Neraca Pembayaran Alami Defisit US$1 M - Pada Kuartal Pertama

NERACA

Jakarta--Bank Indonesia (BI) mengungkapkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mengalami defisit US$1 miliar selama kuartal pertama 2012. Jumlah angka ini lebih kecil dibandingkan dengan defisit kuartal empat tahun lalu sebesar USD3,7 miliar. "Perbaikan tersebut ditopang oleh transaksi modal dan keuangan yang kembali mengalami surplus sehingga mampu menutupi sebagian dari defisit transaksi berjalan yang membesar,” kata Direktur Eksekutif Kepala Departemen Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat BI Dody Budi Waluyo di Jakarta.

Menurut Dody, dengan perkembangan tersebut, jumlah cadangan devisa pada akhir Maret 2012 menjadi USD110,5 miliar atau 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Doddy melanjutkan, selama kuartal satu lalu, transaksi modal dan finansial surplus USD2,2 miliar setelah pada akhir tahun lalu defisit USD1 miliar. Selain itu, investasi portofolio asing juga mengalir yang sebagian besar dalam bentuk pembelian surat berharga negara berdenominasi valuta asing yang juga diikuti pembelian saham dan surat berharga swasta. "Selain itu, investasi langsung asing (PMA) dan penarikan utang luar negeri swasta masih meningkat yang didukung iklim investasi yang kondusif dan stabilitas makroekonomi yang terjaga," lanjutnya

Di sisi lain, defisit transaksi berjalan pada tiga bulan pertama tahun ini meningkat menjadi USD2,9 miliar (-1,3% dibandingkan defisit USD1,6 miliar pada triwulan IV lalu).

Pelebaran defisit ini, menurut BI, dipicu meningkatnya permintaan domestik, terutama kebutuhan investasi, yang membuat impor tumbuh relatif tinggi di kala permintaan global terhadap komoditas ekspor Indonesia yang melemah dan harga komoditas nonmigas yang turun. "Di samping itu, produksi minyak mentah yang terus berkurang, di tengah masih tingginya konsumsi BBM dan meningkatnya harga minyak di pasar internasional mengakibatkan nilai impor minyak semakin membesar," ucapnya

Transaksi modal dan finansial pada triwulan I-2012 mencatat surplus sebesar US$ 2,2 miliar setelah pada triwulan IV-2011 mengalami defisit US$1 miliar. Investasi portofolio asing kembali mengalir, sebagian besar dalam bentuk pembelian surat berharga negara berdenominasi valuta asing, diikuti oleh pembelian saham dan surat berharga swasta, seiring persepsi pasar yang positif terhadap perekonomian domestik.

Selain itu, investasi langsung asing (PMA) dan penarikan utang luar negeri swasta masih meningkat dengan didukung oleh iklim investasi yang kondusif dan stabilitas makroekonomi yang terjaga.

Di sisi lain, defisit transaksi berjalan pada triwulan I-2012 meningkat menjadi US$ 2,9 miliar (-1,3% terhadap PDB) dibandingkan defisit US$ 1,6 miliar (-0,7% terhadap PDB) pada triwulan IV 2011. “Pelebaran defisit tersebut dipicu oleh meningkatnya permintaan domestik, terutama untuk kebutuhan investasi, yang menyebabkan impor masih tumbuh relatif tinggi,” pungkasnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

Ekonomi Global Membaik Ditandai dengan Surplusnya Neraca Perdagangan

      NERACA   Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, kinerja sektor perdagangan nasional yang membaik…

Mata Uang Digital Dilarang Sebagai Alat Pembayaran

  NERACA Jakarta -  Bank Indonesia memperingatkan bahwa mata uang digital (virtual currency) termasuk bitcoin dilarang digunakan sebagai alat pembayaran…

Hyundai Bidik 4,68 Juta Kendaraan Terjual Pada 2018

Hyundai Motor menargetkan penjualan sebanyak 4,68 juta unit kendaraan secara global pada 2018, menurut produsen mobil asal Korea Selatan. Target…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Rucika Ingin Lebih Kuat Di Industri Perpipaan - Kaloborasi dengan Mitra Internasional

    NERACA   Jakarta – PT Wavin Duta Jaya yang merupakan produsen pipa PVC dengan produknya Wavin dan Rucika,…

Kementan Diminta Jujur Ungkap Data Pangan

      NERACA   Jakarta - Anggota Komisi IV DPR RI Ichsan Firdaus meminta Kementerian Pertanian jujur soal data…

Ekonomi 2018 Diprediksi Mampu Tumbuh Minimal 5,1%

      NERACA   Jakarta - Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira menilai…