"Derajat Kemanfaatan" Perbankan Syariah

Kamis, 17/03/2011

VIEW

“Derajat Kemanfaatan” Perbankan Syariah

Oleh Walidi

Direktur Amanah Syariah Solution

Dinamika perbankan syariah di Indonesia mulai mendapat tantangan yang cukup significant. Salah satunya, adalah menjaga laju pertumbuhan pembiayaan dengan kinerja terutama menekan pembiayaan bermasalah. Berdasarkan data statistik pembiayaan bermasalah bank-bank syariah relatif meningkat di semua sektor ekonomi. Namun angkanya belum melebihi batas psikologis 5%. Non-Performing Financing (NPF) gross perbankan syariah per-Oktober 2010 mencapai 3,95%.

Tantangan lain yang tak kalah penting, misalnya pembiayaan perbankan syariah masih terkonsentrasi menggunakan akad berisiko kecil yaitu produk-produk berbasis jual beli serta masih berada pada sektor-sektor ekonomi yang belum bervariatif, yaitu masih dominan berada pada sektor jasa dan perdagangan. Meski laba perbankan syariah mulai menggembirakan, sepanjang tahun lalu diperkirakan mencapai Rp1,05 triliun.

Sementara dari sisi pembiayaan, perbankan syariah selama 2010 telah menyalurkan Rp68,18 triliun. Capaian itu meningkat 45,41% dibandingkan dengan realisasi pada 2009 yang mencapai Rp46,88 triliun. Adapun, tingkat pembiayaan bermasalah (non performing financing) mencapai Rp2,06 triliun atau 3,02%. Untuk pengumpulan dana pihak ketiga (DPK), perbankan syariah bisa meraih Rp76,03 triliun pada 2010 atau meningkat 45,46% dengan tingkat pertumbuhan aset perbankan syariah pada 2010 menembus Rp100 triliun.

Kebijakan pajak berupa Tax neutrality yang ditetapkan dalam UU PPN yang baru, arah kebijakan pengembangan perbankan syariah yang tertuang dalam UU Perbankan Syariah dan membaiknya country risk serta perekonomian makro secara perlahan mulai berpengaruh positif bagi industri perbankan syariah nasional.

Secara umum kondisi kondusif telah berhasil menarik minat investor baru untuk masuk ke industri perbankan syariah. Pada tahun 2010 ini saja berdiri 5 BUS baru, sehingga total BUS kini menjadi 11 bank. Dari 5 BUS baru ini, 3 bank berasal dari pelaku atau investor baru sedangkan sisanya merupakan konversi dari UUS yang telah ada.

Bank Indonesia yang membuat skenario pertumbuhan perbankan syariah nasional dalam klasifikasi pesimis, moderat dan optimis dengan masing-masing proyeksi 35%, 45% dan 55%, cukuplah beralasan berdasarkan perkembangan internal industri dan kecenderungan masa yang akan datang. Pertumbuhan aset perbankan syariah nasional YoY per-Oktober 2010 mencapai 44%, atau lebih tinggi dari pada tahun lalu.

Diluar perkembangan fisik yang terlihat ini, diharapkan pada tahun-tahun mendatang perkembangan industri perbankan syariah nasional juga semakin memperlihatkan keberkahannya berupa kemanfaatan bagi masyarakat dhuafa. Oleh karena itu, mungkin sebaiknya diperkenalkan pula variabel atau angka perkembangan berupa derajat kemanfaatan ini sebagai parameter kemanfaatan perbankan syariah nasional bagi masyarakat yang selama ini tidak terjangkau oleh industri perbankan yang terbilang mapan.