Kelas Menengah Naik Berpotensi Ciptakan Pengangguran

Jumat, 18/03/2011

Kelas Menengah Naik Berpotensi Ciptakan Pengangguran

Jakarta--Potensi membengkaknya angka penganguran makin terlihat dalam 10 tahun mendatang. Namun demikian bertambahnya jumlah penduduk itu, juga mendorong kenaikan Jumlah penduduk yang berpenghasilan USD10-USD20 per hari. "Bahkan diperkirakan potensi kelas menengah ini akan mengalami kenaikan lima kali lipat, sehingga membutuhkan lapangan kerja baru yang sesuai," kata Direktur Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) Roy Sembel di Jakarta,Kamis 17/3

Menururnya, Potensi Kenaikan jumlah penduduk ini akan mengakibatkan membuat pengangguran terus bertambah (high unemployment). Apalagi pertumbuhan penduduk diprediksi akan tetap terpusat dan terus berkembang di pulau Jawa. "Potensi pengangguran cukup tinggi, apalagi di Jawa,"tambahnya.

Di sisi lain, ketersediaan energi juga diprediksi belum bisa digunakan secara maksimal, seperti listrik serta distribusi bahan bakar minyak. Kemudian proyeksi inflasi bisa mencapai 6,5%. "2011, perkiraan BI rate, inflasi diperkirakan 6,5%, bisa juga di atas perkiraan. pertumbuhan PDB-nya 6,5% bisa lebih kalau tidak ada hal yang mengguncang," pungkasnya

Kemarin, Bank Dunia juga sudah memperingatkan kepada Indonesia. Bahkan analisanya memperkirakan jumlah kelas menengah Indonesia bertambah sekitar 7 juta jiwa sejak 2003-2010. Oleh karena itu pemerintah diminta menyusun kebijakan strategis untuk menghadapi kelas menengah tersebut. "Karena itu Pemerintah Indonsia harus mampu menyusun kebijakan jangka menengah yang mampu memenuhi permintaan-permintaan tersebut," kata Direktur Bank Dunia untuk Indonesia, Stefan Koeberle.

Lebih jauh Koeberle menambahkan 7 juta jiwa itu masuk menjadi kelompok berpenghasilan menengah bawah setiap tahun sejak 2003. Alasanya hal itu merujuk kepada masyarakt dengan pengeluaran yang berkisar 2-20 dolar AS atau setara Rp 17.600-Rp 176.000 per hari per kapita.

Yang jelas, lanjut Korberle, selama 10 tahun terakhir jumlah kelas menengah di Indonesia tumbuh pesat. Posisi ini sebagai akibat kebijakan Pemerintah yang mendukung pertumbuhan inklusif yang bertujuan memangkas ketimpangan antar kelas. Namun, kebijakan ini terancam oleh tingginya harga komoditas seperti minyak mentah dan bahan pangan.

Oleh karena itu, Koeberle memprediksi kelas menengah ini akan lebih banyak mengonsumsi dan mau membayar lebih tinggi untuk pelayanan yang prima di masa depan. "Melihat ke depan, bertambah besarnya kelas menengah Indonesia akan mengakibatkan perubahan yang mendalam," paparnya.

Bank Dunia mencatat, harga komoditas dunia terus meningkat. Banyak di antaranya yang telah sebanding atau lebih tinggi dari nilai tertingginya pada 2008. Contohnya, harga energi saat ini 28 persen lebih tinggi year on year sampai Februari lalu. Sementara, komoditas pangan naik 17 persen dibandingkan harga tertinggi pada 2008.

Koeberle mengatakan, peningkatan harga minyak akan menjadikan biaya subsidi menjadi lebih tinggi yang hanya menguntungkan masyarakat yang lebih mampu, termasuk kelas menengah tadi. Dia menyambut baik rencana Pemerintah memperbaiki target subsidi ini. "Hal ini akan memberikan ruang untuk membiayai bantuan sosial untuk masyarakat miskin dan rentan," ucapnya. **cahyo