT

Penjualan Global BMW Masih Tertinggal dari Mercedes

Produsen mobil mewah Jerman, BMW, mengatakan pada Jumat telah membukukan rekor penjualan global dalam tujuh tahun berturut-turut pada 2017, kendati…

BNI Rilis Convertible Bond Rp 2 Triliun

Dalam rangka perkuat modal, PT Bank Negara Indonesia Persero Tbk akan mengeluarkan obligasi yang bisa dikonversi atau convertible bond guna…

BEI Bakal Luncurkan Indeks Baru di Pasar - Gandeng Perusahaan Indeks Global

NERACA Jakarta – Melesatnya pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir, mendorong PT Bursa Efek Indonesia (BEI)…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Rucika Ingin Lebih Kuat Di Industri Perpipaan - Kaloborasi dengan Mitra Internasional

    NERACA   Jakarta – PT Wavin Duta Jaya yang merupakan produsen pipa PVC dengan produknya Wavin dan Rucika,…

Kementan Diminta Jujur Ungkap Data Pangan

      NERACA   Jakarta - Anggota Komisi IV DPR RI Ichsan Firdaus meminta Kementerian Pertanian jujur soal data…

Ekonomi 2018 Diprediksi Mampu Tumbuh Minimal 5,1%

      NERACA   Jakarta - Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira menilai…