Bila Krisis Pangan Landa Indonesia?

Senin, 21/03/2011

Bagi Indonesia, kita melihat krisis pangan berdampak yang tidak kecil. Karena berdasarkan data neraca ekspor-impor pangan Indonesia saat ini masih negatif. Tahun 2008 misalnya, nilai defisit mencapai US$ 3.178 juta atau setara Rp 28,6 triliun. Angka ini masih jauh di atas anggaran Kementerian Pertanian tahun 2011 yaitu Rp 18,7 triliun.

Apalagi hingga sekarang Indonesia belum bisa keluar dari ketergantungan impor pangan. Lihat besarnya impor susu mencapai 90% dari kebutuhan, gula (30%), garam (50%), gandum (100%), kedelai (70%), daging sapi (30%), induk ayam, dan telur. Sehingga tak heran ketika harga naik, impor pangan pun akan menguras devisa.

Memang sulit kita sangkal bahwa sinyal awal krisis pangan sudah di depan mata. Ini berdasarkan data organisasi pangan dunia (FAO), indeks harga pangan Februari 2011 mencapai 236, naik dari Januari (231). Angka ini melampaui nilai indeks harga pangan tertinggi ketika krisis keuangan-pangan pada 2008 (213,5).

Indikasi kedua, musibah banjir melanda sejumlah negara produsen pangan, seperti Australia, Brasil, Pakistan, China dan negara lainnya. Australia adalah produsen dan eksportir jagung, gula, gandum, daging sapi, susu bubuk skim, mentega, dan keju. Eropa, AS, dan Australia adalah produsen 65% pangan dunia.

Laporan International Research Institute for Climate and Society (IRI) versi Januari 2011 juga mengungkapkan, untuk kawasan Pasifik dan sekitarnya, peluang musim basah (La Nina) masih tinggi (88%) hingga April 2011, bahkan masih cukup tinggi (67%) sampai April-Mei. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun meramalkan, musim hujan berkepanjangan bahkan sampai musim panen raya Mei tahun ini.

Indikasi lainnya adalah, produksi sejumlah pangan utama, terutama golongan serealia seperti gandum, sorgum, jagung cenderung menurun. Sementara permintaannya terus meningkat. Satu-satunya produksi serealia yang naik hanya beras. Ini yang membuat harga komoditas pangan, seperti gandum, beras, jagung, sorgum, dan gula, di pasar dunia sejak Juni 2010 terus meningkat hingga kini.

Walau sejumlah indikasi awal itu baru sebatas sinyal, pada saat yang sama jumlah impor pangan kita terus meningkat. Krisis pangan baru bakal terjadi dan meledak saat berbagai langkah pengendalian sudah tidak bisa lagi mampu menahan instabilitas harga pangan. Dan muncul berbarengan saat krisis energi benar-benar terjadi, terutama dipicu oleh dampak ikutan (contagion effect) krisis Timur Tengah yang berkepanjangan, dan terjadi spekulasi masif di pasar bursa komoditas. Pemerintah perlu mewaspadainya sejak dini.

Jadi, kunci keberhasilan melawan krisis pangan adalah keragaman pangan. Sukun, sagu, dan ubi kayu yang relatif lebih tahan pada musim basah yang berkepanjangan perlu digalakkan. Potensi umbi-umbian Indonesia amat besar. Sumber daya yang beragam ini menjadi modal penting karena lebih pejal terhadap anomali iklim dan cuaca. Ini menunjukkan Indonesia memiliki potensi yang besar untuk memberi pangan dunia.