Potret Buram Pelabuhan

Jumat, 18/03/2011

Kondisi pelabuhan Merak- Bakauheni, yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Sumatera lewat Selat Sunda, belakangan ini semakin dihantui kemacetan yang luar biasa. Sebagai pelabuhan penyangga mobilitas barang dan orang antara dua pulau besar itu, tidak bisa dibiarkan terus menerus begitu, apalagi terkait program koridor ekonomi kedua provinsi tersebut.

Pelabuhan Merak, di Kota Cilegon, Banten, telah lama menjadi urat nadi ekonomi yang menghubungkan Jawa dan Sumatera, dengan melintasi Selat Sunda. Setiap hari, ratusan feri belayar menyeberangi Selat Sunda menuju Pelabuhan Bakauheni di Lampung, Sumatera, dan sebaliknya.

Feri-feri ini melayani berbagai jenis kendaraan, mobil-mobil pribadi, bus penumpang antarkota, antarprovinsi. Jarak tempuh perjalanan Merak-Bakauheni dengan feri adalah sekitar dua jam. Sebagai salah satu kota pelabuhan paling sibuk, Merak sepertinya tak pernah tidur. Maklum, di situlah terjadi melting pot, pertemuan antarberbagai manusia dengan latar belakang budaya yang beraneka ragam serta berbagai aktivitas. Mereka menyatu di tengah lalu lintas barang dan kendaraan.

Namun, apa kenyataan Pelabuhan Merak-Bekauheni dalam beberapa pekan belakangan ini sering didera kemacetan yang luar biasa. Kendaraan harus mengular sampai belasan kilometer dan mengantre berhari- hari sebelum bisa terangkut kapal menuju Pulau Sumatera. Begitu pun situasi yang sama di Bakauheni, Lampung Selatan.

Otoritas pelabuhan sedikitnya telah berhasil mengurangi penumpukan ribuan kendaraan di sana, antara lain dengan mendatangkan kapal-kapal bantuan milik TNI Angkatan Laut dan Kementerian Perhubungan. Namun, tetap saja itu merupakan solusi sesaat. Merak membutuhkan solusi cepat dan strategis agar pelabuhan ini benarbenar tetap berfungsi sebagai urat nadi utama koridor ekonomi Sumatera-Jawa.

Fakta tertahan dan tersendatnya ribuan kendaraan di Pelabuhan Bakauheni-Merak bukanlah hal baru lagi. Pemandangan seperti itu sudah terjadi sejak bertahun-tahun lalu. Saking seringnya terjadi, penumpuk penumpukan ribuan kendaraan di Merak-Bakauheni kemudian sudah dianggap hal biasa, bukan masalah lagi.

Tapi, perhatian kita harus kembali terbetot ke peristiwa rutin itu. Masalahnya, kini kemacetan semakin parah. Pada masa lalu, kemacetan di Merak- Bakauheni hanya terjadi pada momenmomen tertentu, saat menjelang mudik Lebaran dan masa libur panjang. Apa yang terjadi di Merak-Bakauheni, sekarang rasanya makin meneguhkan keyakinan kita betapa buruknya infrastruktur di negeri ini.

Kemacetan Pelabuhan Merak menyingkapkan betapa lemahnya perencanaan dan pengelolaan dari aparat birokrasi. Kita tidak dapat mengerti bagaimana sesungguhnya konsep dan program PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) dalam mengelola Pelabuhan Merak-Bakauheni.

Sebagai pelabuhan menyanggga mobilitas barang dan orang antara dua pulau besar, Jawa dan Sumatera, peranannya bukannya terus ditingkatkan, sebaliknya, justeru semakin hari semakin merosot. Padahal, kian bertambah waktu, permintaan pengiriman barang ke Sumatera bertumbuh pesat. Otomatis terjadi lonjakan jumlah truk dari Jawa yang hendak menyeberang ke Sumatera.

Kalau kondisi tersebut tidak segera diatasi, dalam beberapa tahun ke depan Pelabuhan Merak-Bakauheni tidak akan mampu lagi menampung laju pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi di Lampung dan Banten. Salah satu solusi “instan” yang cukup

mujarab untuk mengatasi kemacetan Pelabuhan Merak-Bakauheni adalah meremajakan kapal-kapal feri. Namun, itu tidak cukup. Pemerintah harus berani memotong rantai oligopoli pengelolaan kapal oleh segelintir perusahaan swasta.