Pemerintah Akui "Gagal" Capai Target Penghematan

Cuma Terpenuhi Rp16,9

Senin, 21/03/2011

Cuma Terpenuhi Rp16,9

Pemerintah “Gagal” Capai Target Penghematan Anggaran

Jakarta—Pemerintah mengakui gagal mencapai target penghematan. Karena target penghematan “dipatok” Rp20 trilin. Namun yang tercapai hanya Rp16,9 triliun. "Target penghematan Rp 20 triliun, tetapi yang bisa dihimpun Rp 16,9 triliun," kata Menteri Keuangan Agus Martowardojo kepada wartawan di Jakarta.

Namun Agus berani mengkalim pemerintah telah melakukan penekanan terhadap kegiatan yang kurang produktif. Sehingga dananya bisa digunakan program yang mendesak dan prioritas. “Penghematan anggaran itu betul-betul atas anggaran untuk hal-hal yang dapat dihemat karena dapat dikatakan kurang produktif sehingga dapat dialokasikan ulang untuk hal-hal yang lebih prioritas dan produktif,” tambahnya.

Lebih jauh kata mantan Dirut Bank Mandiri ini, langkah penghematan berdasarkan pentunjuk Inpres Penghematan Anggaran tahun 2011 dengan mengalokasi ulang anggaran yang dianggap kurang produktif ke kegiatan yang yang lebih prioritas dan produktif. “Inpres ini dapat menghemat anggaran tahun 2011 sebesar Rp 16,9 triliun,” tegasnya.

Melalui langkha penghematan ini, Agus mengatakan, anggaran pemerintah akan terlihat lebih ramping dan terjaga. Tidak boros untuk hal yang tidak perlu dan tidak produktif. “Jadi, ini menunjukkan anggaran kita cukup ramping dan terjaga dengan baik," paparnya.

Menyinggung soal harga minyak dunia yang masih tinggi, Agus mengaku pemerintah belum mengkhawatirkan kenaikan minyak dunia tersebut. Alasanya dengan keadaan anggaran belanja yang baik meski Indonesia Crude Price (ICP) dalam keadaan naik namun, dia melihat jika keadaan tersebut sifatnya fluktuatif."Kita memang lihat harga minyak ICP, Brend, WTI, sudah di atas USD100 tapi kondisi hari ini dan besok bisa berubah. Dua hari yang lalu harganya USD113 per barrel sekarang USD110 per barel, jadi masih fluktuasi," terangnya.

Karenanya dia mejelaskan, meski ICP dalam keadaan naik tapi secara rata-rata setahun masih dikisaran USD86 per barel. "Kalau dilhat rata-rata satu tahun itu masih di USD86 per barel," ujarnya.

Lebih jauh dia mengungkapkan dampak pada anggaran saat ini masih dipelajari, namun jika memang ada dampak dari kenaikan harga minyak harus juga dikalkulasikan dengan dampak dari kurs rupiah yang menguat. "Kalau dilihat semua simulasinya kepada anggaran. Itu kalau seandainya ada ICP rata-rata naik USD1 setahun. Itu membebani tambahan APBN kira-kira USD800 miliar. Tetapi kalau kurs itu menguat Rp1, dampak pad anggaran kita ada tabungan sebesar Rp1,7 triliun," ungkapnya.

Yang jelas, Agus menekankan belum perlu merivisi APBN dalam waktu dekat. "Jadi manfaat dari kurs menguat dibanding ICP yang meningkat masih ada manfaat kepada anggaran jadi secara umum anggaran kita baik, jadi tidak perlu kita melakukan revisi anggran," imbuhnya.

Menyinggung soal pelaksanaan BBM bersubsidi, Agus mengatakan siap mendukung segala keputusan Kementerian Energi Sumber Daya Migas (ESDM). "Kalau seandainya ada upaya dari Kementerian ESDM, BP Migas, atau BPH Migas untuk melakukan tindakan efisiensi atau meningkatkan produktivitas, itu kita sambut baik," tandasnya.

Namun soal pajak BBM, dikatakan Agus, Kementerian ESDM memang telah mengajukan, maka pihak Kementerian Keuangan akan mempelajari rencana tersebut."Kalau ada usulan penghapusan pajak itu harus diajukan oleh sektornya. Artinya dari kementerian ESDM menyampaikan kajian kemudian mengusulkan kepada Menkeu untuk kita pelajari," jelasnya.

Namun, Agus Marto menegaskan apapun rencana pemerintah yang bertujuan untuk menekan subsidi BBM, dirinya akan mendukung. **cahyo